Beranda Entertainment Membumikan Nandong Smong dari Panggung Sekolah

Membumikan Nandong Smong dari Panggung Sekolah

BERBAGI
Pementasan drama kesenian adaptasi Nandong Smong di Milad Dayah Inshafuddin, 29 April 2019. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Pengaruh sejarah smong (gelombang tinggi) penting untuk terus lestari di ingatan masyarakat Aceh.

Sebagai bentuk mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, hikayat lokal ini terbukti mampu meminimalisir dampak bencana alam gempa dan tsunami, tahun 2004 silam. Namun, kendati terus diupayakan agar lestari turun temurun, tak dipungkiri kesenian ini mulai merambat jadi istilah klasik yang perlahan dilupakan.

Universitas Syiah Kuala menjadi salah satu lembaga pendidikan yang berupaya mengadaptasikan kesenian smong. Praktiknya terbilang sederhana, melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M), mereka bergerilya ke sekolah-sekolah.

Imam Maulana, Ketua PKM-M mengaku telah membina 10 orang santri tingkat SMP hingga SMA di Dayah Terpadu Inshafuddin.

“Kita berhasil melatih santri dayah untuk siap tampil di Tasyakuran Milad dan Wisuda Santri yang dilaksanakan pada Senin, pekan lalu,” kata Imam, Rabu (1/5/2019).

Smong dikenal sebagai istilah naiknya air laut ke daratan. Istilah ini digunakan oleh warga kepulauan Simeulue, Aceh. Pada tahun 2004, di saat hampir seluruh daerah di Aceh lumpuh dihantam gelombang tsunami yang dahsyat, Simeulue membuktikan pada dunia bahwa hikayat smong menyelamatkan mereka.

Belakangan, sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa smong jadi salah satu faktor yang mampu meminimalisir jumlah korban jiwa akibat bencana tersebut. Hanya ada tujuh korban jiwa di Simeulue, tentu angka ini terbilang amat kecil dibandingkan jumlah korban jiwa di daerah lainnya.

Berbekal pengetahuan dan motivasi yang tinggi untuk melestarikan smong, Imam bersama rekan mahasiswa merintis program ‘Pasmina’ (Pengembangan Paket Kesenian Untuk Mitigasi Bencana). Inovasi dengan metode kesenian adaptasi nandong smong jadi bagian program yang ditawarkan oleh tim PKM-M.

“Ini untuk mengatasi permasalahan terkait kesiapsiagaan bencana, dengan dayah yang jadi sasarannya. Adapun output yang dihasilkan ialah terbentuk Tim Kesenian adaptasi nandong smong yang siap untuk tampil di tengah masyarakat,” harap Imam.

Kemasan Padu Kesenian Aceh

Kesenian yang digubah Imam merupakan perpaduan dari beberapa kesenian yang terdapat di Aceh.

Diawali dengan tarian Guel khas Takengon yang dibawakan oleh salah satu santri, performanya kemudian diiringi dengan Didong dan nyanyian nandong smong khas Simeulue. Semua ini dikemas menjadi satu drama yang dapat dinikmati penonton.

“Target utama drama ini ialah memperkenalkan istilah smong kepada para penonton dengan kesan yang menyenangkan,” papar mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsyiah itu.

Ketika drama itu berjalan, tampak seorang pemeran pria sepuh yang menjelaskan istilah smong, berikut tanda-tanda serta apa saja yang harus dilakukan saat bencana datang. Sang kakek dalam adegan itu menuturkan wejangan dengan khidmat ke para cucunya.

Tidak lama setelah itu, latar panggung menampilkan seorang ibu di malam hari yang sedang bershalawat dan bersenandung menceritakan kisah smong kepada anaknya.

Tak hanya itu, gambaran sikap masyarakat setempat saat terjadi gempa dan tanda-tanda smong turut menghiasi panggung, diiringi puisi dan diakhiri dengan nyanyian nandong smong yang dilantunkan oleh seluruh santri.

“Pada penampilan perdana ini, jadwal pelatihan hanya disediakan dalam kurun waktu 30 hari. Namun para santri dan anggota tim PKM-M Unsyiah sudah berusaha keras sehingga dapat tampil dengan maksimal,” ujar Imam yang juga merupakan General Coordinator FASTANA (Fasilitator Tangguh bencana) di bawah binaan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Unsyiah.

Imam tak sendirian. Dia didukung segenap anggota lainnya dalam tim PKM-M. Mereka di antaranya: Zahratunnisa dan Mohd Hafizh Al Mukarram yang merupakan mahasiswa dari Fakultas Teknik, Lilla Raswita dari Fakultas Kedokteran dan Septia Karlia dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan/FKIP. Mereka dibimbing dosen FK dan peneliti TDMRC Unsyiah, Rina Suryani Oktari.

Penampilan Tim Kesenian adaptasi Nandong Smong meraup antusias yang tinggi di gelaran Tasyakuran Milad dan Wisuda Santri Dayah Terpadu Inshafuddin. Selain santri, acara juga disaksikan para wali santri, petinggi dayah, hingga perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Dinas Pendidikan Dayah Aceh.

“Alhamdulillah, sekarang anak anak sudah tau tentang smong,saya sangat apresiatif, semoga ini bisa berkelanjutan, generasi muda perlu ingat bahwa mereka punya kearifan lokal terkait mitigasi bencana,” pungkas Abi Usman, pimpinan Dayah Terpadu Inshafuddin. (Fuadi)

BERBAGI