Angkatan Kerja Aceh Melonjak, Pemerintah Galakkan Semangat Wirausaha

    BERBAGI
    Kepala Disnakermobduk Aceh, Helvizar Ibrahim (tiga dari kanan) saat memaparkan materi dalam seminar nasional bertema Migrasi Tenaga Kerja Aceh: Peluang dan Tantangan yang diselenggarakan Universitas Almuslim, Kamis (7/2/2019) di Banda Aceh. (Foto/Fuady)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Memasuki era revolusi industri 4.0 dan Masyarakat Ekonomi ASEAN, (MEA), angkatan kerja di Aceh dituntut meningkatkan kapasitasnya, terutama di basis digital untuk mengantisipasi tingginya angka pengangguran di Aceh saat ini.

    Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk (Dinasmobduk) Aceh, Helvizar Ibrahim, menuturkan, melonjaknya angkatan kerja di Aceh berpotensi pada dua kemungkinan. Jika mereka produktif, maka Aceh akan menikmati bonus demografi. Sementara sebaliknya, lonjakan tersebut bisa jadi “bencana” jika angkatan kerja tak mampu beradaptasi dengan perkembangan yang ada.

    “Ada sekitar 149 ribu pengangguran di Aceh. Itu harus tertangani dengan baik. Angka ini memang menurun dari tahun sebelumnya, namun angkatan kerja semakin lama justru meningkat pesat,” ujar Helvizar, Kamis (7/2/2019) di Banda Aceh.

    Persoalan tenaga kerja di Aceh, sambung dia, memang semakin kompleks. Merujuk data BPS akhir 2018, dari sekitar 5,2 juta penduduk Aceh, jumlah pemuda usia 15 tahun ke atas (usia produktif) meningkat jadi sekitar 3,6 juta orang. Adapun dari keseluruhan angkatan kerja Aceh yang berjumlah 2,3 juta orang, yang menganggur tersisa 149.000 orang.

    Namun, katanya,Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) itu masih berada di atas rata-rata nasional, yakni mencapai 6,38 persen. Berdasarkan kategori pendidikan, jumlah pengangguran didominasi yang berasal dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

    “Ini mengindikasikan, masih tidak cukupnya peluang kerja sesuai kebutuhan investasi yang ada di Aceh,” tambahnya.

    Tantangan berikutnya, lemahnya karakteristik tenaga kerja di Aceh, salah satunya pola pikir masyarakat yang masih memprioritaskan diri menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Helvizar mengatakan, mental semacam ini perlu segera dibenahi hingga ke sektor pendidikan. Mindset kewirausahaan harus ditanamkan ke generasi muda Aceh sejak usia dini.

    Di samping mendorong terciptanya lapangan kerja baru yang adaptif terhadap tuntutan digital, pemerintah juga mendesak perusahaan memperbarui kapasitas SDM yang ada.

    “Ada sekitar 2,2 juta yang ada dalam dunia kerja, mereka itu harus bertahan di sana. Kalau bergeser, nanti akan ada masalah. Caranya, upgrade kapasitas mereka terkait teknologi digital agar mereka tetap bisa menyesuaikan diri,” jelas dia.

    Sementara itu, ada peluang bagi tenaga kerja Aceh untuk bekerja di berbagai sektor yang tengah dikembangkan pemerintah Aceh saat ini. Sebagaimana tertera dalam RPJM Aceh tahun 2017-2022, peluang itu ada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun di Lhokseumawe. Selain itu juga terdapat empat kawasan industri, di Ladong, Lampulo, Bireuen, dan Langsa.

    Sedangkan di sektor pariwisata, terdapat tiga kawasan strategis, yakni di kawasan Bener Meriah-Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara. Peluang kerja juga ada di beberapa sentra industri kecil dan menengah lainnya di Aceh. (Fuady)

    BERBAGI