Beranda Profil Illiza Isi Kekosongan 15 Tahun Wakil Perempuan Aceh di DPR RI

Illiza Isi Kekosongan 15 Tahun Wakil Perempuan Aceh di DPR RI

BERBAGI
Illiza bersama mak-mak yang merindukan dirinya (Foto/Ist)

Banda Aceh- Wajahnya tidak asing lagi. Berparas cantik, putih bersih dan smart. Tapi bukan modal fisik itu saja yang mengantarkannya duduk di kursi DPR RI.

Tapi, karena karakter keislaman yang kuat dan rakyat juga sudah familiar ditambah kifrahnya di pemerintahan selama dua periode. Itulah Illiza Sa’aduddin Djamal. Mantan Walikota Banda Aceh, ini berhasil mendobrak hegemoni lelaki yang sejak 15 tahun terakhir mendominasi kursi DPR RI dari Aceh.

Ketika masih menganut sistem lama, tiga partai (Golkar, PPP dan PDI), 15 tahun lalu, anggota DPR RI utusan PPP yakni, Nurdahri Ibrahim Naim. Sejak saat itu, 3 kali Pemilu Legislatif, Aceh tidak punya keterwakilan perempuan di DPR RI. Barulah dengan pemilihan dengan sistem suara terbanyak, baru Pileg 2019 ini, Aceh berhasil mengantarkan wakil perempuannya di Senayan.

Saat dihubungi Waspadaceh.com, Illiza Sa’aduddin Djamal, Kamis (9/5/2019) menyatakan, sudah kehendak Allah SWT dirinya dipilih 1 dari tujuh wakil rakyat untuk duduk di DPRRI dari Dapil Aceh-1.

Illiza mengaku tidak memberi sesuatu kepada masyarakat untuk memilih dirinya. Dan, dia yakin, masih banyak rakyat yang memberikan pilihan bukan karena materi.

“Saya sangat yakin banyak pemilih bukan transaksional tapi mereka memilih karena ibadah dan amanah ini akan saya laksanakan sebaik-baiknya sebagai anggota terpilih di DPR RI,” ucap Ketua PPP Kota Banda Aceh ini.

Selain Illiza dari Dapil Aceh 1, enam anggota DPR RI yang berhasil lolos ke Senayan adalah, Nazaruddin alias Dek Gam (PAN), Salim Fakhri (Golkar), T Riefky Harsya (Demokrat), Fadlullah (Gerindra), Rafly (PKS), dari PPP suara terbanyak diperoleh Illiza Sa’aduddin Djamal dan terakhir dari PKB yakni: Irmawan. (Lihat tabel)

Ada 101 ribu lebih suara PPP dan Illiza mendulang 32 ribu suara badan. Jumlahnya tertinggi dibanding caleg PPP lainnya.

Illiza mengaku rakyat sekarang sudah cerdas siapa yang ingin mereka wakilkan di DPR RI. Dan sekarang ini rakyat menginginkan ada wakil perempuan di Senayan.

Rakyat Aceh, lanjut Illiza, tidak mempersoalkan seorang perempuan berkiprah lebih tinggi dan menjadi pimpinan, termasuk menjadi anggota DPR RI.

Peran Wanita Luar Biasa

Mengingat 50% dari masyarakat Indonesia adalah perempuan. “Maka sungguh sangat layak jika di DPR ada perempuan yg akan menyuarakan suara perempuan dan suara ummat.”

Maka, kata putri mantan politisi ulung Aceh, Sa’aduddin Djamal, hak perempuan itu harus di perjuangkan. Dan itu bukan hanya sekarang, tapi di zaman Saiyidina Umar bin Khatab RA sebagai Amirul mukminin.

Umar ketika itu, membuat kebijakan sebagai Amirul Mukminin, membatasi mahar tidak boleh dimahalkan. Mahar ada batasan tertentu, setelah Sayidina Umar mengumumkan pembatasan mahar bagi perempuan, ada seorang wanita yang langsung memprotes bahwa Al qur’an yang turun kemudian hadits Nabi SAW tidak ada yang menghalangi dan melarang seseorang untuk meninggikan atau merendahkan mahar.

Kenapa Engkau wahai Amirul Mukminin berani dan melarang membuat keputusan untuk melarang orang menentukan harga mahar sesukanya.

Mengapa Engkau hendak melarang itu sedangkan Alqur’an dan hadits tidak melarang itu. Seorang Perempuan memprotes Amirul Mukminin di dalam masjid.

Akhirnya Umar bin Khatab setelah mendengarkan pendapat dari perempuan tersebut mengatakan semua orang lebih paham dari pada Umar.

“Sungguh telah benar si wanita ini dan aku telah salah,” kata Sayidina Umar.

Menghargai protes dari seorang perempuan, kemudian Sayidina Umar membatalkan keputusan beliau dan beliau mengatakan siapapun di antara kalian silahkan untuk menentukan maharnya sendiri tanpa ada batasan.

“Aku telah salah dalam membuat batasan mahar itu,” aku Umar.

Dari kisah itu, menurut Illiza, adalah bentuk harga suara perempuan sangat dipertimbangkan dalam Islam dan tidak dilarang sejak masa Amirul Mukminin, Umar Bin Khatab.

Maka, lanjut Illiza, kita pahami bahwasanya Islam ini sangat mengargai hak-hak perempuan.

“Kita sangat bangga dengan syariat Islam nilai-nilai syariat Islam sangat menghargai keterwakilan yang kita jalankan pada abad modern sekarang ini,” tutup Illiza Sa’aduddin Djamal, mengakhiri obrolan dengan Waspadaaceh.com.
(Aldin NL)

BERBAGI