Beranda Life Style Ongkos “Burung Besi” Mahal, Jalan Darat dan Laut Jadi Pilihan Pemudik

Ongkos “Burung Besi” Mahal, Jalan Darat dan Laut Jadi Pilihan Pemudik

BERBAGI
Mudik dan pulang mudik melalui jalan darat, selain via laut (kapal), menjadi pilihan yang dominan karena harga tiket pesawat yang mahal. Akibatnya terjadi kemacetan di ruas jalan luar kota. (Foto/Hudha)

Medan – Beragam dilema mewarnai musim libur dan mudik Lebaran 1440 H tahun 2019 ini. Salah satunya, yang paling heboh tahun ini adalah tiket pesawat atau dengan julukan si “burung besi” yang mahal mencapai jutaan rupiah menjadi salah satu dilema.

“Banyak masyarakat kita yang memutar akal dengan membeli tiket transit melalui luar negeri seperti Malaysia agar lebih murah. Contohnya, tiket tujuan Surabaya-Medan atau Jakarta-Aceh, rata-rata harga tiket mencapai kisaran Rp2 jutaan hingga Rp4 jutaan,” kata Pengamat Ekonomi, Jufri Siregar kepada waspadaaceh.com, Rabu (12/6/2019).

Jufri mengatakan dengan harga tiket sebesar itu, bila dibandingkan harga tiket transit melalui luar negeri lebih murah daripada transit di dalam negeri. Umumnya penumpang transit melalui Malaysia atau Singapura.

“Jika melalui transit Malaysia, membeli tiket terpisah, tidak satu tiket untuk satu atau dua kali transit. Harganya lebih murah. Bisa menghemat hingga Rp1 jutaan. contohnya, jika transit dalam negeri maka bisa memakan biaya Rp2 juta hingga Rp3 jutaan. Tapi jika melalui Malaysia, hanya menghabiskan Rp1,5 juta bahkan bisa di bawahnya lagi,” ujar dia.

Jufri juga melakukan studi mengenai harga tiket si burung besi ini yang mahal diantaranya bukan hanya faktor harga bahan bakar avtur saja. Namun juga meliputi biaya charge di bandara hingga biaya parkir dan layanan pesawat.

“Di bandara itu ada charge penumpang, parkir pesawat, layanan penumpang, garbarata hingga ground handling. Bayangkan saja semua beban itu ditanggung maskapai. Jadi tidak hanya biaya bahan bakar saja. Jadi, tidak ada pengaruh jika pemerintah menurunkan harga avtur tapi tidak menurunkan biaya atau cost di bandara,” jelasnya.

Jufri menuturkan bahwa dengan mahalnya harga tiket ini mendorong adanya perubahan prilaku dan kebiasaan masyarakat yang biasa menggunakan pesawat untuk mudik beralih ke transportasi darat dan laut. Perubahan ini bahkan juga terjadi pada masyarakat dengan berpenghasilan tingkat menengah bawah.

“Masyarakat yang tergolong mampu saja merubah prilaku mudik tahun ini menjadi ke transportasi darat dan laut. Contohnya, teman saya saja yang bekerja di perusahaan tambang batubara di Kalimantan, mau pulang ke Medan bersama keluarganya. Dia melalui transportasi laut dan dilanjut dengan transportasi darat dengan rental minibus jenis Hiace agar memuat banyak penumpang,” ungkapnya.

Penumpang Pesawat Turun
Pihak AP II Bandara Kualanamu Medan, melalui Manager Hukum dan Humas Bandara Kualanamu Wisnu Budi Setianto, mengakui bahwa terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat selama mudik Lebaran 2019 ini bahkan mencapai 20%.

“Jumlah penumpang pada H+3 pada tanggal 9 Juni 2019 terdata 28.349 penumpang. Bila dibanding pada periode yang sama tahun lalu, jumlah itu mengalami penurunan sebesar 20%. Pada tahun 2018 lalu jumlah penumpang pada H+3 Lebaran mencapai 35.349 penumpang,” kata Wisnu.

Wisnu menyatakan penurunan penumpang ini juga terjadi untuk jumlah pergerakan pesawat. Pada H+3 Lebaran, pergerakan pesawat hanya 197 pergerakan. Sedangkan pada 2018, pada periode yang sama pergerakan pesawat 237. Dari sisi jumlah pergerakan pesawat itu, juga mengalami penurunan sebesar 16%.

Dia menilai adanya peralihan kebiasan mudik menggunakan pesawat menjadi transportasi darat dan laut. Hal itu terjadi akibat harga tiket yang sangat mahal.

Penumpang Kapal Laut Meningkat
Arus mudik Lebaran penumpang kapal laut yang turun di Terminal Bandar Deli Pelabuhan Belawan mengalami lonjakan. Kapal penumpang KM Kelud yang belayar dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, via Tanjung Balai Karimun-Batam, menurunkan 3.071 penumpang di Belawan.

“Jumlah penumpang yang turun 3.071 orang, jumlah tersebut masih dalam standar internasional dengan dispensasi 49% dari kapasitas seat KM Kelud berjumlah 2.080 orang,” kata Syahbandar Utama Belawan, Sugeng Widodo.

Sugeng menyebutkan, untuk memberikan kenyamanan bagi penumpang kapal laut, syahbandar di seluruh Indonesia telah melakukan pemeriksaan uji layak kapal yang berlayar. Setelah diyakini kapal tersebut laik laut, maka kapal tersebut diizinkan berlayar.

KPPU Masih Selidiki Indikasi Monopoli Harga Tiket
Kepala Kantor Perwakilan KPPU Medan, Ramli Simanjuntak menegaskan hingga kini pihaknya masih menyelidiki adanya dugaan monopoli bahkan duapoli yang dilakukan pihak maskapai terkait harga tiket mahal.

“Hingga kini masih kita selidiki, nantinya hasilnya akan kita sampaikan ke publik secara terbuka melalui sidang yang juga terbuka bisa disaksikan umum,” tegasnya.(sulaiman achmad)

BERBAGI