Bekas Pipa PDAM Jadi Jembatan Alternatif Petani di Aceh Jaya

    BERBAGI
    Petani bersama keluarganya di Desa Ranto Panyang, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Sabtu (23/2/2019), tampak menyeberangi sungai menggunakan bekas pipa instalasi PDAM pada saat pergi dan pulang dari sawah. (Foto/Zammil)

    Calang (Waspada Aceh) – Sejumlah petani di Desa Ranto Panyang, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, yang hendak ke sawahnya, menyeberangi sungai menggunakan bekas pipa PDAM sebagai jembatan gantung alternatif.

    Hal itu terpaksa dilakukan para petani karena belum selesainya pembangunan jembatan penyeberangan di desa tersebut.

    “Saya bersama adik-adik saya terpaksa menyeberangi pipa air tersebut karena jembatan yang dibangun beberapa tahun lalu belum selesai,” kata M Nadum, 22, petani padi di Desa Ranto Payang Kecamatan Krueng Sabe, Aceh Jaya, kepada waspadaaceh.com, Sabtu (23/2/2019).

    Beberapa bulan lalu, terangnya, keponakannya sempat terjatuh saat menyeberangi sungai tersebut hingga membuat kakinya terkilir.

    “Di seberang sana ramai petani, ada yang tanam padi, sawit, jagung dan tanaman lainnya,” tutur Nadum.

    Dia menambahkan, jembatan bailey penghubung antar desa dan perkebunan masyarakat mulai dibangun pada tahun 2016 hingga tahun 2017. Namun hingga kini belum selesai karena masih ada satu sisi lagi yang belum dibangun karena belum ada anggarannya.

    Ali Munir, Kepala Desa Ranto Panyang Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya, saat dihubungi waspadaaceh.com menuturkan, pihaknya berharap jembatan tersebut dapat diselesaikan secepat mungkin sehingga akses menuju ke desa tetangga dan ke kebun lancar.

    “Saat ini akses hanya melalui pipa air tersebut, bahkan ada yang sempat jatuh saat menyeberang, karena licin,” ujarnya

    Sementara itu, Heri Etika, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Aceh Jaya, Senin (25/2/2019) mengatakan, untuk tahun 2019 tidak masuk dana untuk pembangunan jembatan bailey di Desa Ranto Panyang tersebut.

    “Untuk tahun ini tidak keluar dana pembangunan lanjutan jembatan Ranto Panyang,” katanya.

    Jembatan tersebut, terangnya, pertama kali dibangun pada tahun 2016 dan dilanjutkan pada tahun 2017. Anggaran pertahunnya lebih kurang Rp2,8 miliar menggunakan anggaran otsus.

    “Setiap tahun selalu kita usulkan lanjutan pembangunan jembatan tersebut ke pemerintah provinsi namun sampai saat ini belum terealisasi,” tuturnya

    “Insya Allah, tahun depan kita naikkan lagi karena setiap tahun ada kita usulkan,” tutup Heri.(zammil).

    BERBAGI