Beranda Opini Mengingat Kembali Jasa Nehru Terhadap Kemerdekaan Indonesia

Mengingat Kembali Jasa Nehru Terhadap Kemerdekaan Indonesia

BERBAGI
Penulis (kiri) bersama Dr. Ichsan saat berada di Niti Aayog, BAPPENAS INDIA di New Delhi. (Foto/Ist)

Penulis: Teuku Cut Mahmud Aziz, S.Fil., M.A

India, negara besar yang punya jasa bagi kemerdekaan Republik Indonesia baru saja merayakan Hari Republik (Republik Day) yang ke-70 pada 26 Januari 2019.  70 tahun lalu, 26 Januari 1950 Penguasa Britania Raya mengesahkan Konstitusi India yang menandakan India telah sah menjadi negara merdeka dan berdaulat.

Rakyat India menyebut Hari Kemerdekaan dengan sebutan “Hari Republik.” Perayaan kemerdekaan setiap tahunnya dipusatkan di Bukit Raisina, dekat Istana Rashtrapati yang merupakan istana presiden terbesar di dunia. Dari sana parade militer bergerak, menyusuri jalan utama dan melewati Indian Gate, dan berakhir di Red Fort (Benteng Merah), peninggalan Kekaisaran Mughal yang berlokasi di Old Delhi.

Pada tahun lalu Presiden Joko Widodo dan para pemimpin negara-negara anggota ASEAN diundang ke New Delhi untuk menghadiri Hari Republik ke-69. Presiden Indonesia lainnya yang pernah hadir di perayaan tersebut adalah Presiden Soekarno dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden Soekarno merupakan Kepala Negara asing pertama yang diundang untuk merayakan Hari Republik India yang pertama dan media di sana menyebutnya sebagai orang kuat Asia yang diundang.

Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Jawarharlal Nehru adalah dua pemimpin Asia yang bersahabat. Keduanya pejuang kemerdekaan dan founding fathers, serta inisiator kekompakan Asia-Afrika melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung Tahun 1955. Keduanya memiliki impian penguatan kerjasama selatan-selatan sebagai bentuk perlawanan hegemoni utara atas selatan.

Kesetiaan Nehru kepada Soekarno terlihat ketika Indonesia diserang kembali oleh Belanda yang dikenal sebagai Agresi Militer II. Pada 19 Desember 1948 Belanda menghujani Yogyakarta dengan bom. Kala itu Yogyakarta adalah Ibukota Republik Indonesia. Aksi militer ini sebagai bentuk pengingkaran Perjanjian Renville yang dilakukan Belanda.

Setelah Yogyakarta ditaklukkan, pada 22 Desember 1948 Belanda menangkap dan mengasingkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Perdana Menteri Sutan Sjahril, Menteri Luar Negeri H. Agus Salim, Kepala Staf Angkatan Udara RS. Soerjadarma, Ketua KNIP Assaat, dan Sekretaris Negara AG. Pringgodigdo ke Pulau Sumatera (Sejarahnusantara.com, I Desember 2014).

Peranan Radio Rimba Raya di Aceh

Saat Yogyakarta dan daerah lainnya tidak berdaya ditambah dengan propaganda siaran radio milik Belanda, Helversum, yang menyebutkan bahwa Indonesia telah bubar dan para pemimpinnya telah ditawan, maka dari Aceh berkumandang siaran anti propaganda ke penjuru dunia, melalui Radio Rimba Raya.

Radio Rimba Raya menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada dan belum sepenuhnya dikuasai Belanda. Radio yang berkekuatan 350 watt telegrafi dan 300 watt telefoni mengudara menggunakan 6 bahasa; Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Bahasa Cina, Bahasa Hindustan, Bahasa Belanda, dan Bahasa Indonesia (Mahmud Aziz, Teuku Cut & Idris, Amiruddin, 2015).

Karena pengaruh siaran Radio Rimba Raya inilah yang menyebabkan Perdana Menteri Nehru dengan dukungan Pemerintah Burma menginisiasi penyelenggaraan Konferensi Inter-Asia di New Delhi pada 20-23 Januari 1949. Konferensi yang dihadiri perwakilan negara-negara Asia, Afrika, dan Oceania, khusus membahas dan mengutuk keras agresi militer Belanda di Indonesia.

Hasil konferensi cukup signifikan dan dapat memaksa PBB turun tangan untuk menyelesaikan konflik antara Belanda dan Indonesia. DK PBB mengeluarkan Resolusi 67 pada 28 Januari 1949 yang berisi poin-poin penghentian semua aksi militer Belanda di Indonesia.

Sebelas bulan kemudian, tepatnya pada 27 Desember 1949 dilakukan penandatanganan persetujuan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Hague) yang mengakhiri konflik bersenjata antara Indonesia dan Belanda (Rumintang, 2008: 14, TWH, 13 September 2014 & Tirto.id, 28 Januari 2018). Mungkin tanpa jasa besar Nehru, sejarah kemerdekaan Republik Indonesia mungkin akan melalui jalan yang berbeda. (***)

  • Penulis adalah dosen prodi HI FISIP Universitas Almuslim
  • Peraih hibah riset dan anggota Tim Market Intelligence BPPK Kemlu RI tahun 2018
  • Pengampu mata kuliah Paradiplomasi dan Kerjasama Internasional

E-Mail: ponubitt@gmail.com

BERBAGI