Kisah Muallaf asal Medan, di Kehidupan Barunya di Aceh Jaya

    BERBAGI
    Muhammad Hidayat, 36 tahun, muallaf di Aceh Jaya, bercerita tentang kehidupan barunya sebagai Muslim. (Foto/Zammil)
    Muhammad Hidayat, 36 tahun, muallaf di Aceh Jaya, bercerita tentang kehidupan barunya sebagai Muslim. (Foto/Zammil)

    Calang (Waspada Aceh) – Bak tanaman di gurun tandus dan gersang, yang kemudian merasakan air hujan, begitulah kira-kira gambaran perasaan Muhammad Hidayat, 36, muallaf di Aceh Jaya dengan kehidupan barunya sebagai Muslim.

    “Sekarang jiwa ku tenang dan tenteram. Apalagi sesudah selesai sembahyang, hati aku damai bang. Hilang semua kegelisahan,” tutur Hidayat kepada Waspadaaceh.com, Selasa (29/1/2019) di Calang.

    Hidayat menambahkan, sekitar 9 bulan yang lalu, di Medan, dia bertemu dengan Yusuf, yang kini menjadi bapak angkatnya di Aceh Jaya. Secara kebetulan, saat itu Yusuf sedang mencari pekerja untuk mengurus kebun. Lalu, Hidayat yang belum punya pekerjaan, langsung menawarkan diri untuk bekerja di kebun milik Yusuf.

    “Saya asal dari Medan bang, tepatnya di Jln. Pelita Lima, Durian, Medan Perjuangan,” pungkasnya.

    Ketertarikannya terhadap Islam, lanjutnya, sudah sejak kecil. Karena dia sering mendengar lantunan azan di salah satu masjid yang berada di dekat tempat tinggalnya.

    “Ketika berada di Aceh Jaya, saya melihat masyarakat di sini saling menghargai antar pemeluk agama. Saya sangat nyaman dengan itu. Hingga pada tanggal 18 Desember 2018, atas kesadaran sendiri dan didampingin bapak Yusuf,  saya memutuskan untuk mengucap dua kalimah syahadah di Masjid Agung Calang,” terangnya.

    Saat ditanya Waspadaaceh.com tentang apa yang akan dilakukan ke depan, Hidayat menjawab, saat ini ianya memiliki cita-cita, memiliki kebun dan satu unit rumah sederhana untuk tempat tinggal sehingga bisa nyaman beribadah.

    “Saya di sini (Aceh Jaya) cuma numpang tinggal sama orang. Di sini pun saya tidak memiliki sanak famili dan saya hanya mengharap kepada Allah, agar dimudahkan kehidupan saya ke depan,” kata Hidayat.

    Untuk berkebun, lanjutnya, bapak angkatnya sudah menyediakan tanah seluas 8 hektare. Namun, dia belum bisa menanam apa pun, karena terkendala dengan biaya.

    “Tanah sudah saya bersihkan, namun saya belum cukup uang untuk membuat pagar,” tutur pria yang sebelum memeluk Islam memiliki nama Wawaseb Purba ini.

    M. Yusuf, bapak angkat Muhammad Hidayat kepada Waspadaaceh.com menyampaikan, dia tidak keberatan menampung Hidayat di rumahnya.

    “Selama ini saya tidak keberatan menerima Hidayat, namun saya juga ada tanggungan lain yang harus saya penuhi,” kata Yusuf

    Dari itu, lanjut Yusuf, dia mengajak Hidayat untuk berkebun agar kehidupan perekonomiannya terbantu dan dia pun sangat menyukainya.

    “Saya hanya mampu meminjamkan 8 hektare tanah selama dia masih mau berkebun. Untuk perlengkapan lainnya, saya belum mampu membantu,” tuturnya.

    “Islam ini adalah agama yang damai dan juga mengajarkan untuk saling membantu. Maka saya punya keyakinan, Allah akan mengilhamkan kepada hambanya untuk membantu hidayat,” tutupnya (zammil).

    BERBAGI