Beranda Tulisan Feature 40 Tahun, Mengais Rezeki di Ujung Jarum Sepatu

40 Tahun, Mengais Rezeki di Ujung Jarum Sepatu

BERBAGI
Syahril Saputra, 50, dengan sangat lihai memainkan ujung jarum menusuk tapak sepatu milik pelanggannya, Minggu (03/11/2019). (Foto/Zammil)

“Ikhlas dan bersyukur menjadi modal dasar saya menekuni pekerjaan ini. Jadi berapa pun hasilnya membuat saya senang”

Calang — Tangannya terlihat lincah memainkan jarum melubangi satu tapak sepatu ke tapak sepatu atau sandal lainnya. Barang-barang yang sudah rusak itu pun dalam beberapa jam atau beberapa hari, sudah bisa digunakan lagi.

Di usia yang memasuki 50 tahun, Syahril Saputra, selalu setia menunggu pelanggannya. Hampir setiap hari, dia duduk di kursi di lapaknya berupa trotoar jalan di sudut kota Calang, Aceh Jaya. Letak lapaknya itu hanya di batasi pagar kuburan.

Berteduh di bawah terpal berwarna orange, Syahril mengais rezeki sebagai penjahit sepatu dan sandal. Meski pekerjaan itu melelahkan, tapi tak jarang terlihat, dia mengerjakannya sambil tersenyum. Siapa sangka, dia sudah menekuni kerajinan jahit sepatu ini selama 40 tahun.

Syahril telah melakoni pekerjaan sebagai penjahit sepatu sejak menduduki kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Dia melakukan kegiatan itu semula karena membantu ekonomi keluarga. Hingga akhirnya Syahril memutuskan berhenti sekolah di usia 10 tahun, dan pilihannya hanya mampu menekuni profesi sebagai penjahit sepatu.

“Saya sangat menikmati pekerjaan ini. Jika dibilang cukup, tidak juga,” tutur Syahril kepada waspadaaceh.com, Minggu ( 03/11/2019). Di sela kesibukannya menata letak sepatu yang menjadi santapan jarum jahit tangan miliknya, pria berperawakan mungil tapi bertubuh sedikit kekar ini, masih sempat berbincang dengan waspadaaceh.

Menurutnya, setiap apa pun usaha harus diawali dengan niat yang baik serta ikhlas dalam menerima hasilnya.

“Ikhlas dan bersyukur menjadi modal dasar saya menekuni pekerjaan ini. Jadi berapa pun hasilnya membuat saya senang. Sehari saya memiliki penghasilan kisaran 50 ribu bahkan bisa 100 ribu. Tergantung dari banyaknya pelanggan yang datang,” pungkas pria yang menafkahi istri dan seorang anak yang kini duduk di kelas 6 SD.

Matahari mulai condong ke barat. Tersentak, sebuah kisah masa lalu diurai. Kenangan bercampur haru pun mulai mengisi obrolan kecil dengan wartawan pada petang itu.

“Sebelum tsunami Aceh, saya pernah menjabat sebagai ketua serikat penjahit sepatu Aceh. Anggotanya hampir 120 penjahit di wilayah Banda Aceh,” ungkapnya seraya mengenang masa lalu.

“Namun, tsunami telah memisahkan mereka (anggota) dengan kehidupan saya. Mereka telah tiada,” sambungnya dengan nada lirih. Dia sepertinya mengingat kembali masa lalunya.

“Setelah kejadian itu, saya bersama istri dan anak memutuskan untuk menyusul adik kandung saya yang sudah lama berdomisili di Aceh Jaya,” lanjutnya kembali. Dia seolah mengisyaratkan agar cerita kenangan kelam itu diakhiri.

Syahril bersama keluarganya sudah lama menumpang tinggal di rumah milik adik kandungnya di Desa Ketapang Kecamatan Krueng Sabee. Hingga saat ini, Syahril masih berstatus warga Labuhan Haji, Aceh Selatan, dan sedang berupaya mengurus perpindahan untuk menjadi warga setempat. (Zammil).

BERBAGI