Beranda Aceh Hama Babi dan Kera Resahkan Petani di Pidie

Hama Babi dan Kera Resahkan Petani di Pidie

BERBAGI
Sejumlah kera jenis ekor panjang yang banyak mejeng di tepi jalan lintas Beurenuen, Pidie - Meulaboh, tepatnya di kawasan perbukitan Gampong Blang Malo, Tangse, Pidie. Salah seorang warga yang melintasi jalan itu sedang memberikan nasi kepada kawanan kera tersebut, Sabtu (24/11/2018). (Foto/Muhammad Riza)
Sejumlah kera jenis ekor panjang yang banyak mejeng di tepi jalan lintas Beurenuen, Pidie - Meulaboh, tepatnya di kawasan perbukitan Gampong Blang Malo, Tangse, Pidie. Salah seorang warga yang melintasi jalan itu sedang memberikan nasi kepada kawanan kera tersebut, Sabtu (24/11/2018). (Foto/Muhammad Riza)

Sigli (Waspada Aceh) – Ratusan petani berdomisili di kawasan sekitar hutan pegunungan Peunalom II, Kecamatan Tangse, Pidie, resah dengan serangan hama babi hutan dan kera. Hama ini memakan dan merusak hasil tanaman milik warga, seperti durian, cabai dan tanaman lainnya.

Kamarullah, Keuchik (kepala desa-red) Gampong Peunalom II, Kecamatan Tangse, Pidie. Sabtu (24/11/2018) melaporkan, dampak dari serangan hama-hama tersebut menyebabkan para petani harus menanggung kerugian cukup besar.

“Durian baru saja berbunga sudah gugur, begitupun cabai, kopi, coklat, pinang, petai dan rambutan dimakan oleh kawanan kera dan babi hutan,” kata Kamarullah.

Hama Dijadikan Peluang

DR Fauzi Harun, salah seorang tokoh masyarakat Pidie, membenarkan tentang kondisi masyarakat petani di Gampong Peunalom Dua, Tangse. Menurut dia, pada satu sisi Gampong Peunalom Dua tersebut memiliki potensi yang sangat bagus. Namun ada kendala hama babi dan kera.

Pada sisi lain sebut dia, ekonomi masyarakat masih terpuruk. Pun begitu dengan adanya kehadiran Support to Indonesia’s Climate Change Response-Technical Assistance Component (SICCR-TAC) di Gampong Peunalom II, sangat membantu mendorong warga setempat untuk lebih semangat dalam upaya peningkatan ekonominya.

Menurut dia, ancaman hama-hama itu dapat dibalik menjadi peluang. Misalkan dalam mengatasi ancaman babi. Setiap batas kebun antar masyarakat, dapat ditanam jenis tanaman secang dengan salak. Karena tanaman secang dan salak itu berduri dan sangat ditakuti oleh kawanan babi.

“Memang kalau di sini belum ada saya lihat secang, yang saya lihat itu di Jawa Barat. Kemudian pada lapis ke dua ditanam salak. Mudah-mudahan babi itu tidak bisa lewat. Dan itu dapat menjadi pagar alami, dengan harapan dapat berbuah sehingga menjadi peluang dan menambah pendapatan,” katanya. (b10)

BERBAGI