Penerbangan Domestik di Kualanamu Anjlok, Aceh – Kualalumpur Tetap Ramai

    BERBAGI
    Penerbangan dari Bandara SIM Banda Aceh ke Kualalumpur menggunakan maskapai asing, tampak masih cukup ramai oleh penumpang, hingga mengantri panjang. Kondisinya berbeda dengan penerbangan domestik, baik di Bandara SIM Banda Aceh mau pun di Kualanamu Medan. (Foto/Al-Farizi)

    Medan (Waspada Aceh) – Jumlah penumpang pesawat di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara, dilaporkan turun drastis pasca kenaikan harga tiket pesawat udara untuk penerbangan domestik.

    Tapi sebaliknya, penumpang pesawat dari Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Banda Aceh – Kualalumpur, Malaysia, tampak tetap ramai.

    Belakangan ini memang banyak warga Aceh yang lebih memilih Malaysia menjadi tujuan wisata mereka. Alternatif ini diambil mengingat harga tiket ke negara jiran ini jauh lebih murah dibanding harga tiket untuk penerbangan domestik.

    Bahkan banyak warga Aceh atau luar Aceh yang memanfaatkan penerbangan dari dan ke Aceh via Kualalumpur, Malaysia, menggunakan maskapai asing (Asia Air), karena tarifnya jauh lebih murah.

    Untuk penerbangan Banda Aceh – Jakarta misalnya, bila menggunakan maskapai dalam negeri untuk penerbangan langsung, tarifnya bisa mencapai Rp2,8 juta hingga Rp3,2 juta untuk sekali terbang.

    Sedangkan bila menggunakan penerbangan asing, Banda Aceh – Kualalumpur – Jakarta, hanya sekitar Rp1,1 juta untuk sekali terbang. Artinya, tarif untuk penerbangan langsung Banda Aceh – Jakarta menggunakan maskapai nasional, tarifnya setara dengan tarif penerbangan pulang pergi Banda Aceh – Kualalumpur – Jakarta.

    Kenaikan tarif untuk penerbangan dalam negeri mulai terjadi sejak awal 2019. Meski sempat diturunkan, namun nominal penurunannya tetap tidak kembali seperti tahun sebelumnya.

    Berdasarkan data PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola, jumlah penerbangan di Bandara Kualanamu menurun sekitar 23,6 persen dari 7.336 penerbangan pada Januari 2018 menjadi 5.602 penerbangan pada Januari 2019.

    Sebagaimana dilansir dari CNNIndonesia.com, penurunan frekuensi penerbangan dipicu oleh anjloknya jumlah penumpang. Selama Januari 2019, jumlah penumpang hanya tercatat 763.894 orang. Padahal selama Januari 2018, jumlah penumpang mencapai 963.894 orang.

    Tak hanya itu, tercatat pula sebanyak 1.904 pembatalan penerbangan selama Januari 2019. Padahal jumlah pembatalan penerbangan pada Januari 2018 hanya 314 kali.

    Eksekutif General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Kualanamu, Bayuh Iswantoro, mengatakan, kenaikan harga tiket menjadi pemicu penurunan jumlah penumpang. Harga tiket yang menjulang diperkirakan terjadi karena biaya operasional yang terus membengkak, salah satunya komponen harga avtur.

    “Memang terjadi penurunan jumlah trefik dan jumlah penumpang yang secara persentase hampir double digit, 19 sampai 20 persen penumpang dan trefik 23 persen. Itu perbandingan bulan per bulan, Januari tahun ini ke Januari 2018,” kata Bayuh, Selasa (12/2/2019), sebagaimana dilaporkan CNNIndonesia.com.

    Tren penurunan penumpang dan jumlah penerbangan masih berlanjut hingga Februari 2019. Sejak awal Februari 2019 tercatat 1.849 penerbangan di Bandara Kualanamu. Setiap hari, jumlah penerbangan menurun sekitar 10,3 persen – 32,3 persen.

    Sementara itu, jumlah penumpang baru mencapai 247.963, dengan kisaran penurunan antara 2,1 persen – 33,6 persen. Tren penurunan ini juga terjadi di bandara-bandara lainnya.

    “Penurunan jumlah penumpang dan penerbangan itu umumnya terjadi pada rute domestik. Internasional ada sedikit kenaikan jumlah trefik maupun penumpang,” jelas Bayuh. (Al-Farizi)

    BERBAGI