Beranda Tulisan Feature Memburu Kopi Arabika di “Kota Gurindam” Tanjungpinang

Memburu Kopi Arabika di “Kota Gurindam” Tanjungpinang

BERBAGI
Menikmati kopi arabika di Barista Coffee Shop, Tanjungpinang, ditemani Diyah Tiara, Zekma Albert dan Nyonya. (Foto/Ist)
Menikmati kopi arabika di Barista Coffee Shop, Tanjungpinang, ditemani Diyah Tiara, Zekma Albert dan Nyonya. (Foto/Ist)

RASA lelah, setelah mengunjungi beberapa lokasi wisata, terbayar sudah. Penulis baru menemukan pengobat lelah itu justru setelah tiga hari berada di “kota gurindam”.  Kota Gurindam adalah sebutan populer untuk Kota Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau ini.

“Baru kali ini saya menikmati kopi arabika. Benar-benar berbeda. Tubuh jadi ringan, rasa penat pun menghilang,” kata Diyah Tiara, wanita bertubuh langsing, yang menemani penulis berkeliling di kota indah itu, Minggu (23/12/2018).

“Saya selama ini gak tau kalau minum kopi tanpa gula itu benar-benar nikmat. Sakit kepala saya jadi reda. Ini terasa sudah nyaman,” ujar Ny.Zekma Albert, selepas menyeruput kopi arabika Toraja.

Selama mengunjungi beberapa lokasi wisata di Pulau Bintan ini, penulis memang ditemani Diyah Tiara, Zekma Albert dan istrinya. Zekma Albert adalah Wakil Pemimpin Redaksi Sijorikepri.com.

Agaknya tak cukup bila hanya melihat tempat wisata saja selama berada di Tanjungpinang. Sudah menjadi keharusan, saat berada di Medan atau di Aceh, paling tidak penulis mesti menikmati seduhan kopi arabika 1 – 2 cangkir dalam sehari.

Ternyata bukan perkara gampang untuk mencari kopi arabika di kota yang berpenduduk sekitar 260.519 jiwa ini (data Disdukcapil, Maret 2017).

Sejak hari pertama tiba di kota yang dikenal sebagai cikalbakal bahasa Melayu modern yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia ini, penulis “memburu” warung atau kafe untuk menemukan kopi arabika. Hasilnya nihil.

“Di sini kopi saring pak, pakai kopi robusta. Kita tidak menyediakan kopi arabika,” kata seorang barista di salah satu kafe di sekitar Batu 8 Tanjungpinang. Setidaknya ada lima warung atau kafe yang dikunjungi penulis, tapi jawabannya sama.

Sampai akhirnya penulis memperoleh info dari salah seorang pengusaha kopi di Medan, M.Fachriz Tanjung. Dia mengirim alamat mitranya di Tanjungpinang, kafe yang menyediakan kopi arabika. Kami tiba di kafe ini, sore sekitar pukul 15.00, setelah 5 jam berkeliling melihat sudut-sudut kota.

“Ini pak arabika Toraja, ada juga Gayo, Mandailing, Sidikalang dan wine,” ujar Hafidz, barista di Coffee Shop Barista yang beralamat di Batu 8 komplek D’Green City Tanjungpinang. Hafidz mempromosikan beberapa varian kopi arabika unggulan kafe tersebut.

Pilihan kami tepat, ketika meminta arabika Toraja, dengan layanan seduhan V-60, 150 Cc. Kemudian kami lanjut dengan mencoba wine kopi, juga dengan proses seduhan V-60.

Tentu kami harus bersabar menunggu seduhan kopi yang menetes pelan ke wadah (bejana) kaca. Seduhan ala V-60 memang membutuhkan waktu. Tetes demi tetes tak luput dari pandangan Zekma Albert, Dyah dan Nyonya Zekma. Hingga seduhan kopi arabika ini disuguhkan di atas meja.

“Enak ini. Gak pake gula, rasanya malah makin nikmat,” ujar Diyah, sambil mengangkat gelas kecilnya untuk sesi foto.  

Ini lah perburuan kami di kota yang telah melahirkan Gurindam 12 dan Bustanil Katibin. Perburuan untuk sekedar menikmati segelas kopi arabika. (al-farizi)

BERBAGI