Beranda Inforial Pemerintah Aceh Semerbak Kopi Gayo, “Menembus” Amerika dan Eropa

Semerbak Kopi Gayo, “Menembus” Amerika dan Eropa

BERBAGI
ILUSTRASI (Doc.waspadaaceh.com)

Muhammad, awalnya tidak begitu menyukai kopi. Tapi sekitar lima tahun lalu, pria berusia 40 tahun ini, mendapat kesempatan mengunjungi dataran tinggi Gayo, tepatnya di daerah Kabupaten Bener Meriah dan Takengon, Aceh Tengah.

“Di Bener Meriah, saya diajak ngopi di sebuah cafe. Namanya Bergendal Kafe. Waktu itu saya disuguhi kopi arabika Gayo. Wah aromanya membuat saya langsung suka dan jatuh cinta pada kopi,” kata Muhammad.

Sejak saat itu pria asal Medan ini menjadi penikmat kopi Gayo. Dia kemudian terjun di bisnis kopi, dan produk andalannya adalah kopi Gayo. Bahkan sejak dua tahun lalu, Muhammad membeli beberapa rante kebun kopi di daerah Bener Meriah, untuk mendukung bisnis kopinya.

Bagi masyarakata Gayo pada umumnya, banyak cerita menarik tentang kopi, yang bisa diungkap. Seperti petikan dari ungkapan hati seorang Nova Iriansyah, putra Gayo yang sekarang menduduki jabatan sebagai Plt Gubernur Aceh.

Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, ketika mengikuti Forum Export – Import Indonesia China yang diselenggarakan secara paralel dengan China International Import Expo 2018 (CIIE) di Shanghai, Tiongkok, tahun lalu. (Foto/Humas)

Nukilan Puisi Secangkir Kopi

“Kopi, bagi masyarakat Gayo, adalah ‘tudung payung’ penopang utama perekonomian, baik untuk keluarga mau pun bagi daerah.”

Sebagian besar penduduk Gayo adalah petani, meskipun mereka ada yang menjadi pegawai negeri sipil dan swasta. Tetapi, orang Gayo tetap menggenapi hidup dari hasil perkebunan kopi mereka. Hampir setiap KK (kepala keluarga) di dataran tinggi Gayo memiliki kebun kopi sendiri.

Tanah Gayo adalah penghasil kopi jenis arabika terbesar di Indonesia dengan produksi rata-rata mencapai 60 ribu ton lebih pertahun, dari luas areal 70 ribu hektare lebih. Arabika Gayo telah kesohor dan menembus ke berbagai belahan dunia, terutama Amerika dan Eropa.

Itulah nukilan dari buku berisi kumpulan puisi, Secangkir Kopi, yang disampaikan Nova Iriansyah dalam sambutannya, ketika dia masih menjadi anggota DPR-RI, pada 2013.

Sambutan itu mempertegas bahwa kopi di Gayo sangatlah penting. Karena selain nilainya, kopi Gayo juga menjadi salah satu tanaman unggulan yang dimiliki Aceh. Sangat wajar bila Nova Iriansyah, terus mendorong kopi arabika Gayo mendapat pasar maksimal di seluruh dunia. Selain itu Nova juga berharap kopi arabika Gayo menjadi sumber usaha baru bagi generasi muda di Aceh, juga di Indonesia.

“Potensi kopi Gayo harus benar-benar dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Keberadaan kopi Gayo harus bisa membangkitkan ekonomi, bukan saja di tanah Gayo, melainkan juga di luar daerah, seperti Jakarta,” kata Plt Gubernur Nova Iriansyah di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kuatnya keinginan Nova ini, mengingat karena kopi arabika Gayo mendapat tempat khusus. Aroma dan cita rasa khas kopi Gayo menjadi pembeda dengan kopi dari belahan dunia manapun.

Tentu, yang lebih penting, di Gayo, berkebun kopi sudah menjadi tradisi sehingga kondisinya terawat dan produksi kopi tetap terjaga secara kualitas dan kuantitas.

Catatan pengamat kopi dan pelaku ekonomi, Muhammad Syukri, menyebut Aceh Tengah adalah salah satu pengekspor kopi arabika terbesar, terutama ke Amerika Serikat yang mencapai 3,15 juta kilogram dari 3,42 juta kilogram total ekspor sepanjang Januari hingga Juni 2014, namun kini terus meningkat.

Sehingga, melihat geliat kopi Gayo sangat tajam, Pemerintah Aceh mengambil langkah dengan membentuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gayo-Alas, untuk mengembangkan perekonomian berbasis kopi, industri kreatif dan pariwisata.

“Jadikan kopi sebagai bagian integrated tourism dengan menggabungkannya bersama industri kreatif. Ini devisa negara yang paling efektif dan ramah lingkungan, itu adalah pariwisata,” pinta Nova.

Kopi Gayo, menurut Nova, bisa dikelola dengan perspektif budaya, ekonomi kreatif, pariwisata dan pendidikan. Secara geografis, kawasan dataran tinggi Gayo juga mendukung, dengan udara yang sejuk dan pemandangan Danau Lut Tawar seluas 5.472 hektare, akan membuat wisatawan betah.

“Pengembangan kopi ini tidak merepotkan pemerintah, perbankan ikut mendukung sinergi ini,” ujar Nova.

Geliat ekonomi kopi saat ini memang tidak terhentikan. Apalagi gaya hidup dan keseharian generasi milenial ikut bicara trendi kopi. Bahkan kerap melakukan ngopi bareng di cafe atau coffee shop, lalu kongkow-kongkow sambil utak-atik smartphone. Tren ini diyakini sebagai salah satu pendorong konsumsi kopi terus melejit dari tahun ke tahun.

“Konsumsi kopi dunia meningkat cukup tajam, rata-rata 1,7 kg per kapita per tahun. Begitu pula konsumsi kopi di Indonesia, meningkat rata-rata lebih 7 persen per tahun,” kata Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Bekraf, Poppy Savitri, seperti dikutip Tribunnewsdotcom tahun lalu.

Peluang inilah yang dimaksud Nova Iriansyah sebagai geliat ekonomi kopi yang menyentuh langsung untuk kemaslahatan masyarakat. Untuk itu Nova berharap, anak-anak muda harus tekun berusaha dan bekerja, sebab saat ini dunia usaha menjadi trendi hebat di kalangan generasi muda.

Saat ini, seperti dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), produk kopi Gayo semakin diminati, dan itu terlihat dari peningkatan ekspor sebesar 85,71 persen pada semester I 2018 dibanding periode yang sama tahun 2017.

Kepala Badan Pusat Statistik Aceh, Wahyudin, mengatakan, terjadi pertambahan nilai sekitar 15 juta dolar AS lebih dari satu komoditas ekspor itu, melalui pelabuhan di luar Aceh.

Dikatakannya, kopi yang masuk ke dalam kelompok komoditas non-migas bersama teh, dan rempah-rempah, selama ini memang lebih banyak diekspor melalui Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara.

Bila nantinya seluruh kegiatan ekspor kopi arabika Gayo dilakukan melalui pelabuhan yang ada di Aceh, maka provinsi ini akan memperoleh keuntungan ganda. Bukan hanya karena mendapatkan pemasukan dari bea ekspor, tapi juga masyarakat petani akan mendapatkan harga kopi yang lebih tinggi, karena terpangkasnya biaya transportasi dan biaya-biaya lainnya. (Ria)

 

BERBAGI