Beranda Opini Mungkinkah Membuka Rute Penerbangan Dari Aceh ke India?

Mungkinkah Membuka Rute Penerbangan Dari Aceh ke India?

BERBAGI
Tim peneliti dan fotografer berfoto bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana, di Ruang Kerja Duta Besar. (Foto/Ist)
Penulis: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

Penulis kali ini mengangkat sebuah judul dengan pertanyaan seperti di atas, dan mencoba menemukan jawabannya mengacu pada rangkaian perjalanan Tim Peneliti Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (BPPK Kemlu RI), yaitu Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A (Penulis/Dosen Universitas Almuslim) dan Dr. Ichsan (Dosen Universitas Malikussaleh).

Pada Oktober tahun lalu, tim peneliti yang saat itu didampingi Eddi Syahputra (peneliti junior dan fotografer asal Banda Aceh), melakukan pertemuan dan wawancara kepada Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana di Kedutaan Besar RI (KBRI) di Kuala Lumpur.

Wawancara yang dilakukan berkaitan dengan pengembangan kerjasama ekonomi dan konektivitas antara Indonesia, India, dan Myanmar. Pertemuan dengan duta besar, dianggap cukup relevan, karena Rusdi Kirana berlatar belakang seorang pengusaha dan pendiri maskapai penerbangan nasional, Lion Air Group.

Wawancara yang dilakukan untuk mendapatkan masukan langsung dari pemilik maskapai swasta terbesar di Tanah Air dalam hal konektivitas melalui udara. Tim peneliti ingin mengetahui peluang dan tantangan apabila maskapai penerbangan Lion Air Group membuka rute penerbangan langsung dari Aceh ke Port Blair atau Chennai.

Sebagaimana kita ketahui telah ada dua maskapai nasional, yaitu Batik Air dan Garuda Indonesia, ditambah maskapai negara tetangga Malaysia, AirAsia, yang membuka rute penerbangan langsung antara Indonesia dan India. Batik Air, salah satu anak perusahaan Lion Air telah membuka penerbangan langsung Kuala Namu (Medan) – Chennai (Madras) dengan nomor penerbangan yang sama, terlebih dahulu transit di Kuala Lumpur.

Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung dengan rute Denpasar – Mumbai, India. Mumbai terkenal sebagai kota perfilman India (Bollywood). Sedangkan maskapai AirAsia membuka rute penerbangan langsung dengan menghubungkan Mumbai – Denpasar dan Kolkata – Denpasar. Kolkata terkenal sebagai kota budaya di timur India. Di sini terlihat bahwa Pulau Dewata menjadi destinasi utama dan berperan sebagai hub bagi penerbangan internasional di Indonesia.

Bila mengamati data jumlah wisatawan India yang berlibur ke Bali, maka jumlahnya terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sepanjang tahun 2018, Bandara Ngurah Rai, Bali, mencatat kedatangan wisatawan India mencapai 356.497. Jumlah ini naik 33,7% dibandingkan tahun 2017. Wisatawan India menempati urutan nomor tiga terbanyak setelah wisatawan China, urutan nomor satu, dan Australia, urutan nomor dua, (Swa.co.id, 2019). Bali benar-benar melekat di hati masyarakat India.

Tidak seperti halnya wisatawan Australia yang senang bertualangan dengan cara backpacker, wisatawan India memiliki karakter berwisata dalam satu keluarga (family). Mereka senang mengunjungi tempat-tempat spiritual, lokasi sejarah, mengunjungi pegunungan, dan wisata bahari.

Biasanya, lamanya mereka menetap sekitar 5 hari dengan jumlah uang yang dibelanjakan sebesar USD 1.000. Pemandu wisata mudah memandu mereka karena menggunakan bahasa pengantar, bahasa Inggris (Balipost.com, 2018).

Duta besar ingin tahu maksud dan tujuan dari penelitian yang sedang tim peneliti lakukan. Kami menjelaskan tentang faktor kedekatan geografis antara Aceh dan Kepulauan Andaman & Nicobar, dibandingkan dari Kepulauan Andaman ke India daratan khususnya Chennai.

Tim juga memaparkan peluang kerjasama ekonomi dan kebutuhan people to people contact, dan jumlah penduduk di Kepulauan Andaman & Nicobar yang lumayan besar sekitar 400.000-an jiwa, yang dapat menjadikan Port Blair (Ibukota Kepulauan Andaman & Nicobar) sebagai hub menuju Chennai.

Penjelasan ini memunculkan ketertarikan bagi duta besar, dan tidak menutup kemungkinan berpeluang untuk membuka konektivitas penerbangan antara Aceh dan India. Malahan tidak menutup kemungkinan, penerbangan dapat dilakukan dari Banda Aceh ke Chennai, tidak mesti ke Port Blair, ungkap duta besar ketika itu.

Duta besar mengatakan,yang perlu dilakukan saat ini adalah, bagaimana menjadikan Bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh sebagai transhipment point bagi jalur penerbangan ke luar negeri, contohnya dari Malaysia atau Singapura sebelum ke India, transit terlebih dahulu di Banda Aceh.

Dari penjelasan duta besar maka telah kita temukan jawaban dari pertanyaan, “mungkinkah membuka rute penerbangan dari Aceh ke India?” Maka jawabannya adalah “mungkin.”

Saat ini Pemerintah Aceh perlu melakukan follow up dengan mengundang Duta Besar, Rusdi Kirana, ke Aceh atau mengadakan pertemuan dengan duta besar di Kuala Lumpur. Duta besar mengatakan di akhir pertemuan dengan tim peneliti, bahwa dia ingin sekali berkunjung ke Aceh.

Wawancara dengan duta besar berjalan lancar dan penuh canda. Terlihat bahwasanya duta besar seorang yang humoris dan ramah. Sebelum kembali ke kediaman, tim peneliti mengadakan pembicaraan dengan third secretary KBRI, Ibu Fatimah Alatas di lobby KBRI. Di dekat lobby terlihat duta besar bergegas untuk keluar, dia lalu menghampiri dan menyalami tim peneliti.

“Mas, senang kita bisa bertemu hari ini. Mohon maaf ya Mas, saya tergesa-gesa melanjutkan pertemuan di luar. Kapan kembali ke Aceh? Sampai bertemu lagi ya Mas.” (***)

  • Penerima Hibah Riset dan Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI Tahun 2018
  • Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim
  • E-Mail: ponubitt@gmail.com
BERBAGI