Beranda Profil Kejutan Terakhir dari Sang Jurnalis, Abadi Selian

Kejutan Terakhir dari Sang Jurnalis, Abadi Selian

BERBAGI
Abadi Selian (Foto/Ist)

” Ayo bang, semangat.., cepat sehat ya bang,” begitu Abadi Selian memotivasi penulis yang sedang sakit, sekira tiga bulan yang lalu. Abadi, begitu kami biasa memanggilnya, memang kerap kali membuat kejutan.

Ketika itu penulis benar-benar terkejut bercampur senang, ketika Abadi, tiba-tiba saja nongol di depan pintu dan masuk ke kamar penulis. Rasa haru, tentu saja menyelimuti perasaan penulis, yang saat itu sedang terbaring.

Abadi memang datang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Siang itu dia baru tiba dari Kutacane, dan langsung merapat ke rumah penulis di Jalan Tempuling Medan.

Lelaki yang suka bercanda ini benar-benar lihai membuat kejutan. Ada saja yang dia lakukan untuk memberi surprise kepada orang yang dekat dengannya. Dan hari itu adalah kejutan terakhirnya, dan pertemuan terakhirnya dengan penulis.

Empat bulan sebelumnya, Abadi juga tiba-tiba muncul di sebuah kampung di Batam, di tempat pesta nikah anak bungsu penulis. Padahal sebelumnya dia tidak memberi kabar akan menghadiri acara pesta anak kami.

Dia datang terlambat dua jam setelah seniornya, Aldin Nainggolan, Plt Ketua PWI Aceh yang juga Kepala Perwakilan Harian Waspada di Aceh, meninggalkan lokasi pesta untuk kembali ke Banda Aceh.

Dari Batam, penulis dan keluarga, terbang satu pesawat dengan Abadi, pulang menuju Kualanamu Medan. Dalam pesawat yang menerbangkan kami, terjadi turbulensi kecil, dan Abadi hanya melirik penulis sambil tersenyum. Tidak disangka, ternyata itu menjadi penerbangan terakhir penulis bersama Abadi, dalam satu pesawat yang sama.

Berita Terkait: Abadi Selian, Ketua PWI Aceh Tenggara Meninggal Dunia

Begitu lah sosok Abadi Selian. Puluhan tahun kenal dengannya, menjadi seperti bagian dari sebuah keluarga. Sarjana lulusan Universitas Gunung Leuser (UGN) ini, setiap kali bertemu, memperlihatkan sifat kekeluargaannya. Meski kadangkala, dia mudah emosi, ketika menghadapi masalah yang mengusik harga dirinya.

Tapi Rabu pagi (6/3/2019, penulis memperoleh kabar duka yang disampaikan Aldin Nainggolan. Sekira pukul 08:30 WIB, Abadi Selian, telah kembali kepada Maha PenciptaNya, Allah SWT.

“Bos, Abadi sudah tiada, dia sudah meninggal pagi tadi,” kata Aldin Nainggolan via seluler, dengan nada sedih. Mendengar kabar duka itu, air mata penulis menetes tak terbendung.., “Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun. Tolong maafkan kalau Abadi pernah buat salah,” pinta penulis.

Ramadansyah, yang juga mengenal dekat Abadi, mengungkapkan kebaikan pria ini kepada siapa saja yang dikenalnya. “Dia begitu hormat kepada para seniornya di dunia jurnalis,” ujar Ramadansyah, dengan nada sedih, setelah mendengar kabar kepergian Abadi.

Sri Wahyuni Nukman, Zulfadhli dan Fachriz Tanjung, juga rekan-rekan Abadi di Pinbis Indonesia, tidak menyangka, bila almarhum begitu cepat menghadap Ilahi. “Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa almarhum,” ujar Zulfadhli dari seberang seluler. Zulfadhli sebelumnya ingin memastikan kabar duka yang diterimanya, apakah Abadi benar-benar sudah tiada.

Nirmala atau Mala juga menyampaikan duka citanya yang mendalam melalui pesan whatsapp. Begitu juga Nurul Hayati dan Khairiah, yang juga pernah mengenal dekat Abadi ketika aktif di Pinbis Indonesia.

“Perjalanan dan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan,” tulis Nirmala dalam caption foto bersama Abadi dan tim Pinbis, ketika melakukan perjalanan ke Bandung, beberapa tahun silam.

“Sampaikan duka cita saya pak kepada keluarganya. Tidak disangka, begitu cepat pak Abadi pergi,” kata Lie Ho Pheng, seorang pengusaha di Medan, yang mengenal dekat almarhum melalui Pinbis.

Almarhum Abadi Selian beberapa hari terakhir memang dikabarkan menderita hipertensi, setelah dia kembali dari perjalanan studi banding dari Singapura.

Sesampainya di Medan dari Singapura, Abadi sempat mendapat perawatan intensif di RS Permata Bunda Medan, selama beberapa hari. Setelah merasa kondisinya lebih baik, Abadi minta kembali ke Kutacane. Tapi baru dua hari di Kutacane, penyakitnya kambuh lagi, dan dia kembali masuk ruang perawatan di RSUD H.Sahuddin Kutacane.

Beberapa hari dirawat di RSUD Kutacane, Abadi merasa sehat, dan minta pulang ke rumah. Tapi baru dua hari berada di rumah, tiba-tiba kondisinya memburuk. Di rumah sakit, laki-laki berpendirian tegas ini tiba-tiba tidak sadarkan diri. Abadi kembali masuk ke ruang ICU RSUD Kutacane pada hari Senin (4/3/2019) dalam kondisi tidak sadarkan diri, dan hingga dia menghembuskan nafas terakhirnya Rabu pagi ini (6/3/2019).

Sosok Abadi tidak hanya dikenal di kalangan jurnalis seprofesinya di Aceh, tapi juga di kalangan masyarakat. Selain sebagai jurnalis, lelaki periang ini, cukup dikenal masyarakat di Aceh Tenggara, Blangkejeren, Aceh Singkil, Meulaboh dan beberapa daerah lainnya. Bersama Pinbis Indonesia, dia dikenal sebagai pekerja sosial yang konsen dalam pemberdayaan masyarakat.

Abadi Selian memulai karir jurnalistiknya sebagai jurnalis Harian Analisa Medan. Setelahnya dia bergabung sebagai kontributor Metro TV, dan saat bersamaan Abadi Selian bekerja sebagai relawan untuk PINBIS (Pusat Informasi dan Pengembangan Bisnis) Indonesia untuk bidang pemberdayaan ekonomi.

Pria kelahiran Batumbulan, Kutacane, 15 APRIL 1975 ini kemudian bergabung dengan Harian Waspada Medan, sebagai koresponden di Kutacane. Tiga tahun lalu, Abadi Selian menjabat sebagai Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Kabupaten Aceh Tenggara.

Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa-dosanya dan menempatkannya bersama orang-orang yang beriman dan bertaqwa, amin.! (m.abdullah)

 

 

BERBAGI