Beranda Inforial Pemerintah Aceh Kemampuan Manajerial Karakter Utama untuk Memimpin BPMA

Kemampuan Manajerial Karakter Utama untuk Memimpin BPMA

BERBAGI
Ketua Panitia Seleksi calon Kepala BPMA, Mahdinur. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Sedikitnya 13 orang dinyatakan lolos verifikasi administrasi sebagai calon kepala Badan Pengelolaan Minyak dan Gas Aceh (BPMA).

Ketua Panitia Seleksi calon Kepala BPMA, Mahdinur, kepada waspadaaceh.com, Rabu (28/8/2019) mengatakan, seluruh peserta yang lolos verifikasi administrasi segera memasuki tahap selanjutnya, yakni tes psikologi.

“Psikotes akan dimulai besok, Kamis dan berlangsung selama dua hari,” kata Mahdinur, yang juga Kadis ESDM Aceh.

Bicara sosok pemimpin BPMA ke depan, Mahdi melanjutkan, diperlukan karakter kepemimpinan yang komunikatif, terutama dengan gubernur dan perangkat pemerintah provinsi, para bupati daerah eksplorasi dan produksi Migas, dan para pimpinan masyarakat serta tokoh informal Aceh.

“Seluruh elemen ini terlibat dan sangat berjasa dalam melahirkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2015 terkait pengelolaan bersama minyak dan gas bumi di Aceh,” kata dia.

Mahdi menyambung, juga sangat penting mampu mengayomi dan memberikan dukungan yang baik kepada perusahaan-perusahaan migas yang sedang beroperasi di Aceh, atau yang mempunyai ketertarikan untuk berinvestasi di Aceh.

Menurutnya, hubungan seorang Kepala BPMA dengan SKK Migas menjadi sangat krusial kerena lembaga tersebut adalah lembaga yang sangat piawai dan berpengalaman mengelola kegiatan usaha hulu migas di Indonesia.

Termasuk dalam hal ini menjalin komunikasi dengan DPR RI (Komisi VII Bidang Energi) dalam perencanaan program, target produksi migas Aceh dan anggaran operasional. Itu baru dari aspek komunikasi.

Secara operasional, seorang Kepala BPMA harus mengetahui secara utuh pengelolaan hulu Migas, mulai dari aspek eksplorasi yang menjadi ujung tombak bagi Aceh untuk mendapatkan sumber-sumber cadangan migas baru. Selain itu, sosok tersebut juga harus mampu mengetahui market intelligence untuk kepentingan komersialisasi migas, baik dalam maupun luar negeri.

“Jika ada temuan cadangan migas yang besar, termasuk mengelola produksi migas sehingga kekecewaan Aceh masa lalu terhadap transparansi produksi dan biaya-biaya terkait tidak terulang lagi,” tegasnya.

Sosok Berpengalaman

Pertanyaan berikutnya, siapa yang releven menjadi “pengemudi” BPMA sebagai lembaga yang diharapkan mampu menjadi lokomotif perekonomian Aceh?

Sekilas jika melihat Kepala BPMA yang pertama, Marzuki Daham yang mendapat madat dari Menteri ESDM selama 2,5 tahun sampai 26 Juli 2018 lalu, adalah seorang yang pernah bekerja selama 25 tahun di Exxon Mobil, Chevron kemudian menduduki jabatan di perusahaan Gas Negara.

Setelah Marzuki Daham mamasuki usia pensiun, kepala BPMA dijabat oleh Azhari Idris yang ditugaskan sementara oleh Menteri ESDM sebagai Pelaksana Tugas. Azhari juga berpengalaman hampir 20 tahun di industri hulu Migas Indonesia sejak dari Unocal Oil and Gas Corporations, Chevron IndoAsia.

Keduanya pernah bekerja di perusahaan minyak Amerika, kemudian sempat berkarir di BP MIGAS dan SKK Migas. Prestasinya, belum satu tahun Azhari Idris sudah mampu menguatkan BPMA dengan tata kelola dan proses bisnis hulu migas di Aceh, lengkap dengan pegawai sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Plt Gubernur dan Tim Seleksi Kepala BPMA tentunya akan sangat berhati-hati dalam menetapkan 3 (tiga) orang calon kepala yang akan dikirim kepada Menteri ESDM, untuk kemudian menjalani fit & proper test lagi di tingkat nasional, sebelum ditetapkan satu orang kepala definitif. (Fuadi)

BERBAGI