Beranda Laporan Khusus Ekspor CPO Perdana ke India, Merajut Kembali Kejayaan Aceh

Ekspor CPO Perdana ke India, Merajut Kembali Kejayaan Aceh

BERBAGI
Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, pada acara Launching Perdana CPO Aceh di Pelabuhan Calang, Kamis (17/10/2019). (Foto/Zammil).

“Ekspor produk CPO langsung dari Aceh ke India sebagai indikator ekonomi Aceh akan semakin tumbuh. Momentum hari ini bukan lokal dan nasional tetapi momentum global sebagai salah satu titik ekpor dunia”

— Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah —–

Secara geografis, Provinsi Aceh yang berada di ujung utara Pulau Sumatera, berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia yang merupakan perairan tersibuk di dunia. Lebih dari 80 persen perdagangan minyak dunia melewati perairan ini. Dalam dua puluh tahun terakhir, lalu lintas kapal di perairan ini meningkat di atas 300 persen (Sergei DeSilva-Ranasinghe, 2011 & Santikajay, Awidya, 2014).

Sementara kerjasama perdagangan antara Indonesia dan India, berada di bawah kerangka kerjasama ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA). Di lingkup ASEAN, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar India. Investasi India terus mengalami peningkatan di Indonesia.

Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan India, total perdagangan antara Indonesia dan India pada tahun 2017 mencapai US$ 20,03 miliar. Indonesia mengalami surplus dalam perdagangan dengan India pada tahun 2017 sebesar US$ 12,47 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 36% dari tahun 2016. Komoditas unggulan Indonesia adalah CPO dan batu bara (Laporan BPPK Kemlu RI).

Konektivitas Ekonomi Aceh – India

Sebenarnya jauh sebelumnya, yaitu sejak abad ke-12 M telah terjadi hubungan dagang antara saudagar India dengan saudagar Aceh. Pada abad tersebut para saudagar dari Madras (Chennai) dan Kalkuta, India, sering singgah dan berdagang di Nusantara.

Aceh yang berada di ujung utara Pulau Sumatera, berhadapan langsung dengan perairan Samudera Hindia yang merupakan perairan tersibuk di dunia. Lebih dari 80 persen perdagangan minyak dunia melewati perairan ini. Dalam dua puluh tahun terakhir lalu lintas kapal di perairan ini meningkat di atas 300 persen (Sergei DeSilva-Ranasinghe, 2011 & Santikajay, Awidya, 2014).

Di sebelah utara Aceh (Indonesia) terdapat Kepulauan Andaman & Nicobar (India). India saat ini merupakan negara terkuat secara ekonomi dan militer di Samudera Hindia dan aktif dalam meningkatkan kerjasama dengan banyak negara, terutama dengan negara-negara anggota ASEAN. Hal ini sebagai bentuk antisipasi dari pengaruh Tiongkok yang telah lama aktif menjalin kerjasama dengan negara-negara di Kawasan Asia Tenggara.

Sebagaimana dikutip dari tulisan Teuku Cut Mahmud Aziz di Waspadaaceh.com, 1 Februari 2019 (Merajut Kembali Konektivitas Indonesia [Aceh & Sumatera] dan India), disebutkan, sejarah pada abad ke-12 M, tidak berlanjut berabad-abad lamanya (Idris, Amiruddin, Abdul Rahman, Nurdin, & Mahmud Aziz, Teuku Cut, 2015).

Tapi kemudian hubungan sejarah yang terputus berabad-abad lamanya itu, kembali terajut melalui keberangkatan kapal eskpedisi perdana Aceh, yakni Kapal Motor (KM) Aceh Millenium, yang membawa sampel komoditas Aceh dari Pelabuhan Malahayati menuju Pelabuhan Port Blair. Kapal motor dengan kapasitas 150 ton difasilitasi Kemlu RI dan di bawah koordinasi KADIN Aceh, tiba di Port Blair, Ibukota Kepulauan Andaman & Nicobar pada 4 Januari 2018.

Terbukanya peluang hubungan dagang ini tidak terlepas dari semangat dan visi Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri India, Narendra Modi ketika PM India berkunjung ke Jakarta pada 29-30 Mei 2018 dengan menandatangani MoU dan Shared Vision.

Di Aceh sendiri, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, mengimplementasikan program itu dengan membuka dan memperlancar kembali jalur-jalur ekonomi yang selama ini “tersumbat,” baik di wilayah Aceh sendiri, antar provinsi tetangga, antar pulau mau pun konektivitas ekonomi ke luar negeri, termasuk India.

Pengembangan konektivitas memang telah menjadi salah satu prioritas Pemerintah Aceh, sebagaimana telah disampaikan Nova Iriansyah, kala memimpin Delegasi Republik Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri dan Gubernur (CMGF) dalam Kerjasama Segitiga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Malaysia, Thailand (IMT-GT), September 2019, di Thailand.

Ekspor CPO Langsung Perdana ke India

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, pada Kamis (17/10/2019), melepaskan ekspor perdana CPO sebanyak 4.900 Metrik Ton senilai USD 2.346.250,00 ke Pelabuhan Krishnapatnam, India, dengan menggunakan Kapal Mekong Trans dari Pelabuhan Calang, Aceh Jaya.

Menurut Nova, ekspor produk CPO langsung dari Aceh ke India itu sebagai indikator ekonomi Aceh akan semakin tumbuh. “Momentum hari ini bukan lokal dan nasional tetapi momentum global sebagai salah satu titik ekpor dunia,” ungkapnya.

Ekpor ini juga menjadi catatan penting bagi Aceh, dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi serta membuka lapangan kerja bagi semua kalangan.

Bupati Aceh Jaya, Teuku Irfan TB menyampaikan, jika ekspor hari ini adalah pengulangan masa lalu, di mana dari pantai Aceh Jaya pernah dilayari kapal dalam negeri dan luar negeri.

“Pelabuhan ini bukan hanya digunakan oleh masyarakat Aceh Jaya tapi seluruh kabupaten/kota yang ada di Barsela,” ungkap Bupati.

Bupati juga siap bila Aceh Jaya ditunjuk menjadi Kawasan Ekonomi Khusus atau Kawasan Industri Terpadu.

Sementara Staf Khusus Gubernur Aceh, Iskandar, berharap apa yang telah disampaikan oleh Bupati Aceh Jaya dapat di-follow up oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan.

“Sudah waktunya Kementerian bergerak lebih cepat untuk membangun infrastruktur pelabuhan. Kita bisa membayangkan, bagaimana hebatnya Aceh jika semua pelabuhan Aceh hidup total (beroperasi dan produktif). Tentu CAD (current account deficit) atau defisit transaksi berjalan BI akan stabil. Peningkatan ekpor hilirisasi adalah target Pemerintah Aceh – Kadin. Kadin Aceh memastikan Insya Alah setelah Pelabuhan Calang akan diikuti Krueng Geukeuh, Kuala Langsa dan pelabuhan lainnya,” kata Iskandar.

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, saat launching ekspor CPO dari Pelabuhan Calang menyampaikan jika pergerakan komoditi kelapa sawit di kawasan Barat Selatan (Barsela) menjadi dasar pertimbangan untuk menghadirkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri Terpadu (KIT).

Sebelumnya Nova juga telah mempromosikan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Bear, KEK Arun dan beberapa rencana pembukaan Kawasan Ekonomi Khusus di Kabupaten Aceh Jaya, kawasan dataran tinggi Gayo, Blangpidie, Nagan Raya dan beberapa daerah lainnya.

Ketua Umum Kadin Aceh, Makmur Budiman, kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (19/10/2019), mengatakan, ekspor perdana CPO dari Calang, telah mengulang sejarah gemilang Aceh, dan telah memotong mata rantai pemasaran, yang selama ini masih bergantung dengan Belawan, Sumatera Utara.

“Harapan Kadin bersama pemerintah daerah, ke depan semua pelabuhan di Aceh perlu diaktifkan sehingga menciptakan efisiensi atau penghematan. Semoga ekspor langsung ini menjadi multiplier di mana-mana dan mampu mengatasi defisit neraca perdagangan secara bertahap,” kata Makmur.

“Mudah-mudahan sejarah perdagangan Aceh dengan India bisa dibangkitkan kembali, dan akan berangsung secara reguler. Itu dimungkinkan karena jarak angkut dari Aceh ke India sangat berdekatan dibanding dengan daerah lain. Kadin Aceh sedang dan sudah menjajaki serta melakukan survey ke India untuk menginventaris komoditi-komodiri yang bisa diekspor ke India, selain CPO,” lanjut Makmur.

Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, Pemerintah Aceh memang berupaya “menggenjot” sektor ekonominya, sebagai langkah untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tergolong tinggi.

Beberapa langkah yang dilakukan Nova, antara lain membangun dan memperlancar konektivitas hingga ke daerah pedalaman Aceh. Misalnya membangun jembatan Lesten, yang akan menghubungkan Kabupaten Gayo Lues dengan Aceh Tamiang, jembatan Sikundo di Aceh Barat, dan pembangunan jembatan dan ruas jalan di beberapa daerah lainnya di Aceh.

Di tataran internasional, pada bulan September 2019, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memimpin delegasi Indonesia pada Pertemuan Tingkat Menteri dan Gubernur (CMGF) dalam Kerjasama Segitiga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT) ke-16 yang berlangsung pada 11-13 September 2019 di Krabi, Thailand.

Nova menegaskan, dalam menghadapi tantangan yang dimaksud, pemerintah daerah yang merupakan anggota dari IMT-GT harus meningkatkan kerja sama dan koordinasi dengan pemerintah pusat, sektor swasta, universitas, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Saya optimis bahwa dengan upaya bersama, IMT-GT memiliki potensi besar untuk menjadi tujuan investasi utama. Kita juga perlu meningkatkan kegiatan pada koridor ekonomi yang telah dibentuk. Seperti contoh koridor ekonomi Ranong-Phuket-Aceh yang mempunyai banyak potensi di segi industri pariwisata, industri dan perdagangan,” ujar Nova.

Rasa optimis Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, juga disampaikan melihat potensi kerja sama antara negara dan provinsi sangat besar dalam meningkatkan kerja sama pengembangan pertanian, pariwisata, perdagangan dan investasi. Pembangunan infrastruktur serta pengembangan sumber daya manusia.

Semoga saja apa yang telah dicapai Provinsi Aceh ini menjadi motivasi bagi seluruh rakyat “Tanah Rencong,” untuk membangkitkan kembali masa kejayaan Aceh dalam percaturan ekonomi gelobal, salah satunya dengan merajut kembali hubungan ekonomi Aceh – India. Semoga. (Adv)

BERBAGI