Beranda Laporan Khusus Menyusuri Rimba, Mencari Jejak Peradaban Syekh Abdul Razaq di “Kota yang Hilang”

Menyusuri Rimba, Mencari Jejak Peradaban Syekh Abdul Razaq di “Kota yang Hilang”

BERBAGI
Tim cagar budaya menyusuri hutan dan semak belukar di lokasi peradaban "kota yang hilang" Singkil Lama. (Foto/Arief Helmy)

“Tercatat dalam sejarah, pada 12 Februari 1861 Kota Singkil pernah hancur karena dilanda gempa bumi tektonik. Disusul gelombang yang sangat dahsyat. Sejak itu kota ini ditinggalkan warganya”

Laporan: Arief Helmy

Cuaca siang itu terasa terik. Air laut yang beberapa jam sebelumnya naik pasang, tampak perlahan mulai surut. Sejumlah perahu kayu bermesin tampak tersusun rapi di Tangkahan Bengkolan, di bawah jembatan Desa Ujung Singkil.

Pada hari Selasa (1/10/2019) itu, dua nelayan dan seorang penunjuk jalan bersiap-siap mengeluarkan perahu mesin dari tambatan di Tangkahan Bengkolan. Perahu ini akan membawa kami menuju Singkil Lamo (bahasa kampung artinya Singkil Lama). Suatu peradaban yang mendapat julukan sebagai “kota yang hilang”.

Tercatat dalam sejarah, pada 12 Februari 1861 Kota Singkil pernah hancur karena dilanda gempa bumi tektonik. Disusul gelombang yang sangat dahsyat. (Sumber Buku auto Biografi Moehammad Saleh,1965). Disebutkannya, (Moehammad Saleh) geloro atau gelora (gerakan gelombang yang hebat) atau tsunami, menghantam Kota Singkil, saat dia belum lama kembali ke Pariaman dari Singkil, dalam pelayaran dagangnya tahun 1861.

Untuk menelusuri itu, Tim Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil, dengan menaiki perahu kayu bermuatan 11 penumpang berangkat menyusuri Sungai Lae Alas Singkil menuju Singkil Lama atau “kota yang hilang.”

Makam Syekh Abdul Razaq di Singkil Lama. (Foto/Arief Helmy)

Sekitar 60 menit perjalanan perahu yang agak sedikit sesak itu, tiba di Banda Datuk atau simpang, terus memasuki alur sempit yang diapit hutan Nipah dan bakau yang lebat.

Tekong perahu pun terlihat kesulitan saat memasuki alur sempit sejauh sekitar 300 meter, karena harus membersihkan dan memotong pelepah Nipah yang menghalangi lintasan perahu. Mereka terpaksa mendorong perahu sejauh sekitar 20 meter mendekati daratan, bekas peninggalan tempat pemakaman umum (TPU) Kota Singkil Lama. Kaki mereka pun sering kali terperosok lumpur hingga sedalam paha.

Dari situ terlihat pondok yang sudah dipugar, sebagai naungan makam Syekh Abdul Razaq. Di sekitaran makam tersebut juga terlihat masih berdiri batu nisan tempo dulu.

“Bukan hanya puluhan makam, tapi ada ribuan makam di sini. Karena ini memang TPU pada waktu masih dihuni masyarakat sekitar 7 abad yang lalu,” kata Mufkirul, salah satu warga Kilangan yang sedikit mengerti cerita tentang perkampungan di masa kejayaan Singkil Lama itu.

Menyusuri Sungai Lae Alas menuju lokasi jejak peradaban Makam Syekh Abdul Razaq di “kota yang hilang” Singkil Lama. (Foto/Arief Helmy)

Tidak banyak yang tau kisah perjalanan Syekh Abdul Razaq dan sejarah kejayaan Kota Singkil Lama. Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, Singkil Lama merupakan daerah pusat kerajaan yang pengembangan daerahnya dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda.

“Singkil Lama ini dulu merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan terbesar,” sebutnya

Sementara sumber yang dikutip dari tulisan Muhajir Al Fairusy, peneliti sejarah dan budaya (sebagaimana dikutip dari Acehtrend), yang mengamati kaligrafi di batu nisan makam itu, bertuliskan “Almarhum Abdurrahib (Rajab) bin Abdullah, berpulang pada 3 Zulqaidah 1313 H.” (16 April 1896 M). Besar dugaan, pemilik makam adalah penganut tarekat Syattariah dan seorang guru agama Islam di sana.

Sumber lainnya yang belum diketahui persis kebenarannya, Singkil Lama ditinggalkan masyarakat ke lokasi sekarang sekitar tahun 1.869 Masehi, akibat disapu Galoro atau gelombang tinggi air laut (tsunami) yang menyebabkan daratan menjadi turun, beber Mufkirul.

Tim cagar budaya menunjukkan bukti bata yang ukurannya lebih besar, sebagai bukti adanya peradaban di Singkil Lama. (Foto/Arief Helmy)

Kabid Budaya Dinas Pendidikan Aceh Singkil, M.Najur bersama Kasi Cagar Budaya dan Permusiuman, Maya Seroja, bersama rombongan, warga Kilangan turun langsung ke lokasi Makam Syekh Abdul Razaq, pada Selasa (1/10/2019), untuk melihat lokasi awal peradaban masyarakat di Kota Singkil, pada abad ke-18 silam.

Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan membentuk tim cagar budaya, untuk melakukan penelusuran sekaligus pendataan, mencari bukti-bukti peninggalan situs salah satu peninggalan sejarah di Singkil Lama.

M.Najur menyebutkan, Makam Syekh Abdul Razaq telah tercatat dalam Situs Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayan RI. Namun sayangnya Pemkab Aceh Singkil belum mengeluarkan Perbup (Peraturan Bupati) penetapan sebagai situs cagar budaya di Aceh Singkil.

Berdasarkan data pokok Kemendikbud RI, makam Syekh Abdul Razaq tercatat masuk dalam Pemerintahan Desa Kayu Menang Kecamatan Kuala Baru.

“Setelah kami turun langsung ke lokasi bekas Kota Singkil Lama dan Makam Syekh Abdul Razaq, ada bukti-bukti yang menunjukkan bekas peradaban peninggalan sejarah. Ada pecahan piring kaca, bata dan pondasi bekas bangunan rumah lama. Namun sayangnya lesung batu yang disebutkan bukti sejarah lainnya, belum berhasil ditemukan berhubung cuaca mulai gelap dan hujan pun mulai turun,” kata M.Najur.

Dengan dilakukannya identifikasi itu, kedepan bisa menjadikan makam tersebut menjadi situs sejarah dan perlu dikeluarkan SK penetapan sebagai cagar budaya oleh Bupati Aceh Singkil ke tingkat nasional, ucap Najur.

“Harapannya nanti bisa didukung anggaran untuk pemugaran makam tersebut. Dan masih ada situs sejarah lainnya yang akan diidentifikasi,” beber Najur.

Sementara itu saksi hidup yang disebutkan sebagai keturunan ke-4 Syekh Abdul Razaq, yakni Siti Nurbainah yang kini berusia sekitar 99 tahun, menyebutkan, ayahnya Asnanuddin merupakan cucu dari Syekh Abdul Razaq.

Urutannya Syekh Abdul Razaq memiliki anak yang dikenal dahulu sebagai Imam Jalaludin. Kemudian Imam Jalaludin memiliki anak Asnanuddin (Imam Anan) yang merupakan ayah Siti Nurbainah.

Disebutkannya, Asnanuddin memiliki tiga orang anak, yakni Muktarudin, Nasrudin dan Siti Nurbainah. Sementara Muktarudin dan Nasrudin telah meninggal dunia.
Dengan dialeg bahasa Kampung Singkil, Siti Nurbainah mengaku tidak tau tahun berapa dia lahir dan berapa umurnya saat ini.

“Tidak tau saya tahun berapa lahir, yang jelas saat perang Belanda dan Jepang saya sudah gadis,” ucap uci Siti Nurbainah.

Dikatakannya, Syekh Abdul Razaq (buyutnya) tersebut, menurut cerita dari ayahnya, merupakan seorang guru agama yang mensyiarkan agama Islam ke Kotacane, Aceh Tenggara, maupun Barus, Tapanuli Tengah.

“Banyak dulu yang datang belajar agama ke buyut saya, dia guru Tarikat aliran Satariyah,” tambah Uci Siti.

Syekh Abdul Razaq katanya bermarga Tanjung. Karena keturunan dari Minangkabau Pagaruyung. Gurunya bernama Tengku Manap dan Tengku Susuh orang Mandailing Natal (Madina). “Yang pasang nisan di makam juga muridnya dulu dari Natal (Madina),” ucapnya.

Menurut cerita mamak dan nenek mereka, kata Uci Siti, Singkil Lama dahulu merupakan kota besar yang sangat ramai. Banyak toke Cina atau pedagang Cina hingga ke Teluk Bayur.

Awal mula ditinggalkannya Kota Singkil Lama, disebutkan, setelah seorang warga berkebangsaan Belanda yang tinggal di Singkil Lama, pernah meneropong lokasi Singkil Lama. Orang Belanda itu melihat Kota Singkil Lama sudah rendah dan akan terbenam sehingga mereka meninggalkan kota itu ke lokasi Singkil sekarang ini.

“Tapi orang-orang Cina dulu banyak tokonya, gak tau udah entah kemana sekarang. Termasuk orang Belanda, tiba-tiba hilang aja,” katanya.

Sebelum meninggal, buyutnya sempat berpesan minta kembali ke tanah asalnya, yakni di Singkil Lama. Ketika beliau meninggal, setelah perpindahan seluruh warga dari Singkil Lama ke Singkil yang sekarang ini, para murid dan keluarganya tetap memakamkan Syekh Abdul Razaq di Singkil Lama.

“Cerita bapak saya, buyut saya meninggal tidak ada sakit. Namun saat hendak dibangunkan waktu Subuh, beliau sedang sujud dalam keadaan sudah meninggal,” terangnya.

Banyak kitab peninggalan Syekh Abdul Razaq, akibat gempa dan kemudian sudah tertimbun. Ada Hikayat Peperangan Masa Tengku Halanafiah, namun sudah banyak yang dibakar karena takut kami terpijak dan berdosa, tambah Uci. (**)

  • Arief Helmy adalah jurnalis (wartawan) Harian Waspada di Aceh Singkil
BERBAGI