Beranda Opini Rhenald Kasali: Kalau Garuda Tidak Mau, Jual Saja ke Gojek

Rhenald Kasali: Kalau Garuda Tidak Mau, Jual Saja ke Gojek

BERBAGI
uru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. (Foto/Ist)

Harga tiket dalam negeri di Indonesia masih selangit. Banyak calon penumpang membatalkan niatnya untuk bepergian naik pesawat milik maskapai nasional. Bandara menjadi kurang sibuk, atau dengan kata lain mulai sepi.

Hingga Kamis hari ini (11/7/2019), harga tiket rute penerbangan Medan – Banda Aceh, masih cukup mahal. Masih di atas Rp800 an ribu. Apalagi untuk penerbangan ke Jakarta, Surabaya, Yogjakarta atau kota lain di Indonesia bisa mencapai hingga Rp2 juta (one way), bahkan taripnya bisa lebih.

Tapi anehnya, penerbangan dengan maskapai asing, seperti AirAsia, taripnya bisa lebih murah, meski harus melalui transit Kualalumpur, Malaysia atau melalui Singapura.

Melihat dunia penerbangan dalam negeri, belakangan ini heboh pula tentang Garuda yang sedang menghadapi gempuran opini agar kerjasamanya dengan start-up Mahata dibatalkan. Wacana ini membuat Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali menyampaikan komentar yang kritis dan menggelitik.

“Kalau Garuda atau BPK tidak mau, jual saja ke Gojek, pasti diambil,” ujar Rhenald Kasali.

“Gojek dan hampir semua Super Apps lainnya termasuk Google, Grab, Traveloka, Tokopedia sedang cash rich. Di sana berkumpul orang-orang progresif yang tahu bagaimana memanjakan penumpang dan tahu uangnya ada di mana. Mereka tidak se-rigid orang-orang lama yang sok tahu,” ujarnya Rhenald Kasali.

Dia mengingatkan Gojek membutuhkan 4 tahun untuk mendapatkan lebih dari 100 juta partisipan yang mengunduh appsnya dan menjadikan dirinya super apps.

Sedangkan gabungan Garuda-Citilink dan Sriwijaya mempunyai 65 juta penumpang aktif. “Kalau digabung dengan Angkasa Pura 1 dan 2, tambah 100 juta lagi. Cari uangnya jangan konvensional dari tiket, tetapi eksplor saja dari data,” lanjutnya.

Berikut adalah catatannya yang beredar di berbagai WAG:

1.Paling sulit memang meyakinkan bisnis cara baru pada orang-orang tua yang pernah sukses dengan cara lama. Padahal cara lama sudah obsolete (usang) digerus teknologi dan data. Tetapi mereka selalu merasa paling benar.

2. Contohnya di Garuda Indonesia itu. Kalau diberitahu, mereka cepat sekali naik pitam dan ingin cepat-cepat bilang fraud lah, salah lah, tidak boleh, batalkan, tidak ada duit lah, modalnya terlalu kecil, dan seterusnya.

3. Menurut saya, kalau mereka tidak mau, jual saja ke SuperApps seperti Google, Gojek, atau Traveloka. Pasti dibayar secepat kilat. Dari pada main batalkan dan merugikan keuangan negara. Anak-anak muda itulah yang tahu bagaimana cara menciptakan value pada airlines gemuk plat merah milik BUMN itu. Caranya riil, bukan digoreng-goreng sahamnya.

4. Ini era MO, pakai tagar menjadi #MO. Artinya orang pakai tagar dengan tujuan mobilisasi dan orkestrasi. Sebab di era baru, #MO membuat bisnis harus hidup dari cara mobilisasi dan orkestrasi ekosistem pakai data.

5. #MO itu peradaban entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh tak perlu modal besar karena peradaban ini didukung oleh 6 pilar: Artificial Intelligence, Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things dan Cloud Computing.

6. Dapat duitnya dengan mengorkestrasi ekosistem, bukan menguasai aset yang besar seorang diri. Kata kuncinya kolaborasi. Maka asetnya light. Ini berbeda dengan bisnis kakek-kakek yang heavy asset dan tampak gede di neraca dan laporan pendapatannya disetel akunting konvensional.

7. Ini pula yang menjadi biang keributan akuntansi. Makanya di New York Stock Exchange, orang-orang lagi ramai membincangkan buku guru besar akuntansi senior dati Stern, Baruch Lev: The End of Accounting.

8. Masalahnya, standar akuntansi yang kita kenal belum mampu meng-capture “nilai” yang diciptakan oleh startup yang disebut sebagai “network effect value.” Ini persis sama dengan ramainya perdebatan tentang “intangible” yang didebatkan boleh atau tidak dihitung dalam perolehan aset 30 tahun lalu.

9. Jadi, perusahaan-perusahaan lama itu tak ada network effect value-nya karena produknya stand-alone. Ini persis seperti kita membandingkan Nokia dengan Iphone atau Adidas dengan Nike, atau ITB dengan Harvard/TED X.

10. Yang satu cuma jual produk atau jasa tok. Nokia dapat duit dari gadget belaka. Dia standalone. Iphone dapat duit dari gadget plus dari App store yang ada jejaring dan data capture-nya. Begitulah cara kerja startup.

11. Adidas cuma jual sepatu. Nike jual sepatu plus fitness wearables yang memberikan data dan business opportunity baru dari data. Menjadikan sepatu bagian dari bisnis wellness dan sekaligus membongkar cara bisnis industri farmasi.

12. ITB dan UI hanya kasih kuliah untuk mahasiswa yang terdaftar dan diterima. Harvard dan TED X memberi bahan-bahan gratis yang mendatangkan data dan bisnis baru.

13. Masih banyak lagi, mulai dari NASA, GE, Kalbe, Halodoc, Prudential, sampai bisnis-bisnis anak muda seperti Wahyoo, Reblood, dan Cari Ustadz. Semua hidup dan menghidupkan ekosistem. Bedanya, mereka tidak cengeng atau saling menyalahkan.

14. Makanya di era #MO ini, kalau tidak mau pusing, jual sajalah ke superapps. Dijamin tiket pesawat menjadi lebih terjangkau dan penumpang happy mendapat layanan data di pesawat. Sudah dulu ya. Cheers, #MO. (ria)

BERBAGI