DBD Serang Warga di Pidie

    BERBAGI
    Salah seorang warga Gampong Raya Paya, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, sedang membersihkan lingkungannya, seperti bak penampungan air yang dianggap menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk aedes aegypty, Sabtu (2/2/2019).(Foto/Muhammad Riza)

    Sigli (Waspada Aceh) – Akibat perubahan cuaca, penyakit demam berdarah dengue (DBD) menyerang 14 warga dalam 12 kecamatan di Kabupaten Pidie, akibat gigitan nyamuk aedes aegypty.

    Kadis Kesehatan Pidie Efendi, Sabtu (2/2/2019) mengatakan, memasuki Januari 2019 telah ditemukan 14 kasus penderita DBD. Mereka tersebar di 12 kecamatan, yaitu Glumpang Tiga, Glumpang Baro, Mutiara Timur, Tiro, Tangse, Padang Tiji, Delima, Grong-Grong, Indrajaya, Peukan Baro, Bate, dan Kecamatan Pidie.

    Efendi mengungkapkan untuk mengantisipasi mewabahnya DBD di daerah itu, Dinas Kesehatan Pidie, telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya membetuk Gerakan Satu Rumah, Satu Jumantik (juru pemantau jentik).

    Dengan adanya gerakan itu, masing-masing Jumantik dapat melakukan pemantauan terhadap jentik nyamuk aedes aegypty. Hal itu menurutnya perlu dilakukan mengingat penyebaran DBD itu melalui nyamuk tersebut dan setidaknya faktor sikonnya terpantau selalu dalam masyarakat.

    “Karena itulah, kami begitu mengetahui ada laporan 14 warga kita yang terserang DBD. Kami langsung melakukan rapat dengan 26 Puskesmas yang ada di Pidie. Rapat itu kita lakukan untuk memperkuat petugas Puskesmas dengan memberdayakan masyarakat, kita bentuk Gerakan Satu Rumah, Satu Jumantik,” katanya.

    Turno, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Pidie, berharap kepada warga, begitu mengetahui ada keluarganya yang terjangkit DBD langsung membawa ke Puskesmas untuk segera diambil tindakan.

    Turno menjelaskan bahwa fogging merupakan langkah terakhir, dan langkah itu juga tidak menyelesaikan masalah. “Kgita foging tidak mungkin semua nyamuk. Jangan masyarakat pikir, bahwa fogging itu menyelesaikan masalah, itu tidak. karena nyamuk berikutnya yang jentik siklus hidupnya sampai dua minggu, itu akan muncul kembali,” kata Turno.

    Kepala Bidang Pelayanan Medis Rumah Sakit Umum Tgk. Chik Di Tiro Sigli, dr. Dwi Wijaya, mengungkapkan, terhitung 1 Februari 2019, RSUD Tgk Chik Ditiro telah merawat sedikitnya 10 penderita terserang DBD. Semua pasien, katanya, saat diterima pihaknya dalam kondisi tidak parah. (b10)

    BERBAGI