Beranda Wisata & Travel Situs Istana Karang di Aceh Tamiang Tidak Terurus

Situs Istana Karang di Aceh Tamiang Tidak Terurus

BERBAGI
Istana Karang yang berada di pinggir jalan negara Banda Aceh – Medan, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, terkesan tidak terurus lagi. (Foto/Ist)
Istana Karang yang berada di pinggir jalan negara Banda Aceh – Medan, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, terkesan tidak terurus lagi. (Foto/Ist)

Aceh Tamiang (Waspada Aceh) – Situs sejarah bangunan Istana Karang yang berada di pinggir jalan negara Banda Aceh – Medan, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, terkesan tidak terurus lagi.

Lokasi Istana Karang tersebut pada tahun 1970 terjadi blow out sumur KSB – 54 milik Pertamina EP Rantau, sehingga berimbas terhadap bangunan Istana Karang itu. Kemudian pada 13 April 2000, Pertamina melakukan pembayaran ganti rugi kepada ahli waris Istana Karang sehingga lahan ini menjadi asset Pertamina.

Pada Oktober 2014, PT Pertmina (Persero) menyerahkan kembali lokasi dan bangunan Istana Karang kepada Pemkab Aceh Tamiang, saat itu Bupati Aceh Tamiang masih dijabat H.Hamdan Sati.

Asrizal Asnawi, anggota DPRA, terkait keberadaan Istana Karang kepada Waspadaaceh.com, Minggu (16/12/2018), menyayangkan bangunan bersejarah itu tidak dirawat dengan baik. Padahal, kata Asrizal, jelas-jelas Istana Karang adalah bangunan yang harus dilestarikan.

Dikatakan Asrizal, PT Pertamina sudah menghibahkan kembali asset Istana Karang ke Pemkab Aceh Tamiang. Tapi sayangnya Pemkab Aceh Tamiang mengaku tidak memiliki dokumen yang kuat terkait hibah tersebut.

“Hal ini kita ketahui saat ahli waris Amir Hasan menyampaikan langsung ke saya dan meminta Pemerintah Aceh, Pemkab Aceh Tamiang dan Pertamina, memperlakukan Istana Karang ini sesuai kepatutannya,” ungkap Asrizal.

“Hari ini tampak tidak dirawat dan tidak difungsikan sebagaimana mestinya, sudah pasti lambat laun bangunannya bisa rusak dan tidak bernilai lagi,” sebut Asrizal, politisi muda dari Partai Amanat Nasional (PAN).

“Saya minta Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haytar, untuk mempertimbangkan agar Istana Karang ini menjadi kediaman Wali Nanggroe di wilayah timur Aceh,” harapnya.

Hal itu sesuai dengan fungsinya, lembaga Wali Nanggroe adalah lembaga yang menjaga dan melestarikan adat dan budaya Aceh, tidak terkecuali Aceh Tamiang yang sangat kaya dengan adat istiadatnya. (cri,).

BERBAGI