Beranda Aceh Partai SIRA Bangkit, Setelah Vakum 5 Tahun

Partai SIRA Bangkit, Setelah Vakum 5 Tahun

BERBAGI
Muhammad Nazar (berkaca mata) saat pencabutan nomor urut peserta Pemilu 2019, di KPU Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Muhammad Nazar (berkaca mata) saat pencabutan nomor urut peserta Pemilu 2019, di KPU Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Banda Aceh (Waspadaaceh): Setelah vakum selama 5 tahun, kemudian tahun-tahun terakhir ini harus bekerja sangat cepat dan sistematis, partai SIRA kini bangkit kembali untuk menjadi bagian dari dunia perpolitikan di Aceh. Partai SIRA memainkan peranan demi kepentingan Aceh di tingkat nasional.

“Partai SIRA ada kemungkinan berafiliasi dengan partai nasional dalam hal kepentingan nasional seperti pemilihan legislative atau DPR RI, dan pemilihan Presiden/Wapres nantinya,” kata Muhammad Nazar, S.Ag, dalam wawancara kepada Waspada, Kamis (22/2) di Banda Aceh.

Mantan Wakil Gubernur Aceh ini menekankan, sesuai keputusan rapat pleno, untuk urusan pemilihan DPRK dan DPRA, maka hanya bekerja untuk kemenangan partai SIRA. Kata Nazar, SIRA ingin memperkuat peran partai lokal dalam pembangunan di Aceh, sekaligus ingin mengubah parlemen lokal di Aceh menjadi lebih berkualitas dan benar-benar bekerja untuk rakyat.

Sebenarnya partai SIRA, menurut Nazar, baru mulai bekerja efektif dalam bulan September 2017. Dalam masa tiga sampai empat minggu, mereka harus mengejar waktu, mulai pembentukan kembali struktur pengurus di seluruh Aceh hingga administrasi, keanggotaan dan fasilitas kantor yang disyaratkan untuk dapat menjadi peserta pemilu 2019.

“Kami memutuskan untuk ikut mendaftar kembali sebagai peserta pemilu setelah sekian lama vakum. Dan pada 8 September 2017, kami baru memulai mendaftar perubahan struktur ke notaris dan pertengahan Oktober 2017 mendaftar ke KIP Aceh,” ujar Nazar sambil menyebutkan bahwa partai SIRA sendiri memang sudah lama ada, dan menjadi salah satu partai lokal tertua di Aceh.

Secara umum, kata Nazar, para pengurus dan kader partai SIRA adalah orang-orang yang memiliki kapasitas keorganisasian yang kuat dan memiliki jaringan luas. Di samping itu memiliki kemampuan akademik merata dan berbagai pengalaman serta strategi yang mumpuni menghadapi segala kondisi lapangan.

Keikutsertaan partai SIRA, menurut mantan aktivis mahasiswa Aceh ini, cukup fenomenal karena secara logika akademik, normalnya bagi partai – bahkan yang sudah memiliki kursi di DPRK dan DPRA, harus bekerja lebih dua tahun untuk mempersiapkan diri agar bisa menjadi peserta pemilu lagi. Terlebih kali ini adalah permulaan penerapan aturan yang begitu ketat oleh KPU dan KIP Aceh, khususnya dengan pemeriksaan ketat administrasi hingga verifkasi faktual.

“Sebenarnya kalau bicara kepentingan pribadi saya dan kawan-kawan untuk dunia politik, kami tidak perlu membangkitkan kembali partai SIRA. Karena kami bisa saja masuk ke partai lain. Selama periode 2012-2017, saya juga membiarkan kawan-kawan SIRA untuk masuk ke berbagai partai lain. Jika saya sekedar ingin menjadi anggota DPR RI misalnya, maka saya bisa masuk ke salah satu partai nasional,” tambah Muhammad Nazar.

Lebih lanjut Nazar mengatakan, karena ada kepentingan yang lebih strategis dan ideologis, maka mereka harus tampil kembali. Termasuk untuk menyelamatkan Aceh dan berperan dalam pembangunan yang tepat serta perubahan yang berperadaban. “Partai SIRA harus menyelamatkan keadaan, pembangunan dan perubahan yang berperadaban bagi Aceh. Kami tidak rela Aceh ini hancur dan pembangunannya main-main.”

Muhammad Nazar mengingatkan kembali partisipasi partai SIRA dalam perjuangan, mewacanakan serta mengusulkan adanya partai lokal di Aceh, ketika merintis perundingan damai yang dimediasi Henry Dunant Centre (HDC) akhir tahun 1999. Usulan itu terus berlangsung ketika perundingan RI-GAM dimediasi Crisis Management Initiative (CMI) yang kemudian menghasilkan MoU Helsinki.

“Jadi SIRA itu termasuk aktor yang melahirkan partai lokal. Itu dia gambaran singkat sebenarnya. Jadinya kan SIRA itu adalah termasuk shareholder (pemegang saham) utama dalam perintisan perjuangan keadilan dan kelahiran perdamaian Aceh,” ujarnya.

Mendapat nomor urut 16, menurut Nazar, bagi partai SIRA tidak ada masalah. Partai SIRA adalah partai modern dan selalu menggunakan akal sehat serta logika yang tepat untuk membangun dan mengubah keadaan. “Tidak ada mistik bagi kami, karena manusia sebagai khalifah telah diberikan akal dan wajib menggunakannya dalam mengelola dunia ini seraya tetap berdoa kepada Allah sebagai pencipta.”

Kami ingin masyarakat Aceh, harapan Nazar, cerdas dan makmur semuanya. Lalu masyarakat harus ikut menciptakan peradaban dalam membangun, bukan sekedar tanpa nilai. Nazar mengingatkan, jangan pernah terjebak ingin menjadi anggota DPR, hanya untuk mendapat dana aspirasi yang sesungguhnya tidak ada dalam peraturan. Namun memperjuangkan aspirasi rakyat adalah wajib atau fardhu ain bagi partai SIRA dan seluruh calegnya, jika terpilih nantinya. (b.01)

BERBAGI