Beranda Aceh Fotografi Butuh Perencanaan Matang

Fotografi Butuh Perencanaan Matang

BERBAGI
Abror Riski, Ketika memberikan materi Teknik Pengambilan Gambar, Editing dan Publikasi Kegiatan Pimpinan, pada acara Pelatihan Kehumasan yang diselenggarakan oleh Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Selasa (20/8/2019). (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Bekerja sebagai fotografer terlihat mudah, santai dan keren. Hanya perlu menunggu momen lalu beraksi dan ‘jeprat-jepret’.

“Namun sejatinya tidaklah semudah yang tampak. Seorang fotografer diharuskan sudah memiliki foto, bahkan sebelum acara atau suatu momen terjadi. Oleh Karena itu, perencanaan adalah bagian terpenting dalam fotografi,” kata Abror Riski, fotografi Presiden RI ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono.

Ketika memberikan materi Teknik Pengambilan Gambar, Editing dan Publikasi Kegiatan Pimpinan, pada acara Pelatihan Kehumasan yang diselenggarakan oleh Biro Humas dan Protokol Setda Aceh, Selasa (20/8/2019), dia mengatakan, intinya setiap fotografer harus sudah punya rencana dan konsep sebelum beraksi.

“Seorang potografer harus sudah memiliki rencana dan mengkonsep apa saja momen yang harus direkam dalam jepretan kamera. Jadi, foto harus sudah tercetak meski acara belum berlangsung. Disinilah penting konsep dan perencanaan,” ujar Abror.

Selain itu, sambung Abror, tim humas memiliki keleluasaan lebih, karena kerap dianggap sebagai ‘orang dalam’. Ini menjadi sebuah kemudahan sekaligus tantangan.

“Bila dibandingkan dengan awak media, tim humas memiliki kemudahan akses penuh pada kegiatan-kegiatan pimpinan. Ini tentu menjadi keuntungan dan tantangan tersendiri. Dengan kemudahan tersebut, kita dituntut memiliki hasil foto yang lebih baik, sehingga awak media mendapatkan angle atau sudut pandang lain dari sebuah peristiwa,” sambung Abror.

Untuk memudahkan kerja-kerja di lapangan, Abror juga mengimbau fotografer humas untuk selalu membangun koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

“Selain itu, komunikasi yang baik juga harus dibangun dengan pimpinan daerah. Hal ini juga merupakan bagian dari membangun kepercayaan pimpinan terhadap hasil kerja kita. Buat pimpinan daerah merasa nyaman dengan kejadiran kita. Dan, belajarlah memahami bahasa tubuh pimpinan, jika sudah merasa tak nyaman, maka kita harus berimprovisasi dan mencari angle lain,” pungkas Abror Rizki. (Ria)

BERBAGI