BERBAGI
Suasana di Sunday Market di Port Blair, India. (Foto/Teuku Cut Mahmud Aziz)

Penulis: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari kolom opini Harian Waspada 4 Februari 2019 yang berjudul “Jejak India dalam Kuliner Aceh.”

Dalam tulisan sebelumnya, pembahasan lebih pada konteks sejarah rempah-rempah di nusantara dan pengaruh kuliner India dalam khazanah masakan nusantara khususnya Aceh. Sedangkan tulisan ini lebih membahas komoditas barang konsumsi yang berpotensi untuk diekspor ke India.

Tim Market Intelligence Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri RI (BPPK Kemlu RI), yang terdiri dari Dr. Muzailin Affan, Teuku Cut Mahmud Aziz, dan Dr. Ichsan di Balai Senat Unsyiah pada 28 Desember 2018, menyampaikan presentasinya. Materi presentasi terkait perihal hasil laporan Pengkajian Peluang Kerjasama Perdagangan dan Jasa antara Aceh dan Kepulauan Andaman-Nicobar dan Chennai.

Tim peneliti mengklasifikasi perdagangan barang menjadi tiga klaster yang berpeluang untuk diekspor ke India, yaitu barang konstruksi, barang konsumsi, dan barang lainnya. Tulisan ini khusus membahas klaster barang konsumsi yang terdiri dari pinang, gula, lemak, minyak nabati, tepung, kopi, udang, daging ayam, daging kambing, kelapa gonseng, kerupuk meulinjo, kerupuk udang, dan produk lainnya. Bumbu-bumbu masakan menjadi bagian dari klaster ini (Termuat dalam Laporan Tim Market Intelligence 2018).

Penduduk Kepulauan Andaman – Nicobar yang berjumlah sekitar 400.000-an yang tersebar di 38 pulau (umumnya di Kepulauan Andaman) dari keseluruhan pulau yang berjumlah sekitar 570 pulau, membutuhkan pasokan barang dari Sumatera terutama Aceh. Hal ini sangat logis dan rasional karena secara geografis kepulauan ini letaknya lebih dekat ke Pulau Sumatera khususnya Aceh daripada dengan India daratan.

Karena selama ini 95 persen kebutuhan penduduk di kepulauan ini didatangkan dari Chennai dan Kalkuta (umumnya Chennai). Tiga hari sekali pengiriman barang dilakukan dari Pelabuhan Chennai atau Kalkuta ke Pelabuhan Port Blair, Ibukota Kepulauan Andaman – Nicobar.

Kapal yang mengangkut komoditas dari Pelabuhan Chennai atau Kalkuta, ketika kembali ke Chennai atau Kalkuta dalam keadaan kosong. Dapat dibayangkan, jika kapal yang kosong tersebut dapat diisi komoditas dari Sumatera. Maka akan luar biasa peluang ekspor yang dapat dilakukan oleh kalangan pedagang dari Aceh atau Sumatera.

Jika dicermati dari jumlah populasi di India yang mencapai 1.32 miliar dengan hanya menguasai pangsa pasar sekitar 2 persen saja maka jumlahnya akan mencapai sekitar 26 juta lebih. Itu sudah setara dengan hampir setengah jumlah penduduk Pulau Sumatera, yang totalnya 55,5 juta jiwa (Tumoutounews.com, 2017).

Untuk menembus pasar India maka dapat dimulai dari Port Blair. Pelabuhan Port Blair dapat berperan sebagai hub bagi barang-barang yang didatangkan dari Sumatera untuk masuk ke India daratan melalui Pelabuhan Chennai. Ekspor yang dituju ke Port Blair, juga dituju ke populasi di India daratan. Pelabuhan Chennai adalah pelabuhan kontainer terbesar ketiga di India. Tim Market Intelligence beruntung, dengan difasilitasi oleh Kementerian Luar Negeri RI dan India, tim dapat berkunjung dan melihat langsung aktivitas pelabuhan kontainer tersebut.

Pohon pinang dan kelapa banyak ditemukan di India. Kalau di Andaman – Nicobar, pohon pinang dan kelapa lebih banyak ditemukan di Kepulauan Nicobar. Masyarakat di India banyak memelihara ayam dan kambing. Pohon kopi juga ditanami di sana tapi jumlahnya tidak banyak. Karena minuman utama mereka adalah susu dan teh.

Di pasar-pasar banyak dijual gula, bahan lemak dan minyak nabati, tepung, udang, cengkeh, pala, lada hitam, kayu manis, jintan, jahe, dan kunyit. Tapi karena jumlah penduduknya besar (terbesar kedua di dunia) maka konsumsinya juga besar dan terus meningkat.

Contohnya komoditas pinang yang mana dalam satu hari membutuhkan lebih kurang 250 ton. Itu artinya dalam satu tahun India membutuhkan lebih kurang 91.250 ton pinang. Maka dari itu, diperlukan tambahan impor komoditas tersebut dari negara lain (Mahmud Aziz, Teuku Cut & Idris, Amiruddin 2015). Bahkan India saat ini terkenal sebagai penduduk yang paling doyan belanja di dunia (Dream.co.id, 2015).

Pola konsumsi ini dapat dimanfaatkan oleh kalangan pebisnis di Sumatera untuk melakukan kerjasama perdagangan dengan kalangan pebisnis di India. Ekspedisi KM Aceh Millenium yang berhasil tiba di Pelabuhan Port Blair pada 4 Januari 2019, yang membawa barang-barang sampel dari Aceh menjadi tonggak sejarah terbukanya konektivitas langsung antara Pulau Sumatera (Indonesia) dan Kepulauan Andaman – Nicobar (India).

Kalangan bisnis Aceh, di bawah koordinasi KADIN Aceh yang telah melakukan MoU dengan KADIN Andaman – Nicobar, yang selama ini difasilitasi penuh oleh Kemlu RI, dapat melanjutkan kegiatan ekspor dengan membangun koordinasi dan kerjasama dengan sejumlah KADIN di Sumatera.

Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi ketercukupan barang dan menjaga kontinuitas. Para pengusaha di Sumatera dapat bersama-sama memanfaatkan peluang ekspor barang konsumsi ini. Ini peluang ekonomi yang “menggiurkan.” Sekarang ‘bola ada di tangan’ para pebisnis di Aceh, dan semoga bisa “menangkap” peluang ini! (****)

  • Dosen Prodi Hubungan Internasional FISIP Universitas Almuslim
  • Penerima Hibah Riset dan Anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI Tahun 2018
  • Pengampu Mata Kuliah Paradiplomasi dan Kerjasama Internasional
          E-Mail: ponubitt@gmail.com
BERBAGI