Aceh Buka Peluang Investasi di Kawasan Industri

    BERBAGI
    Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Staf Khusus Menteri Perindustrian Bidang Investasi dan Hubungan antar Lembaga, I Gusti Putu Suryawirawan, BPIW Kementerian PUPR, Iwan Nurwanto, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali dan Ketua TP2KIA, Mustafa Hasbullah saat lounching Kawasan Industri Aceh, Kamis (20/12/2018). (Foto/Ist)
    Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Staf Khusus Menteri Perindustrian Bidang Investasi dan Hubungan antar Lembaga, I Gusti Putu Suryawirawan, BPIW Kementerian PUPR, Iwan Nurwanto, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali dan Ketua TP2KIA, Mustafa Hasbullah saat lounching Kawasan Industri Aceh, Kamis (20/12/2018). (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Pemerintah Aceh kembali membuka peluang investasi kepada para investor, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk memanfaatkan Kawasan Industri Aceh (KIA) di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar.

    Kawasan industri ini diresmikan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, bersama Staf Khusus Menteri Perindustrian Bidang Investasi dan Hubungan antar Lembaga,  I Gusti Putu Suryawirawan, BPIW Kementerian PUPR, Iwan Nurwanto, Bupati Aceh Besar, Mawardi Ali dan Ketua TP2KIA, Mustafa Hasbullah. KIA disiapkan sebagai lokasi untuk membangun pabrik dan berbagai usaha industri.

    Di Area seluas 66 hektare yang sudah dibebaskan dari 250 hektare yang direncanakan, KIA memilki prospek yang sangat menguntungkan bagi para pengusaha. Selain berada di lokasi yang strategis karena dekat dengan Kota Banda Aceh dan Pelabuhan Malahayati, KIA juga sudah memilki beberapa sarana pendukung seperti listrik dan air bersih.

    “Kita akan mulai dari industri – industri halal, seperti industri makanan kecil, handicraft dan lain sebagainya. Sehingga nantinya kita mampu memutus ketergantungan kita dengan daerah lain,” ujar Nova.

    Nova meyakini, KIA akan mampu mendongkrak pereknomian dan industri di Aceh untuk menyejahterakan masyarakat. Kehadiran berbagai industri di dalam KIA Ladong nantinya akan meningkatkan nilai tambah bagi komoditas dan produk Aceh.

    Beberapa kemudahan yang ditawarkan bagi para investor, kata Nova, seperti masa tenggang penyewaan lahan. Para investor baru membayar sewa ketika sudah mulai beroperasi dan berproduksi. Selain itu, kementerian perindustrian juga menawarkan kemudahan perizinan dan pemberian insentif.

    Kementerian perindustrian, kata Nova, juga akan membangun sekolah-sekolah vokasional maupun pusat pelatihan untuk mendukung kebutuhan tenaga terampil di kawasan KIA nantinya.

    Sementara itu, Ketua TP2KIA, Mustafa Hasbullah, menyampaikan bahwa pembangunan KIA Ladong sudah ada sejak tahun 2009. Namun katanya, pembangunannya sempat terhenti dan baru kemudian dilanjutkan setelah dibentuknya Tim Percepatan Pemanfaatan Kawasan Industri Aceh (TP2KIA) pada tahun 2015.

    Untuk memenuhi kebutuhan energi listrik, kata Mustafa,  PLN yang sudah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan listrik. Saat ini, PLN juga sedang membangun PLTG berkapasitas 50 MW di Ladong. Sedangkan untuk kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Krueng Aceh melalui PDAM Tirta Montala Aceh Besar.

    Pada kesempatan tersebut, Mustafa juga menyampaikan bahwa saat ini sudah ada calon investor dari Malaysia dan Korea yang akan berinvestasi di KIA. Begitu juga dengan beberapa pengusaha lokal lainnya yang ada di Aceh.

    Beberapa calon investor dari dalam dan luar negeri juga tampak hadir pada peresmian KIA tersebut, antara lain dari PT. Medan Tropical Canning yang bergerak di bidang industri hasil laut, PT. Invilon Sagita yang bergerak di bidang Industri pipa, PT. Asia Sakti Wahid Foods Manufacture yang bergerak di bidang produksi biskuit, Trans Continent dari Jakarta yang bergerak di bidang perkapalan, logistik dan transportasi.

    Selain itu, perusahan dari luar negera yaitu, Perusahaan Sany Group dari China dan Taiwan Port Operator (Port of Kaohsiung) dari Taiwan. (ria)

    BERBAGI