Beranda Aceh Memakai Produk IKM, Ungkit Ekonomi Aceh

Memakai Produk IKM, Ungkit Ekonomi Aceh

BERBAGI
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Muhammad Raudhi. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Muhammad Raudhi, mengungkapkan optimismenya, industri kecil dan menengah (IKM) kian mendapat kesempatan bertumbuh  dengan baik di Aceh.

Sinyal positif itu, antara lain, karena adanya penekanan dari Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, baru-baru ini kepada berbagai pihak untuk memakai produk yang dihasilkan IKM Aceh. Kalangan pelaku IKM dan instansi terkait, termasuk kalangan swasta, menyambut baik gagasan tersebut.

“Secara lisan, kami mendengar respon positif rekan-rekan pemimpin SKPA. Selain itu, ada juga dukungan dari bupati dan walikota, yang menyatakan akan menindaklanjuti imbauan Plt. Gubernur,” ungkapnya.

Meski imbauan Plt. Gubernur Aceh terkait penggunaan produk IKM Aceh diarahkan untuk keperluan pelatihan dan seminar yang dilaksanakan instansi pemerintah, Raudhi yakin implikasinya juga akan dapat menggairahkan industri lainnya di Aceh.

“Tidak sebatas keperluan seminar saja, seperti tas, air mineral dalam kemasan dan makanan (snack) untuk keperluan seminar, melainkan produk IKM lainnya pun dapat segera berbenah. Semuanya akan bergerak lebih baik, turut menyumbang pertumbuhan ekonomi Aceh di masa datang,” harapnya.

Raudhi, yang belum genap setahun menduduki jabatannya, sangat optimis melihat arah strategis pertumbuhan ekonomi Aceh.

Katanya, bila IKM diberi kesempatan secara patut untuk dapat tumbuh sehat, didampingi dengan baik, difasilitasi sepatutnya, akan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat Aceh. Sekaligus akan mampu menyerap tenaga kerja produktif, lanjutnya.

“Mereka membutuhkan kepercayaan dari kita semua. Pemerintah dan masyarakat Aceh memang harus sepenuh hati memberi mereka semangat dan energi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang,” ungkapnya.

Karena itulah, lanjut Raudhi, imbauan Plt. Gubernur Aceh itu memiliki daya ungkit strategis untuk memicu perhatian dan mengingatkan semua kalangan tak membiarkan usaha IKM jalan sendiri.

Bila himbauan ini sungguh-sungguh dilaksanakan, katanya, maka IKM Aceh akan makin mampu menjadi “tuan” di tanah Aceh sendiri.

“Kita berharap produk Aceh dapat menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan sampai ke luar negeri,” ungkapnya.

Raudhi menyebutkan, IKM Aceh memiliki sederet produk  unggulan potensial. Terutama, karena produk Aceh mempunyai karakteristik khas yang tidak dimiliki produk daerah selain Aceh.

Seperti kerajinan, batik, tenun adat, songket adat, bordir adat, bordir kerawang, kerajinan ukir kayu, kerajinan pandai besi (rencong, senjata adat dan sejenis lainnya), kerajinan logam, emas dan perak, dan kerajinan kasab Aceh.

Semua itu bercirikan desain khas Aceh yang berakar dari tradisi serta budaya spesifik “Tanah Rencong,” yang banyak dipengaruhi nilai dan budaya Islam.

Selain itu, kata Raudhi, tersedia pula produk industri pangan seperti kopi, coklat, atsiri, pinang, gula aren, produksi olahan dendeng, abon sapi dan ikan kayu (keumamah) serta produk lainnya.

Kopi Aceh adalah satu dari sedikit jenis kopi yang memiliki kualitas terbaik, yang diakui dunia internasional. Semua produk hasil kerajinan dan pangan serta olahan kekayaan alam kreasi IKM tersebut tersebar di 23 kabupaten/kota yang ada di Aceh.

“Potensi ekonomi yang kita miliki luar biasa, sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat,” ungkapnya.

Dia dan jajarannya kini tengah berupaya sungguh-sungguh mengidentifikasi IKM di wilayah kewenangannya. Sebuah sistem informasi berbasis web diharapkan segera rampung untuk memudahkan publik dan dunia usaha mengamati serta membantu menawarkan solusi, katanya.

Menjawab tentang kemampuan IKM Aceh untuk memenuhi permintaan SKPA bila mengikuti imbauan Plt. Gubernur, Raudhi mengatakan bahwa para pelaku usaha IKM telah mampu saling berkolaborasi di antara mereka.

“Kalau ada permintaan pasar yang besar, IKM itu biasanya akan menjalin rekanan dalam jejaring industri serupa, yang banyak tumbuh di Aceh.”

Lebih lanjut, Raudhi mengatakan telah menginisiasi Forum IKM Aceh. Di forum tersebut semua isu krusial yang dihadapi IKM Aceh dibincangkan dan diikhtiarkan penyelesaiannya.

Selama ini, masalah yang dihadapi IKM diselesaikan secara sporadik, di antara pelaku industri, sehingga tidak dapat memberi pengaruh positif pada masyarakat IKM secara keseluruhan. Diharapkan, hadirnya Forum IKM Aceh akan dapat menjadi wadah brainstorming untuk mencari jalan keluar yang terbaik.

Bahkan, dalam waktu dekat ini, Raudhi merencanakan pertemuan pengelola IKM dengan calon investor di Aceh.

“Kita memfasilitasi, memberi peluang yang mungkin agar industri dan dunia usaha bergairah tumbuh dan berkembang di Aceh,” harapnya.

Bila IKM berkembang dengan baik, pertumbuhan ekonomi Aceh diharapkan semakin membaik untuk mengurangi angka pengangguran, selanjutnya dimungkinkan pula menekan kemiskinan.

“Syaratnya, tak usah ragu pakai produk Aceh,” pungkasnya bersemangat.(ria)

BERBAGI