Beranda Tausiah Membangun Kesadaran Sejarah Islam di Masjid Hudaibiyah

Membangun Kesadaran Sejarah Islam di Masjid Hudaibiyah

BERBAGI
Penulis ketika berada di sekitar Masjid Hudaibiyah, salah satu dari sejumlah tempat yang dipergunakan dan berperan penting sebagai Miqat Umrah. (Foto/Ist)

“Di tempat ini di mana perjanjian Hudaibiyah berlangsung seakan Rasulullah SAW mengajari dan menginspirasi kita, sayogianya semua persoalan dengan cara damai dan jauh dari tindak kekerasan”

Penulis: Makmur Ibrahim

Sangat banyak objek wisata sejarah yang sangat menarik di Makkah dan Madinah. Dalam kesempatan menunaikan ibadah haji tahun ini, penulis bersama rombongan VII Kloter BTJ04, menyempatkan diri berkunjung ke beberapa objek wisata di tanah suci itu, dalam rangka membangun kesadaran sejarah Islam masa lalu.

Salah satu objek sejarah yang saya kunjungi adalah Masjid Hudaibiyah. Terletak sejauh 26 kilometer dari Masjidil Haram, Masjid Hudaibiyah adalah salah satu dari sejumlah tempat yang dipergunakan dan berperan penting sebagai Miqat Umrah. Berbeda dengan bangunan miqat Masjid Tan’im, lokasi miqat di Hudaibiyah sangatlah bersahaja, kecil dan hanya dapat menampung rombongan kecil jamaah saja.

Walaupun sederhana, tetapi bangunan yang luasnya tidak lebih dari 1.000 meter persegi ini mempunyai berjuta makna, terutama dalam tumbuh kembangnya sejarah Islam di kota suci Makkah.

Masjid Hudaibiyah ini terlihat tidak terlampau luas. Luasnya tidak melebihi luas masjid Miqat bir Ali yang mempunyai ratusan toilet dan ruangan untuk berganti pakaian. Masjid ini mempunyai tidak lebih dari empat kamar mandi dan lokasi wudhu nya boleh dikata paling sedikit jika dibandingkan masjid Miqat lainnya. Keberadaan lahan parkir juga tidak seluas Masjid Tan’im maupun Masjid Bir Ali di Madinah.

Kota ini terinspirasi dari nama suatu telaga, yakni telaga Asy-Syumaisi. Kota Hudaibiyah terletak di area perbatasan Tanah Haram yang berjarak dua puluh enam kilometer dari Masjidil Haram. Kota ini adalah pintu masuk untuk umat Muslim dalam memenangkan Fathul Makkah atau Pembebasan Kota Mekah.

Penamaan kota ini terinspirasi dari kisah perjanjian Hudaibiyah yang dilaksanakan oleh Rasululah SAW dengan para Kafir Quraisy.

Kota ini adalah salah satu kota yang sangat relevan dalam sejarah keislaman. Alasan itulah kenapa kota ini tidak jarang menjadi salah satu destinasi jutaan jamaah umrah dan haji dari beberapa negara di dunia setiap tahunnya.

Latar belakang eks bangunan Masjid Hudaibiyah yang lama letaknya di belakang Masjid Hudaibiyah yang sekarang. (Foto/Ist)

Salah satu lokasi bersejarah di Kota Makkah ini terdiri dari wilayah dengan padang pasir yang terhampar luas. Daerah ini pun merupakan area pengembalaan unta dan kambing. Bahkan pemerintah Arab Saudi sedang mengerjakan pengembangan intensif pada area ini supaya menjadi sentra peternakan domba dan unta serta menjadi daya tarik untuk wisatawan.

Di wilayah peternakan di tengah padang pasir ini, jamaah dapat melihat proses pemerahan susu unta dan juga diizinkan untuk menikmati susu khas fauna berpunuk tersebut.

Di tempat inilah terjadi perjanjian Rasulullah SAW dengan Kafir Quraisy, yang kemudian dikenal dalam Sirah Nabaawiyah sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

Peristiwa ini bermula ketika pada Dzulqaidah 6 Hijriah saat Nabi Muhammad SAW akan menunaikan ibadah umrah dengan rombongan besar yang berjumlah 1.500 umat Muslim. Tak semulus apa yang telah direncanakan, rombongan ini malah dicegat oleh kaum Kafir Quraisy. Utsman bin Affan yang dikirim oleh Rasulullah guna berdiplomasi, justeru ditangkap.

Penangkapan Utsman bin Affan menyulut sumpah dari kaum muslimin untuk menyalakan perang. Sumpah guna memerangi Kafir Quraisy itu terjadi di bawah suatu pohon di ambang telaga. Karena kesungguhan dan kebulatan tekad umat Muslim tersebut membuat ciut nyali kaum Quraisy, dan akhirnya melepaskan Utsman bin Affan, dengan tipu daya, mereka berdalih ingin menyelenggarakan negosiasi, yang kemudian menghasilkan sebuah perjanjian yang disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian Hudaibiyah yang sejatinya berlaku hingga 10 tahun, namun ternyata dilanggar oleh kaum Kafir Quraisy sendiri. Namun pengkhianatan inilah yang mengakibatkan kaum Muslim dapat membalasnya dengan penaklukan Makkah (Fathul Makkah) pada tahun 630 M atau 8 Hijriyah. Hanya berjarak 2 tahun dari perjanjian Hudaibiyah

Di wilayah Hudaibiyah ini berdiri sebuah masjid tua yang kini bangunannya tidak utuh lagi. Masjid dengan ketebalan tembok satu hasta dan tinggi sekira tiga meter ini sudah dikata tua, usianya kira-kira 1400 tahun. Masjid ini menyisakan dinding-dindingnya yang tersusun dari batu gunung, tanpa atap. Tersisa tinggal puing-puingnya saja. Sedangkan unsur mihrab masjid justeru masih utuh dan dapat dilihat hingga sekarang.

Masjid tua tersebut tidak lagi dipakai semenjak dibangunnya masjid baru. Banyak yang tidak memahami bahwa puing-puing ini dulunya ialah masjid yang memiliki arti penting sekaligus sebagai saksi saat diselenggarakan perjanjian dengan kaum musyrikin Makkah. Sumpah setia semua sahabat untuk Rasulullah itu dikenal dengan sebutan Bai’aturridwan.

Masjid baru telah dibangun di sebelah masjid tua dan sering dipakai untuk miqat umrah oleh semua peziarah yang akan melaksanakan ibadah umrah. Air wudhu dari masjid baru ini berasal dari suatu sumur tua yang terdapat di sebelah kiri mimbar masjid.

Apapun kondisi tempat bersejarah tersebut saat ini, namun salah satu pesan moral dari tempat ini kepada kita, bahwa dalam menjalani hidup ini tidak dibenarkan menyelesaikan masalah dengan cara kekarasan.

Di tempat ini di mana perjanjian Hudaibiyah berlangsung seakan Rasulullah SAW mengajari dan menginspirasi kita, sayogianya semua persoalan dengan cara damai dan jauh dari tindak kekerasan. (*)

  • Makmur Ibrahim, S.H.,M.Hum, adalah Ka.Kanreg XIII BKN Prov.Aceh/mantan Kabiro Humas dan Hukum Setda Aceh)
BERBAGI