Beranda Life Style Berbincang dengan Ahli Kopi; dari Kulit Kopi, hingga Sensasi Kopi Gayo

Berbincang dengan Ahli Kopi; dari Kulit Kopi, hingga Sensasi Kopi Gayo

BERBAGI
Charis, ketika "menjamu" tiga jurnalis dengan seduhan kopi Arabika di pabriknya. (Foto/Ist)

TANPA terasa sudah berjalan dua jam lebih sesi wawancara dengan Charis, Manager Koperasi Baburrayan, Takengon, Aceh Tengah. Tapi waktu cepat berlalu.

Itulah kalau kopi yang menjadi topik utama, perbincangan bisa memakan waktu berjam-jam. Bila dibiarkan tidak ada habisnya. Konon narasumbernya, sangat kompeten bicara soal kopi, hal hasil pewancara pun merasa sangat puas. Hampir semua kebutuhan informasi berhasil didapat dari wawancara ini.

“Saya bisa jelaskan kopi, dari jenis, varietas, hingga pengelolaan, karena saya juga sedang riset sejumlah produk dari bahan pokok kopi. Setidaknya ada 10 jenis produk yang bisa dikembangkan dari kopi,” ujar Charis.

kepada wartawan Waspadaaceh.com dan KBA.One di “markas” Koperasi Baburayyan, Takengon, Aceh Tengah, Rabu (24/7/2019), Charis mengaku bekerja dengan jaringan koperasi internasional yang berkedudukan di Amerika Serikat.

Jurnalis mendapat kesempatan melihat langsung prosesing kopi di pabrik milik koperasi. (Foto/Ist)

Lelaki asal Solo kelahiran 1975 yang telah memili dua anak itu awalnya tidak memiliki keahlian khusus tentang kopi. Soalnya, latar belakang pendidikannya hanyalah Arsitek. Tapi karena perusahaan menugasinya, dia mau tidak mau harus bisa

Dia pun tidak malu mengakui bahwa belajar kopi secara otodidak ketika pada awalnya dia bergabung dengan koperasi internasional.

Sepuluh produk yang diriset oleh Chatis, tiga diantaranya, tepung kopi, kulit kopi dan wine kopi–yang rasanya strong. Sambil memperlihatkan produk dari kulit kopi menjadi Cascara Tea.

Khusus Cascara Tea ini, kata dia, diciptakan untuk orang-orang yang tidak bisa minum yang mengandung gula, untuk mengobati lambung dan sebagainya.

Peluang bisnis Cascara

Kulit kopi di Aceh Tengah dan Bener Meriah potensinya sangat besar. Nilainya jika diekspor sekilogram Rp20.000. Potensi keuntungannya bisa memberikan nilai tambah bagi petani di Gayo (Aceh Tengah. Gayo Lues dan Bener Meriah) mencapai sebesar Rp480 miliar/tahun.

“Sayang peluang ini belum digarap oleh pemerintah daerah,” ujarnya. Cascara dipasarkan ke Taiwan.

Dia menyebutkan, bahkan jika kulit kopi diolah menjadi minuman kemasan, petani kopi Gayo dapat meraup keuntungan mencapai Rp1 triliun/tahun.

“Koperasi Baburrayan sedang merencanakan dan membuat inovasi dari kopi, yaitu teh cascara, tepung kopi, sabun, lulur, masker dari kulit kopi, dan dodol kulit kopi,” tambahnya.

Kulit kopi Arabika Gayo, menurut dia, punya kelebihan yaitu organik. Dalam artian aman untuk diminum. Karena petani di Gayo menggunakan pupuk organik.

Dia juga menjelaskan kadar dan suhu air untuk membuat cascara, panasnya tidak melebihi 85 derajat.

Teknik Menyeduh Kopi yang Benar

Dalam sharing membuat (menyeduh) kopi agar rasanya lebih nikmat dan mantap, Chatis juga menjelaskan tata cara menyeduh kopi dan kesalahan umum dalam menyeduh kopi selama ini.

1. Salah satu kesalahan adalah menggunakan air mendidih 100 derajat dan menggunakan air dispenser. Padahal suhu panas air idealnya 90-92 derajat atau setelah mendidih diamkan selama 2 menit. Suhu panasnya tidak boleh lebih, tidak boleh kurang.

2. Ketika kopi dituang kedalam gelas yang sudah berisi air, tunggu reaksi air dengan kopi selama 4 menit. Kemudian diaduk.

3. Kesalahan berikut, mengaduk dengan sendok sampai ke dasar gelas, sehingga reaksi sendok dan kopi bercampur. Mestinya cukup mengaduk di bagian atas saja.

4. Ampas kopi ada dua, mengendap dan mengapung. Ampas jangan dibuang.

5. Tidak ideal menggunakan mesin

Dalam membuat kopi, jika suhu air tidak ideal maka rasanya akan asam, terang Charis pula.

Jenis kopi

Charis tergolong tidak pelit membagi ilmu dan pengalaman. Dalam kesempatan itu, dia juga menjelaskan jenis- jenis kopi dan variannya.

Dari penulusuran berdasarkan literatur, terdapat ribuan spesies kopi di dunia. Namun dalam perdagangan global hanya dikenal empat jenis kopi yang populer, dan keempat spesies itu adalah, Arabia, Robusta, Liberika dan Excelsa.

Koperasi Baburayyan

Bicara soal koperasi kopi di dataran tinggi Gayo tersebut, rasanya tidak lengkap bila tidak menyebut KBQ Baburrayan.

Koparasi ini berdiri tahun 2005 akhir, melakukan ekspor pertama pada awal tahun 2006 sebanyak 11,2 ton atau satu container.

KBQ Baburrayan mendapatkan kopi dari petani yang menjual biji mentah. Koperasi membina 5.500 petani kopi di dataran tinggi Gayo.

Di Takengon terdapat 30 koperasi kopi, tetapi yang besar kurang dari 10 koperasi.

Soal harga kopi dunia, Charis mengakui bahwa kopi Gayo terlalu mahal di pasar dunia. Arabika dunia, mentahya seharga Rp30.000/kilogram. Sedangkan kopi Gayo Rp80.000/kilogram.

Kenapa mahal? Kopi Gayo, menurutnya, memiliki kualitas yang baik. Arabika Gayo sering mengikuti kompetisi dan juara, ujarnya.

Arabika Gayo memiliki keunggulan. Rasanya, walau belum dicampur coklat, sudah ada rasa coklat, yaitu dark coklat.

Nilai plusnya mengandung coklat yang kuat. Dalam artian, katanya, ini soal persepsi. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, yaitu dari lidah, aroma, tanah, dan iklim. Kemudin juga ada rasa kacang-kacangan.

Menurut dia, semua kopi yang berasal dari Gayo enak, walaupun datangnya dari daerah yang berbeda yang ada di Gayo. Tetapi lebih enak kalau dibland atau dicampur.

“Salah satu perusahaan yang memesan Arbika Gayo adalah Starbuck. Seberapa banyak kopi, semua dibeli,” sebut Charis.

Saking terkenal enaknya, seperti diakui Bupati Aceh Tengah, Shabella Abubakar, kopi Gayo ini dijadikan “ajinomoto” atau penyedap untuk menambah kenikmatan dan campuran kopi-kopi dari seluruh dunia.

“Campurannya 20 sampai 30 persen kopi Gayo, dibland dengan kopi asing,” kata Bupati Shabella Abubakar di Takengon, Selasa (23/7/2019). (Aldin NL)

BERBAGI