Beranda Profil Makmur Budiman: Sabang Perlu Bangun Mall Parfum sebagai Magnet

Makmur Budiman: Sabang Perlu Bangun Mall Parfum sebagai Magnet

BERBAGI
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banda Aceh, Makmur Budiman,SE. (Foto/Al-farizi)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Bila Sabang ingin lebih dikenal dan dikunjungi banyak orang, maka BPKS (Badan Pengusahaan Kawasan Sabang) dan Pemko (pemerintah kota) harus mengambil langkah berani dengan membangun pusat penjualan (mall) parfum impor berkualitas internasional.

“Menurut saya, produk parfum impor yang berkualitas bisa menjadi magnet bagi wisatawan untuk datang dan berbelanja ke Sabang,” kata Makmur Budiman, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Banda Aceh, dalam bincang-bincang dengan wartawan di Banda Aceh, Kamis (28/2/2019).

Makmur menyebutkan, produk parfum adalah yang paling mungkin bisa dikembangkan dan menjadi produk yang disukai hampir semua orang. Sabang, ujar Makmur, dengan statusnya sebagai pelabuhan bebas (free port), bisa mengimpor parfum berkualitas dari luar negeri tanpa bea.

“Parfum akan menjadi barang oleh-oleh bergengsi bagi setiap tamu yang datang ke Sabang. Jadi gak usah mikir yang muluk-muluk, gak usah mikir yang besar-besar. Bila Sabang mau membangun mall parfum, saya percaya itu akan menjadi daya tarik bagi wisatawan,” kata pengusaha yang dikenal cukup sukses ini.

Alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah ini menambahkan, bila mall parfum nanti benar-benar ada, maka akan menumbuhkan kebanggaan tersendiri bagi para tamu (wisatawan) yang datang ke Sabang, karena ada sesuatu yang bisa mereka bawa pulang sebagai oleh-oleh. Sebagai pelengkap, ada juga produk-produk jam tangan impor yang berkelas, katanya.

Di samping itu, ujar Makmur, bila parfum sudah menjadi ‘magnet,’ bagi pendatang, maka sektor lokal akan bisa ikut berkembang. Misalnya barang-barang kerajinan Aceh, kuliner dan sandang. Menurut Makmur, untuk membangun pusat penjualan parfum, tidak memerlukan modal yang besar. Apalagi bila bangunan (gedung) nya sudah tersedia.

“Hanya saja nantinya, Kepala BPKS, Wali Kota Sabang dan Pak Gubernur bisa membicarakannya dengan Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan untuk mendiskusikan hal itu agar mendapat kemudahan. Agar nanti programnya didukung semua instansi, termasuk Bea dan Cukai,” tegas Makmur Budiman yang juga Direktur Utama PT Makmur Inti Sawita tersebut.

Bagi Makmur, membangun mall parfum lebih masuk akal ketimbang mengimpor mobil, yang hanya bisa dinikmati sebagian orang. Mungkin nanti, ujarnya, akan ada pembatasan untuk nilai berapa rupiah barang ‘tentengan’ atau oleh-oleh itu bisa bebas bea bila dibawa keluar dari Sabang. Maka itulah perlunya ada pembicaraan dengan menteri keuangan.

Makmur memperkirakan, bila nantinya mall parfum itu benar-benar berdiri, paling tidak – setiap wisatawan bisa menghabiskan dana sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta untuk berbelanja oleh-oleh berupa parfum di Sabang. Dengan demikian, dari transaksi itu akan cukup besar uang yang nantinya beredar setiap hari dan setiap bulannya di Sabang.

“Hal itu akan mendongkrak ekonomi Sabang dan akhirnya akan memberi keuntungan bagi Provinsi Aceh,” kata Makmur.

“Coba kalau jujur, sekarang ada yang bertanya…, bawa oleh-oleh apa dari Sabang? Bawa mobil kan gak mungkin. Tapi kalau parfum, hampir semua pengunjung bisa membelinya sebagai oleh-oleh,” tutup Makmur Budiman. (Al-farizi)

BERBAGI