Sawang (Waspada Aceh) – Sebanyak 132 kepala keluarga (KK) warga Desa Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, mulai menempati hunian sementara (huntara) yang dibangun BNPB, meski kondisinya disebut belum layak huni.
Warga menempati huntara sejak awal Ramadhan atau 14 Februari 2026. Huntara dibangun di empat titik di Desa Babah Krueng, yakni 94 bilik di lapangan bola samping SD Negeri 5 Sawang, 13 bilik di Dayah Sirathul Huda, 20 bilik di area masjid, dan 5 bilik di sekitar bendungan pinggir sungai.
Ketua YPANBA, Ruwaida, mengatakan kondisi huntara saat ini belum memenuhi standar kelayakan hunian yang aman dan sehat, terutama karena sanitasi dan kondisi bangunan yang masih bermasalah.
“Mereka tentu akan mengalami kesulitan ganda jika hunian yang mereka tempati belum layak. Huntara seharusnya memenuhi standar kesehatan dan keamanan sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar warga secara utuh,” kata Ruwaida.
Salah seorang warga, Mahyuni, mengaku bilik huntara sering kebanjiran saat hujan deras. Air limbah dari fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) juga kerap meluap karena septic tank tidak memadai dan menimbulkan bau tidak sedap.
Menurutnya, saat hujan deras, air limbah bahkan masuk ke dalam bilik bersama air hujan. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memicu penyakit karena lingkungan yang tidak higienis.
YPANBA meminta pemerintah, khususnya BNPB, meninjau kembali pembangunan huntara tersebut dan segera mencari solusi agar para penyintas bencana dapat tinggal dengan aman, nyaman, dan tetap terjaga kesehatannya. (*)



