Tender Pembangunan 6.000 Rumah Dhuafa via E-Katalog

    BERBAGI
    Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam rapat kerja TKP2K Aceh yang berlangsung di kantor Bappeda Aceh. (Foto/Ist)
    Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam rapat kerja TKP2K Aceh yang berlangsung di kantor Bappeda Aceh. (Foto/Ist)

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Tender pembangunan 6.000 rumah layak huni untuk kaum dhuafa di Aceh tahun 2019, tidak lagi menggunakan cara manual, melainkan melalui e-katalog.

    Sementara program serupa tahun 2018 ini tidak bisa dilaksanakan, karena Dinas Perkim Aceh menghadapi kendala teknis regulasi.

    “Kalau dilanjutkan bisa ada masalah hukum nantinya. Sayangnya, secara teknis saya belum dibrief oleh Kadis Perkim. Tapi untuk 2019, tendernya via E-katalog,” ujar juru bicara PemerintahAceh, Wiratmadinata menjawab WhatsApp kepada Waspadaaceh.com, Rabu (21/11/1018)

    Sehari sebelumnya Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan inovasi dalam kerja pembangunan.

    “Pengadaan 6.000 unit rumah layak huni untuk dhuafa juga akan dilakukan melalui e-Katalog,” kata Nova Iriansyah,

    Dia katakan, e-Katalog juga sudah diterapkan dalam praktek pengadaan barang dalam belanja uang negara.

    “Saya sudah berkoordinasi dengan LKPP untuk menjajaki pengadaan rumah layak huni, dan itu dimungkinkan,” kata Nova dalam rapat kerja TKP2K Aceh yang berlangsung di kantor Bappeda Aceh.

    Komitmen Nova Iriansyah untuk menghadirkan inovasi dalam budaya birokrasi di Aceh disebut sebagai usaha memutus mata rantai korupsi belanja uang negara.

    Nova juga menantang TKP2K Aceh untuk menghadirkan ragam inovasi guna memaksimalkan kerja pencapaian target penurunan angka kemiskinan Aceh, 1 persen pertahun.

    Dalam kesempatan itu Nova Iriansyah juga menyinggung pentingnya inovasi yang disebutnya bisa lebih efisien, efektif, dan transparan.

    “Sebelumnya, kita juga sudah punya inovasi pengendalian hulu hilir kegiatan APBA di bawah unit P2K yang dipelajari dan ikut diadopsi oleh provinsi lain. E-Katalog pengadaan rumah layak huni juga sudah banyak yang tanya padahal baru sedang diwujudkan, ini pertanda pentingnya menghadirkan inovasi dalam budaya kerja birokrak,” katanya.

    Untuk diketahui dalam Global Innovation Indeks, Indonesia memang masih kalah jauh dalam penerapan inovasi dibanding negara lain di Asia.

    Padahal, penerapan inovasi berkaitan dengan kemajuan ekonomi. Negara yang budaya kerjanya akrab dengan inovasi lebih maju dibanding dengan negara yang belum ramah terhadap inovasi.

    Dalam pidato di acara China International Import Expo (CIIE), (5/11/2018), Presiden China, Xi Jinping secara khusus menekankan bahwa hanya dengan inovasi dan reformasi yang berani, kita dapat mematahkan hambatan dalam pertumbuhan global.

    “Di negara kesejahteraan, pemerintah, pelaku dunia usaha dan publik terus berlomba menghadirkan kemajuan dengan dukungan inovasi,” kata Nova Iriansyah memotivasi peserta Rakor TKP2K Aceh.

    Dalam kunjungannya ke Surabaya, Plt Gubernur Aceh itu juga menjalin kerjasama dengan ITS untuk membantu mewujudkan Aceh sebagai Smart Province melalui penerapan e-Government dan lainnya.

    Dalam 15 program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh juga ada program Aceh SIAT untuk mewujudkan perencanaan berbasis evident based planning.

    “Inovasi bisa jadi akan menghilangkan sesuatu yang baik bagi kepentingan pribadi, tapi akan mendatangkan hal lebih baik bagi kepentingan semua rakyat,” tutupnya. [B01)

    BERBAGI