Beranda Aceh Turis AS Dibunuh Suku Terasing di Andaman, Pulau yang Dekat dengan Aceh

Turis AS Dibunuh Suku Terasing di Andaman, Pulau yang Dekat dengan Aceh

BERBAGI

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Seorang warga Amerika Serikat dibunuh oleh suku terasing yang terancam punah di Kepulauan Andaman dan Nikobar, Samudera Hindia, yang masuk wilayah perairan India.

Padahal, selama bertahun-tahun, cukup banyak nelayan asal Aceh yang terdampar di pulau yang menyisakan cerita menyeramkan ini. Yaitu Pulau Andaman dan Nikobar. Dilihat pada peta, keberadaan pulau ini memang tidak jauh dari perairan Aceh. Tidak heran bila selama ini banyak nelayan yang terdampar ke pulau tersebut.

Terkait dengan kematian John Allen Chau, 27, dari Alabama, Amerika Serikat, pada Rabu, 21 November 2018, BBC News Indonesia melaporkan, para nelayan yang membawa pria itu ke Pulau Sentinel Utara mengatakan, sekelompok anggota suku itu memanahnya hingga tewas dan meninggalkan tubuhnya di pantai.

Sekelompok suku terasing di Pulau Sentinel Utara terlihat berjaga-jaga di pinggir pantai pulau itu pada 2005. (Christian Caron - Creative Commons A-NC-SA)
Sekelompok suku terasing di Pulau Sentinel Utara terlihat berjaga-jaga di pinggir pantai pulau itu pada 2005. (Christian Caron – Creative Commons A-NC-SA)

Melakukan kontak dengan suku-suku di Andaman yang terancam punah dan hidup terisolasi dari dunia merupakan tindakan ilegal karena berisiko menulari mereka dengan penyakit dari luar.

Diperkirakan anggota suku terasing yang mendiami Pulau Sentinel Utara, yang benar-benar terputus dari dunia luar, tersisa antara 50 hingga 150 jiwa.

Tujuh orang nelayan yang membawa warga negara AS itu kini ditahan karena dianggap melanggar hukum, kata polisi India.

Sebagaimana dikutip dari laporan BBC News Indonesia, media lokal di India melaporkan bahwa Chau kemungkinan ingin bertemu suku terasing itu untuk menyebarkan agama Kristen kepada mereka.

Tetapi di media sosial, pemuda itu menampilkan dirinya sebagai seorang pelancong dan petualang sejati.

Kepala Kepolisian Andaman, Dependra Pathak, mengatakan kepada situs berita India, News Minute, bahwa Chau berprofesi sebagai “semacam paramedis”.

“Orang mengira dia misionaris karena dia telah menyebutkan pandangannya soal Tuhan dan dia adalah seorang yang percaya Tuhan melalui media sosial. Namun, dalam artian yang sempit, dia bukanlah misionaris. Dia adalah petualang dan niatnya untuk bertemu suku terasing,” ujar Pathak.

Dalam wawancara dengan laman Outbound Collective pada 2014, Chau pernah mengaku terinspirasi oleh penjelajah merangkap misionaris, David Livingston. Chau juga merujuk panutannya, Yesus Kristus.

Melalui Instagram, seorang teman mengatakan Chau “menjadi martir”.

Wartawan Subir Bhaumik, yang telah meliput kepulauan itu selama bertahun-tahun, mengatakan kepada BBC India, menurut kepolisian, Chau telah mengunjungi Pulau Sentinel Utara sekitar empat atau lima kali dengan bantuan nelayan setempat.

“Jumlah mereka sangatlah sedikit, dan bahkan mereka tidak memahami bagaimana cara menggunakan uang. Dan sebenarnya melakukan kontak dengan mereka merupakan tindakan melawan hukum,” lanjut Subir.

Pada 2017, pemerintah India juga menegaskan siapapun yang mengambil foto atau membuat video tentang suku Andaman asli akan dihukum penjara hingga tiga tahun.

Kantor berita AFP mengutip sebuah sumber yang mengatakan bahwa Chau gagal mencapai pulau itu pada 14 November lalu. Namun kemudian dia mencoba lagi dua hari kemudian.

“Dia diserang dengan panah tetapi dia berusaha terus berjalan,” ungkap sumber itu.

“Para nelayan melihat sekelompok suku terasing itu mengikat tali di lehernya dan menyeret tubuhnya. Mereka ketakutan dan akhirnya melarikan diri,” kata sumber yang dikutip AFP.

Tubuh Chau sempat terlihat pada 20 November. Tetapi menurut Hindustan Times, jenazahnya belum ditemukan.

Tahun 2006 pernah dilaporkan, dua orang nelayan tewas terbunuh, setelah kapal mereka terdampar di Pulau Sentinel Utara. (***)

BERBAGI