Beranda Wisata & Travel Banyak Wisatawan Komplain Minimnya Restoran Berlabel Halal di Aceh

Banyak Wisatawan Komplain Minimnya Restoran Berlabel Halal di Aceh

BERBAGI
Pertemuan Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin, dengan pengusaha restoran/rumah makan dan kafe di sebuah rumah makan di Banda Aceh, Kamis (29/11/2018). (Foto/Ist)
Pertemuan Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin, dengan pengusaha restoran/rumah makan dan kafe di sebuah rumah makan di Banda Aceh, Kamis (29/11/2018). (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Plt Kadis Pariwisata Aceh mengakui hingga kini
masih sedikit restoran dan rumah makan di Aceh yang berlabel halal. Akibatnya banyak wisatawan asing komplain.

“Mari kita, pemilik restoran/rumah makan dan cafe, ramai-ramai datang ke MPU (Majelis Permusyawatan Ulama) Aceh dan pihak BPOM untuk mengurus label halal. Mumpung gratis ke BPOM,” ajak Plt Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin, di sebuah rumah makan di Banda Aceh, Kamis (29/11/2018).

Di hadapan pemilik restoran, rumah makan dan kafe di Banda Aceh, Amiruddin menyebutkan, label halal adalah salah satu faktor pendukung kehadiran wisatawan asing Muslim ke Aceh. Pihaknya kini sedang gencar mempromosikan pariwisata Islami Aceh di kawasan Timur Tengah.

“Upaya ini harus didukung oleh pemilik restoran dan rumah makan. Tanpa kita memperbaiki dan membersihkan tempat usaha kita yang menyajikan makanan halal dan bersih, jangan harap wisatawan akan tertarik melakukan kunjungan ke daerah kita,” ujarnya.

Muncul pertanyaan, Provinsi Aceh yang penduduknya mayoritas Muslim mengapa mesti pula harus menggunakan label halal? Amiruddin menjelaskan, makanan halal tidak hanya terletak pada proses pemotongan saja tapi juga yang paling utama adalah masalah kebersihan, termasuk sanitasi di bagian belakang atau dapur serta kamar kecil (toilet).

“Harus saya akui yang terakhir ini rumah makan dan restoran termasuk kafe di tempat kita masih jauh dari bersih alias masih jorok,” kritik Amiruddin.

“Inilah yang di komplain oleh wisatawan, karena mereka menyimpulkan bahwa pada umumnya warung-warung kita masih sangat corok, “ jelas dia lagi.

Dia mencontohkan dalam satu ember air di warung masih digunakan untuk mencuci seratus sendok/piring. Dan hal itu, jelas mencerminkan hal negatif karena bisa langsung disaksikan oleh wisatawan.

Kecuali itu, Amiruddin minta agar pemilik restoran dan kafe menyediakan fasilitas
rumah ibadah. “Meski kecil harus ada karena kita berlakukan wisata syariah,” tegasnya.

Salah satu warung kopi yang menyediakan fasilitas tempat shalat seperti Cut Nun di samping kantor Dinas Pariwisata Aceh, sekarag setiap malam banyak dikunjungi oleh turis dari Malaysia.

Kadis Pariwisata Kota Banda Aceh, M Riza, tidak menampik begitu banyak komplain dari wisatawan. “Padahal setiap tahun kita selenggarakan sosialisasi kepada para mitra kerja sektor pariwisata di kota Banda Aceh,” ujarnya. (b01)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here