Mengenang 14 Tahun Tsunami: PWI Aceh Gelar Doa dan Ziarah Kubur

    BERBAGI
    Wali Kota, Aminullah Usman, didampingi Plt Ketua PWI Aceh, Aldin Nl, penasehat Percasi Aceh, H Keuchik Leumik, Ketua DKP PWI Aceh, Drs A H Dahlan TH, menabur bunga usia doa dan tausiah mengenang 14 Tahun Tsunami di kuburan massal Ulee Lheue, Kec Meraxa Banda Aceh, Senin (24/12/2018). (Foto/Ist)
    Wali Kota, Aminullah Usman, didampingi Plt Ketua PWI Aceh, Aldin Nl, penasehat Percasi Aceh, H Keuchik Leumik, Ketua DKP PWI Aceh, Drs A H Dahlan TH, menabur bunga usia doa dan tausiah mengenang 14 Tahun Tsunami di kuburan massal Ulee Lheue, Kec Meraxa Banda Aceh, Senin (24/12/2018). (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Untuk mengenang 14 tahun tsunami (26 Desember 2004 -26 Desember 2018), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh menggelar doa besama dan ziarah ke kuburan massal Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Senin (24/12/2018).

    Selain ziarah dan doa bersama untuk para syuhada gempa dan tsunami Aceh, PWI Aceh juga memberikan santunan kepada sejumlah anak yatim di lingkungan PWI Aceh yang orang tuanya telah berpulang ke Rahmatullah, berlangsung di gedung PWI Aceh.

    Tampak hadir dalam acara ziarah dan doa bersama PWI Aceh, itu Wali Kota Banda Aceh, H.Aminullah Usman, Plt. Ketua PWI Aceh Aldin NL, tokoh pers dan budayawan Aceh H.Harun Keuchik Leumik, mantan Ketua PWI Aceh, Adnan Ns, Ketua DKD, Dahlan TH, pengurus IKWI PWI Aceh dan sejumlah insan pers lainnya.

    Plt. Ketua PWI Aceh, Aldin Nl, dalam arahan singkatnya mengatakan, para wartawan Aceh yang meninggal pada peristiwa gempa dan tsunami, kebanyakan mereka sedang menjalankan tugas peliputan.

    “Rekan-rekan kita yang meninggal itu karena sedang menjalankan tugas jurnalistiknya,” ujar Aldin seraya mengucapkan terima kasih kepada sejumlah pihak yang berkontribusi memberikan dukungannya pada acara mengenang peristiwa tsunami itu.

    Sedangkan Ketua DKD PWI Aceh, Dahlan TH, yang isterinya menjadi korban tsunami, mengatakan, jumlah wartawan yang tergabung dalam PWI Aceh yang menjadi korban gempa dan tsunami itu tercatat ada 28 orang.

    “Namun, bila kita hitung keluarga besar PWI Aceh yang menjadi korban gempa dan tsunami pada 26 Desember 2014, ada sejumlah 103 orang,” ungkap Dahlan, yang juga Direktur TV Aceh itu.

    Sementara itu, Ustadz Maulana Mahdi al-Hafiz, Pimpinan Dayah Darul Ulum Al-Imdadiyah, Lhutu, Sibreh, Aceh Besar, dalam tausiahnya di PWI Aceh menjelaskan, ada tiga amalan yang Allah SWT mengangkat azab atas suatu kampung atau suatu negeri yang seharusnya ditimpakan azab tersebut.

    Ketiga amalan tersebut yakni memakmurkan masjid dengan shalat berjamaah, banyak-banyak membaca al-Qur’an dan selalu beristiqfar kepada Allah Swt, katanya.

    Kata ustad Mahdi, orang-orang yang selalu menjaga shalat berjamaah maka doa-doa mereka diterima Allah Swt, namun orang-orang yang meninggalkan shalat doa mereka tidak dijabah oleh Allah Swt.

    “Kalau suatu negeri beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, maka Allah Swt akan membuka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi,” tutur ustad Mahdi mengutip ayat suci Al-Qur’an.

    Sebenarnya, ungkap ustad Mahdi, musibah yang terjadi di suatu tempat bukan berarti Allah Swt benci kepada kaum tersebut. Namun untuk mengangkat harkat atau derajat mereka di hadapan Allah Swt. Tapi kita juga tidak boleh merasa aman dari musibah tersebut, ujarnya.

    Menurut ustad Mahdi, orang-orang Yahudi itu mereka tidak takut dengan jumlah umat Muslim di dunia saat ini atau persenjataan yang lengkap yang dimiliki oleh umat Islam. Namun, mereka takut jika umat Islam senantiasa memakmurkan masjid, atau ketika shalat lima waktu ramainya sama dengan shalat Jumat.

    Sedangkan selanjutnya yang dapat menolak atau terhindar azab dari Allah itu yakni banyak membaca Al-Qur’an yang merupakan cara berkomunikasi kita dengan Allah Swt serta orang-orang yang selalu beristiqfar kepada Allah Swt. (b02/C)

    BERBAGI