Beranda Aceh Nazam Aceh, Tradisi Seni Terlupakan

Nazam Aceh, Tradisi Seni Terlupakan

BERBAGI

SUATU tradisi, kesenian – kebudayaan, seharusnya dijaga, dirawat dan dilestarikan oleh generasi berikutnya, sehingga tak lekang apalagi hilang, meski zaman terus berganti hingga masa yang akan datang.

Tapi tidak demikian dengan Nazam Aceh, tradisi yang riwayatnya kini nyaris ditelan bumi. Nazam merupakan jenis puisi lama yang dipengaruhi sastra Arab dan juga syair-syair Aceh. Tepatnya berisi ajaran agama dengan bahasa Aceh, yang ditulis dengan aksara Melayu.

Dalam bentuk modern, Nazam menyerupai nasyid. Hanya saja, Nazam punya ciri sendiri. Paling tidak, dalam sebaris Nazam, tidak lebih dari dua belas suku kata. Dibaca dengan irama tertentu, biasanya berbaris lengkap.

Dari isinya, Nazam mengandung nasihat sangat tinggi dan bijaksana. Nilai dakwahnya tidak diragukan lagi. Dibuka dengan puji-pujian, ditutup dengan doa. Pada bagian penutup, ada menyinggung soal pengarang naskah, Tengku Dicucum dan keluarga Syeh Abdus Samad. Juga beberapa ulama besar Aceh dalam wasilah doa penutup.

Ahli Hikayat Aceh, Teuku Abdullah Sakti, yang akrab disapa TA Sakti, bercerita kepada Waspada, Rabu (21/2) di Banda Aceh. Nazam kata TA Sakti, di dalamnya ada syair-syair tentang agama Islam. Dalam Nazam, banyak hal yang diceritakan, ada tentang ajaran Fikah (Kitab) kemudian tentang masalah hadist Nabi dan kisah perjalanan Nabi.

“Cerita agama Islam, itulah Nazam,” kata TA Sakti. Dulu, Nazam ini digunakan dalam kegiatan pengajian, pesta perkawinan dan juga maulid. Setiap ada kegiatan hari besar keagamaan, biasanya akan mengundang para ahli untuk membaca Nazam. Tentunya dihadiri orang ramai.

TA Sakti mengisahkan, pada tahun 1960-an, para pembaca dan penyalin Nazam cukup sukses di Aceh. Mereka rela menempuh puluhan kilometer dari kota satu ke kota lainnya untuk membaca Nazam. Pembaca Nazam ialah orang-orang yang taat dengan agama.

“Namun, perkembangan zaman tak bisa dielak. Peminat Nazam Aceh saat ini sangat berkurang, bahkan nyaris hilang. Termakan zaman,” kata TA Sakti. Dia membandingkan Aceh tempo dulu dengan kondisi Aceh sekarang.

Padahal Nazam, ujarnya, di samping sebagai pembelajaran agama juga menjadi hiburan. “Di sini juga ada lucu-lucunya sedikit. Tapi karena sekarang hiburan sudah banyak sekali, membuat keinginan orang untuk membaca semakin sedikit. Kalau dulu orang Aceh hidup dengan hikayat. Siang malam orang Aceh selalu membaca hikayat,” kata TA Sakti sembari menunjukan beberapa Hikayat dan Nazam yang ia bawakan.

Namun Hikayat berbeda dengan Nazam, Nazam lebih dekat dengan ajaran agama. Orang yang belajar Nazam juga bukan orang sembarangan. Harus terlatih membaca huruf Arab Jawi. “Hingga kini belum ada penerus pembaca Nazam,” ungkapnya.

Nazam ini merupakan kumpulan dari berbagai kitab. Baik itu Arab maupun kitab Jawi. “Intinya kita berpatokan sumbernya dari Alquran dan Hadits,” sebut TA Sakti, yang juga sebagai dosen sejarah di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Sementara itu, Teuku Ismail, salah seorang pembaca Nazam yang masih tersisa menceritakan, ia sudah 45 tahun membaca Nazam. Menurutnya Nazam itu merupakan ilmu yang sangat berguna. Apalagi di Nazam banyak mengajarkan tentang ajaran agama Islam. “Nazam juga disebut berbagai sifat dan akhlak yang dianjurkan dalam Islam,” sebutnya.

Ia mengakui, sejarah Nazam hari ini sudah sangat sedikit bahkan nyaris punah keberadaan dan penerusnya. Ia menceritakan, Nazam yang sering ia bacakan ialah Nazam Syekh Abdus Samad atau Tengku Di Cucum dengan judul asli “Akhbarul Na’im” (Kabar Yang Nikmat), yang ditulis pada tahun 1269 Hijriah.

Secara umum isi Nazam Tengku Di Cucum merupakan nasehat bagi ummat Islam sepanjang hayatnya. Misalnya sejak dalam kandungan, lahir ke dunia, usia anak-anak, remaja, kawin-mawin, beranak-bercucu, berumur tua hingga sampai meninggal dunia.

“Pembacaan Nazam berbeda dengan ceramah, sebab kalau Nazam sudah dibaca pasti harus dihabiskan atau ditamatkan,” katanya, sambil memperlihatkan Nazam salinan Syekh Andid sebanyak 328 halaman.

Ia menilai generasi saat ini banyak yang tidak tertarik terhadap Nazam karena sejak awal kurang ada pengenalan. Selain itu ia juga menyayangkan generasi sekarang tidak peka terhadap peninggalan sejarah Aceh, khususnya Nazam itu sendiri.

Menurutnya, sekarang banyak yang tidak bisa membaca bahasa Arab. Padahal bahasa Arab itu karakter mengaji. “Kalau orang pandai mengaji pasti bisa membaca Nazam,” sebutnya.

Walaupun sudah puluhan tahun menyelamatkan Nazam, ia mengaku sampai saat ini belum ada perhatian dan dukungan dari pemerintah. Jika keberadaan Nazam tidak diselamatkan, maka akan punah dengan seiring waktu.

“Ini sangat penting untuk diperhatikan oleh pemerintah Aceh. Setidaknya Nazam ini akan bertahan, walaupun tak semaju dulu,” kata Teuku Ismail. (Dani Randi)

BERBAGI