Beranda Aceh Kombes Pol T.Saladin, Dirreskrimsus Polda Aceh

Kombes Pol T.Saladin, Dirreskrimsus Polda Aceh

BERBAGI
Komisaris Besar (Kombes) Polisi Teuku Saladin, segera menjabat Dirreskrimsus (Direktur Reserse Kriminal Khusus) Polda Aceh. (Foto/Ist)
Komisaris Besar (Kombes) Polisi Teuku Saladin, segera menjabat Dirreskrimsus (Direktur Reserse Kriminal Khusus) Polda Aceh. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Komisaris Besar (Kombes) Polisi Teuku Saladin, dipastikan bakal menjabat Dirreskrimsus (Direktur Reserse Kriminal Khusus) di Polda Aceh, menggantikan Kombes Pol Erwin Zadma, yang ditarik ke Bareskrim Polri.

Pengangkatan Saladin sebagai Direskrimsus Polda Aceh, sebagaimana tercatat dalam surat keputusan Kapolri nomor Kep/97/1/2019 tertanggal 22 Januari 2019. Dalam surat TR tersebut, Kombes Pol Saladin diangkat sebagai Dirreskrimsus Polda Aceh menggantikan Kombes Pol Erwin Zadma, yang dimutasi sebagai analisis kebijakan madya bidang Pideksus Bareskrim Polri.

T.Saladin lahir di Punge, Meuraksa, Banda Aceh, 10 Agustus 1963. Ayahnya bernama Teuku A Rahman Ali, ibunya Cut Kamariah. Saladin merupakan anak ke-10 dari 13 bersaudara. Saladin bersaudara terdiri dari lima laki-laki dan delapan perempuan.

Sejak 5 Januari 2018, Saladin mengemban tugas sebagai Kabid TIK Polda Aceh. Saladin, yang lulusan Sepamilsuk Polri 1991 ini berpengalaman dalam bidang reserse. Dia pernah juga mengemban tugas sebagai Kapolres Bireuen, dan Kapolresta Banda Aceh.

Perjalanan Hidup Saladin

Saladin kecil memang sudah terbiasa mandiri. Dia rajin membantu meringankan nafkah keluarganya sejak duduk di kelas 1 sekolah dasar. Ekonomi keluarganya yang pas-pasan, membuat kedua orangtua Saladin membiarkan anaknya itu nyambi mencari uang.

Pada tahun 1974, Saladin yang ketika itu masih duduk di kelas 4 SD, pindah ke Jambi mengikuti abangnya yang bertugas sebagai polisi, TS Guliansyah. Ketika itu abangnya menjabat sebagai Kapolsek Muara Bungo, Jambi.

Saladin kemudian mengikuti abangnya yang pindah ke Palembang, pada tahun 1977, saat Saladin duduk di kelas 1 SMP. Abang Saladin dimutasi menjadi Kanit Resmob Polda Sumatera Selatan.

Saladin sekitar satu tahun di Palembang. Saat duduk di kelas 2 SMP, Saladin harus kembali ke Aceh. Abangnya, Guliansyah, lulus PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) di Jakarta.

Ketika itu, orangtua Saladin yang PNS, juga sudah pindah dari Lhokseumawe ke Bireuen. Saladin pun melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 1 Bireuen, hingga lulus tahun 1981.

Dasar tidak mau membuang waktunya yang luang, sambil sekolah Saladin bekerja sambilan di bengkel motor. Bahkan dia dengan percaya diri menjadi calo tiket di terminal bus Bireuen, untuk bisa memiliki penghasilan sendiri tanpa membebani kedua orangtuanya.

Begitu menyelesaikan pendidikannya di SMA tahun 1984, Saladin merantau ke Semarang. Sebenarnya dia ingin masuk Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tapi, keinginannya itu ditentang oleh abangnya, Guliansyah, yang saat itu menjabat Komandan Brimob di Semarang. Abangnya ingin Saladin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Gagal masuk Akabri, Saladin pun akhirnya melanjutkan studinya di Universitas 17 Agustus (Untag), Semarang. Dia mengambil jurusan Fakultas Hukum. Sambil kuliah dia juga bekerja untuk bisa mendapat uang tambahan.

Setahun tinggal bersama abangnya di Asrama Brimob, Saladin memutuskan untuk pindah ke rumah kos agar bisa mandiri. Meski awalnya keberatan, tapi kemudian abangnya merestui Saladin untuk tinggal di rumah kos.

Keinginan Saladin menjadi polisi belum pupus. Saat duduk di semester 4, tanpa sepengetahun abangnya, dia mengikuti tes di Akademi Kepolisian (Akpol). Tapi usahanya gagal. Saladin tak lulus tes. Dia pun kemudian berkonsentrasi untuk menyelesaikan kuliahnya.

Saladin akhirnya meraih gelar sarjana hukum (SH) dari Universitas 17 Agustus tahun 1990. Empat bulan setelahnya, Saladin memutuskan mengikuti tes Sepa Milsuk (Sekolah Perwira Militer Sukarela).

Untuk pilihannya ini, abangnya mendukung. Guliansyah memandunya untuk menghadapi persiapan, mulai dari psikotes, kesehatan hingga tes fisik.

Perjuangan Saladin menjadi polisi, akhirnya tercapai. Dia lulus diterima masuk Sepa bersama 62 peserta lainnya dari seluruh Indonesia. Selama tujuh bulan mereka digembleng di Secapa, Sukabumi.

Karir Saladin di Kepolisian

Pada Juli 1991, setelah lulus Sepa, Saladin mengawali karirnya sebagai seorang polisi di Polda Jawa Tengah. Jabatan pertamanya adalah Panit I Sidik Exim Serse Ekonomi, Ditserse Polda Jateng, dengan pangkat Inspektur Satu (Iptu).

Setahun kemudian, tahun 1992, Saladin mengikuti pendidikan khusus, Padas Serse. Setelah dua tahun jadi polisi, Saladin memutuskan untuk berumah tangga. Wanita idamannya adalah Sri Asih Anggorowati, seorang asisten apoteker. Istrinya ini meninggal dunia karena sakit, Saladin kemudian menikah lagi dengan Linda Rismauli Manalu, yang mendampingnya sampai sekarang.

Tahun 1994, selepas mengikuti Palan Serse, Saladin menjabat Kanit I Bag Serse Ekonomi, Ditserse Polda Jateng. Tahun 1997 pangkatnya menjadi Ajun Komisaris Polisi (AKP), setahun kemudian Saladin mengikuti Selapa.

Dia ditugaskan di Lembaga Pendidikan Latihan (Lemdiklat) Polri pada April 2000 sebagai Guru Muda Secapa. Setahun kemudian dia menjadi Pasdep Juang Secapa. Saladin kemudian dimutasi ke Polda Metro Jaya pada September 2001 dengan jabatan Kaur Binops Satserseum Ditserse. Setahun kemudian pangkatnya naik satu tingkat menjadi Komisaris Polisi (Kompol).

Karir Saladin terus menanjak hingga pada 28 Februari 2003, dia menjabat sebagai Kanit II Sat I/Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Pada 10 Februari 2006, Saladin mengikuti Sespim (Sekolah Pimpinan) Polri. Beberapa bulan kemudian dia ditugaskan ke tanah kelahirannya Aceh. Awalnya, Saladin bersatus Pamen Polda Aceh. Pada 27 Juli 2006, Saladin menjabat Kasat Ops II Ditreskrimum Polda NAD. Lalu, Kasat Ops I Ditreskrim, kemudian Kasat Ops III Ditreskrimum sejak 30 November 2006.

Awal tahun 2007, pangkat Saladin naik menjadi AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi). Pada Desember 2007, Saladin menjabat sebagai Kapolres Bireuen, yang merupakan kampung halaman orang tuanya. Saladin bertugas di sana selama hampir tiga tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Kalimantan Tengah.

Pada Mei 2010, Saladin menjabat Kapolres Katingan, Polda Kalteng. Belum sampai setahun dia ditarik kembali ke Polda Aceh dengan jabatan Wadir Reskrimum. Kemudian pada Januari 2012, Saladin ditarik ke Mabes Polri. Saladin memegang jabatan sebagai Kasubbagbarbuk Bagtahti Rorenmin Bareskrim selama hampir tiga tahun.

Saladin kembali ke Aceh pada Maret 2015 dengan jabatan Kabid Humas Polda Aceh. Beberapa bulan kemudian, pangkat Saladin naik satu tingkat menjadi Komisaris Besar (Kombes) Polisi.

Dari Kadiv Humas Polda Aceh, pada Mei 2016, Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi melantik T. Saladin menjadi Kapolresta Banda Aceh. Januari 2018, Saladin mengemban tugas sebagai Kabid TIK Polda Aceh, dan akhirnya Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, melalui surat keputusan Kapolri nomor Kep/97/1/2019 tertanggal 22 Januari 2019, mengangkat Saladin sebagai Direskrimsus Polda Aceh. (Ria)

BERBAGI