Beranda Aceh Peneliti ITB Ungkap Temuan Mengejutkan di Gampong Pande

Peneliti ITB Ungkap Temuan Mengejutkan di Gampong Pande

BERBAGI
Prof Teuku Abdullah Sanny, saat presentasi hasil penelitian di Gampong Pande, Minggu (10/6). Ft Hendro

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Peneliti dari ITB, Prof Teuku Abdullah Sani, mengungkapkan temuan yang mengejutkan dari hasil penelitian yang dilakukannya bersama tim di Gampong Pande, Kecamatan Kutaradja, Banda Aceh.

Dalam paparannya, Guru Besar ITB tersebut menjelaskan, dari penelitian yang dilakukannya dengan menggunakan alat GPR atau ground penetrating radar, terungkap bahwa terdapat tiga bekas bangunan yang luas pada kedalaman yang berbeda.

Ia menyebutkan, situs yang terdapat di Gampong Pande tersebut, terbagi dalam tiga stratum, yakni pada kedalaman 3,5 meter, 12-15 meter dan 28-30 meter.

Dengan adanya temuan tersebut, Prof Abdullah Sani menyimpulkan bahwa kawasan Gampong Pande, yang diyakini merupakan situs bekas kerajaan Islam terbesar di Aceh, pernah mengalami penguburan, berupa subsidence. Hal itu dimungkinkan akibat terjadinya tiga kali gempa tektonik.

Penemuan yang paling mengejutkan, kata Prof Abdullah Sani, pihaknya menemukan adanya unsur logam berat dari lokasi yang diteliti. Pancaran logam ini diketahui berada pada kedalaman 12-15 meter dan 28-30 meter, namun dia belum dapat memastikan jenis dari logam tersebut. “Untuk sementara, lokasi ini kami rahasiakan,” katanya.

Saat Waspada menanyakan apakah logam berat yang dimaksud adalah jenis logam berbahaya, atau logam dalam makna yang berbeda, Prof Abdullah Sani menerangkan bahwa, bisa saja dan sangat di mungkin ini adalah jenis logam yang digunakan pada masa kerajaan tersebut. Nah, sambungnya, alat yang digunakannya, hanya memancarkan fraksi berat yang berlebih, yang merefleksikan di kawasan tersebut, terdapat banyak logam.

“Yang pasti itu logam dan bukan dinding bekas bangunan, yang umumnya terbuat dari semen atau sejenisnya,” terangnya.

Jadi, katanya, penelitian yang dilakukan pihaknya, hanya sebatas memastikan bahwa terdapat logam berat yang belum diketahui jenis apa, dan guna mengetahuinya hal ini hanya dapat dibuktikan dengan penggalian, tambahnya.

Prof Abdullah Sani juga menerangkan bahwa, penelitian selama satu bulan yang dilakukan pihaknya, dilaksanakan pada area seluas radius 2 kilometer, yang diyakini merupakan areal bekas kerajaan Islam terbesar di Aceh.

Sementara itu, sejarahwan Aceh, Husni Ismail, yang hadir dalam paparan tersebut, menyampaikan terimakasih atas apa yang telah dilakukan oleh Prof Abdullah Sani, dan temuan beliau harus jadi perhatian semua pihak, untuk melakukan penyelamatan situs kerajaan Aceh.

Aidil Kamal, dari perwakilan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), sangat mendukung hasil dari upaya penyelamatan situs sejarah Aceh, sebab, katanya, Aceh telah dimasukkan sebagai wilayah penyelamatan dan advokasi, terangnya. (cho)

BERBAGI