Ekspor Aceh Naik 74,33 Persen Dibanding Januari 2018

    BERBAGI
    Kepala BPS Aceh, Wahyudin (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyebutkan, nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh bila dibandingkan Januari tahun 2018, meningkat 74,33 persen.

    Namun nilai ekspor pada bulan Januari 2019, tercatat lebih rendah dari bulan sebelumnya. Penurunan itu mencapai 10,8 persen, yakni senilai 20,366 juta dolar AS.

    Kepala BPS Aceh, Wahyudin, dalam rilisnya Jumat (1/3/2019) menjelaskan, penurunan itu mencapai 10,8 persen, yakni senilai 20,366 juta dolar AS. Tidak ada komoditi migas yang diekspor pada Januari 2019, katanya.

    Aceh hanya mengekspor komoditi non migas, yakni batubara dengan nilai mencapai 9,83 juta dolar AS, disusul ekspor komoditi kopi, teh dan rempah-rempah senilai 8,70 juta dolar AS.

    Seluruh komoditi ini diekspor melalui dua jalur, yaitu dari pelabuhan di Aceh dan luar Aceh. Komoditi terbesar yang diekspor melalui pelabuhan di Aceh adalah bahan bakar mineral batubara. Sedangkan komoditi kopi diekspor ke Amerika Serikat, dengan nilai mencapai 5,51 juta dolar AS.

    “Komoditi batubara diekspor melalui pelabuhan Meulaboh ke negara India dan Thailand, nilainya hingga 9,83 juta dolar AS,” ujar Wahyudin.

    Sementara itu, untuk komoditi dari Aceh yang disalurkan melalui provinsi lain, seperti pelabuhan di Sumatera Utara dan DKI Jakarta, mencapai 50 persen dari total ekspor. Kopi jadi komoditi yang paling banyak diekspor melalui pelabuhan luar Aceh, yakni mencapai 8,74 juta dolar AS.

    “Komoditi tersebut diekspor melalui Bandara Kualanamu dan pelabuhan Belawan di Provinsi Sumatera Utara menuju beberapa negara. Dimana yang terbesar adalah Singapura dan Amerika Serikat,” katanya.

    Adapun impor Provinsi Aceh pada bulan Januari 2019 adalah sebesar 2,43 juta dolar AS. Komoditas migas dengan persentase impor terbesar yaitu Petroleum Bitumen (minyak aspal) yang mencapai 88,8 persen dari total impor tersebut.

    Sedangkan untuk non migas, kelompok komoditi garam, belerang dan kapur paling banyak diimpor. Nilainya mencapai 220 ribu dolar AS atau sebesar 81,49 persen dari total impor non migas.

    Sementara sisanya Aceh mengimpor tembakau, barang rajutan, mesin/peralatan listrik dan kendaraan.

    “Impor non-migas ini terbesar berasal dari Thailand,” pungkas Wahyudin. (Fuadi)

    BERBAGI