Beranda Sumut Ekspor Karet Sumut Masih Turun

Ekspor Karet Sumut Masih Turun

BERBAGI
ILUSTRASI. Petani karet di Aceh Tamiang. (Foto/al-farizi)
Medan – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) mencatat, volume ekspor karet Sumatera Utara untuk pengapalan Maret 2019 turun 17,9% menjadi 33.054 ton dibandingkan periode yang sama pada 2018 sebesar 40.285 ton.
Secara agregat, triwulan-1 2019 mengalami penurunan 13% menjadi 99,199 ton dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar 113,970 ton, kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumatera Utara, Edy Irwansyah, Senin (15/4/2019).
“Namun bila dibandingkan dengan pengapalan bulan Pebruari, mengalami kenaikan 2,1% dari 32.386 ton. Faktor utama yang mempengaruhi penurunan volume ekspor adalah berkurangnya permintaan dari negara konsumen utama,” lanjut Edy Irwansyah.
Edy mengatakan, diperkirakan volume ekspor untuk pengapalan April juga akan berkurang karena adanya pembatasan ekspor melalui skema AETS atau Asean Export Tonnage Scheme melalui ITRC (International Tripartite Rubber Council).
Buyer Borong Karet, Harga Mulai Naik
Kenaikan harga belakangan ini merupakan upaya para buyer untuk meningkatkan stoknya. Pasalnya, buyer menyadari adanya kondisi pasokan yang berkurang dari negara produsen karet seperti Thailand, Indonesia, dan Malaysia.
Secara iklim, tiga negara ini berada pada musim kemarau, sehinggga kebun karet memasuki fase gugur daun.
“Yang paling spesifik di Thailand, ketika gugur daun memasuki fase daun muda, maka pada saat ini petani sebagian mulai libur menderes hingga fase berikutnya, diperkirakan 2-3 minggu. Berkurangnya produksi ini juga bertambah berat karena adanya libur tahun baru Thailand, Songkran Holiday 13-15 April 2019. Pada periode ini petani libur tidak menderes,” ujar Edy.
Edy menuturkan, produksi di Sumatera bagian Utara saat ini juga sedang mengalami puncak penurunan produksi sampai akhir April. Kondisi di atas membuat panik buyer.
“Selain kondisi di atas, buyer semakin panik karena seller tidak dapat memenuhi sepenuhnya permintaan buyer karena adanya pembatasan ekspor melalui skema AETS. Pada harga penutupan SICOM TSR20 pada 12 April untuk kontrak Mei berada pada posisi 155.2 sen USD per Kg.”
“Dengan adanya kondisi pasokan terbatas seperti dijelaskan di atas, diperkirakan tidak lama lagi harga breakout dari 160. Walaupun ada kenaikan, namun harga ini masih di bawah harga keekonomian, yakni 189 sen USD,” tegasnya. (sulaiman achmad)
BERBAGI