Beranda Opini Belajar dari India, Membangun dalam Kerangka Blue Economy

Belajar dari India, Membangun dalam Kerangka Blue Economy

BERBAGI
Penulis (tengah) bersama Dr.Ichsan dan Dr.Muzailin Affan di depan gapura Welcome to Havelock di Kepulauan Andaman, India. (Foto/Ist)
  • Penulis: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., MA

Yang menarik ketika mengunjungi New Delhi, Ibukota Negara India, adalah kondisi kota yang relatif tidak berpolusi. Jalan kota terbilang lebar, dan hampir tidak ada kemacetan. Kita dapat memperkirakan waktu tiba di tempat tujuan jika ingin mengunjungi seseorang atau menghadiri pertemuan.

Sangat kontras dengan kondisi kemacetan di Jakarta. Jika punya janji dengan seseorang walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, maka mesti berangkat lebih awal karena bisa saja jalur yang dilewati akan mengalami kemacetan.

Karena penasarannya, penulis menanyai beberapa orang tentang New Delhi yang notabene Ibukota Negara India. Dengan populasi mencapai 26 juta jiwa, tapi lalu lintasnya tidak sampai macet.

Umumnya mereka menjawab, karena Pemerintah India berhasil melakukan pemerataan pembangunan. Tidak hanya terpusat di ibukota semata tapi juga tersebar di Mumbai, Chennai, Kalkuta, Goa, Jaipur, Bangalore (Bengaluru) yang terkenal sebagai pusat industri dan IT (Silicon Valley of India) dan kota-kota besar lainnya.

Di samping dukungan infrastruktur berupa pengoperasian MRT, proyek jalan bebas hambatan yang sedang digarap besar-besaran, pembangunan jalan dan bandara serta terminal. Tidak seperti halnya di Indonesia, pusat pertumbuhan ekonomi umumnya terpusat di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Pembangunan di India memperhatian estetika lingkungan. Banyak taman kota yang tertata rapi, asri, dan berukuran besar. Taman ini sengaja dibangun oleh pemerintah atau berupa taman peninggalan sejarah yang dibuka untuk publik sebagai lokasi rekreasi warga.

Taman kota yang terkenal seperti Nehru Park,Bhalswa Horseshoe Lake, Tuble House, Children Park, Sunder Nursery, Taman Lodi, Bhuli Bhatiyari Ka Mahal, Jahanpanah Coty Forest, Death Valley, Garden of Five Senses dan beberapa taman lainnya.

Banyak warga yang datang bersama keluarga, pasangan, atau sahabat bermain dan beristirahat di sekitar taman. Banyak pohon ukuran besar dan rindang yang berada di tepian jalan. Di musim panas, suhu udara bisa melampaui 40 derajat celcius. Jika tidak kuat, maka kita bisa mimisan. Dapat dibayangkan jika tidak ada penghijauan di kota maka akan seperti apa panasnya suhu udara di New Delhi.

Sewaktu berada di New Delhi, penulis dan Dr. Ichsan (Dosen Unimal) menginap di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), yang berada di Jalan Kautilya Marg, Chanakyapuri. Itu lingkungan diplomatik, suasananya seperti di Menteng, Jakarta Pusat. Di belakang KBRI di seberang jalan ada pekarangan yang sedang dibangun gedung berukuran besar, milik salah satu pemerintah negara bagian di India.

Hal yang cukup menarik, pagar bangunan yang sejajar dengan pohon, dibangun tanpa harus menebang pohon tersebut. Pohon tetap tumbuh (dibiarkan hidup) tanpa harus menjadi korban pembangunan. Fenomena ini banyak kita temukan di India. Berbeda dengan cara pandang di negeri kita, justru banyak pohon yang ditebang demi keindahan kota.

Di Kepulauan Andaman-Nicobar, penulis bersama Dr. Ichsan dan Dr. Muzailin Affan (Dosen Unsyiah) selaku tim market intelligence Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI (BPPK Kemu RI) mengunjungi Kota Port Blair dan Pulau Maldive-nya India, yaitu Pulau Havelock.

Suasana Kota Port Blair seperti Sabang tapi lebih ramai. Kotanya dipenuhi dengan pepohonan. Penduduknya ramah dan secara fisik hampir sama dengan orang Aceh. Menariknya, hampir tidak ada orang yang merokok. Udara kota terasa bersih. Tidak boleh sembarangan memotong dan menebang pohon karena sanksi hukumannya berat. Demikian pula ketika mengunjungi Havelock, yang setiap hari didatangi 3.000-an turis tapi hanya 20 persen area yang diperuntukkan bagi area pemandian, pembangunan cottage, dan hotel.

Sepanjang jalan menuju pantai berjejer pohon-pohon ukuran besar. Banyak sekali pohon pinang dan kelapa. Di dekat pintu masuk/ keluar Pantai Radhanagar, dekat area semak yang berpagar, dekat lokasi parkir ada tulisan berupa, Safety Instructions, yang salah satu pemberitahuannya “Be Careful of Crocodiles.”

Bila merujuk pada diskusi bersama BAPPENAS India, yaitu NITI Aayog dan National Maritime Foundation, Lembaga Think Tank yang berada di bawah Kementerian Pertahanan India di New Delhi, dalam pembangunan ekonomi, Pemerintah India akan sangat berhati-hati karena lingkungan menjadi faktor yang sangat menentukan.

NITI Aayog saat ini sedang menggarap dokumen visi 15 tahun ke depan India. Di mana pembangunan yang dilakukan harus berada dalam kerangka Blue Economy. Pengertian yang dimaksud bila mengutip pada buku “The Blue Economy, Concepts, Constituents and Development”(editors Dr. Vijay Sakhuja & Cdr (Dr.) Kapil Narula, 2017), pembangunan yang menitikberatkan pada potensi sumber daya kelautan demi peningkatan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial tanpa merusak lingkungan dan kelangkaan ekologis.

Sebagai negara dengan garis pantai terpanjang ketujuh di Asia, yaitu mencapai 7.516,6 km, maka visi besar ini akan fokus pada negara-negara bagian (states) dan wilayah-wilayah (territories) yang berada di sepanjang pantai, yang memiliki ketimpangan dari segi pembangunan (Sonali Mittra 2017).

Termasuk dengan memperhatikan pembangunan di pulau-pulau di Andaman-Nicobar di mana dari sekitar 570 pulau yang ada dan baru 38 pulau yang berpenghuni. Pemerintah India sedang menggiatkan pembangunan infrastruktur untuk mendukung pembangunan pariwisata di sejumlah pulau tersebut sekelas Maldive.

Konsep Blue Economy memiliki prinsip green economy yang sejalan dengan sasaran 14 dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) PBB (World Bank Group & United Nations 2017) dan telah menjadi deklarasi the Indian Ocean Rim Association (IORA), di mana Indonesia menjadi salah satu anggotanya.

Pertumbuhan sektor perdagangan India sangat bergantung 90 persen di lautan. Penguatan konektivitas menjadi hal vital dan strategis.

Konektivitas ini akan menciptakan mata pencaharian masyarakat meningkat, pengembangan industri perkapalan dan layangan pelabuhan yang andal melalui penyediaan bahan bakar yang lebih murah, cepat, dan hemat tanpa harus mengorbankan lingkungan (Sonali Mittra 2017). (***

  • Dosen Prodi HI FISIP Universitas Almuslim
  • Penerima Hibah Penelitian
  • Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI  Tahun 2018

 

 

BERBAGI