Beranda Tulisan Feature Komoditi Pala Aceh Selatan, Riwayatmu Kini

Komoditi Pala Aceh Selatan, Riwayatmu Kini

BERBAGI
Tanaman pala di Tapaktuan, Aceh Selatan. (Foto/Faisal)
Tanaman pala di Tapaktuan, Aceh Selatan. (Foto/Faisal)

Tapaktuan (Waspada Aceh) – Muhammad Yamin,40, setiap hari harus selalu mengamati tanaman palanya. Petani ini harus berjaga-jaga, sebab sudah banyak tanaman pala milik orang lain yang kering, menjadi korban keganasan suatu jenis penyakit.

Petani ini memiliki kebun pala di sekitar Tapaktuan, Aceh Selatan, luasnya sekitar 1,5 hektare. Tidak terlalu luas untuk ukuran petani di kampung. Tapi Muhammad Yamin mengurus kebun palanya dengan baik, sehingga hasil panennya pun lumayan, cukup untuk membiayai kehidupan rumah-tangganya.

Meski pada dua tahun terakhir, para petani pala dihantui oleh serangan penyakit mematikan atas tanaman mereka, tapi kini mereka merasa lebih tenang. Dinas terkait telah memiliki solusi untuk pengobatannya, disembuhkan dengan metabolisme sekunder (pengimpusan melalui akar). Dengan pengobatan metode pengimpusan ini, 70 persen tanaman pala bisa terobati dan disembuhkan.

“Dalam pengobatan penyakit pala, pembersihan dilakukan sampai pangkal. Kemudian kita mengobatinya dengan metode pengimpusan menggunakan bahan alami, yakni air kelapa dan air beras,” kata Muhammad Yamin dalam bincang-bincang dengan Waspadaaceh.com di Tapaktuan, Kamis (8/11/2018).

Muhammad Yamin mengaku, dengan luas tanaman pala 1,5 hektare, dia dapat menghasilkan uang Rp2.500.000 per bulan.

Harga Pala Tidak Stabil

Selain adanya ancaman penyakit, kini masyarakat di Tapaktuan, yang rata-rata bermata-pencaharian dari tanaman pala, mengeluh karena harga pala yang tidak stabil.

” Sekarang harga buah pala menurun lemah, hanya sekitar Rp23.000 hingga Rp24.000 per bambu,” ujar Muhammad Yamin.

Muhammad Yamin (kiri). Sementara para petani pala lainnya sedang merawat tanaman bibit pala. (Foto/Faisal)
Muhammad Yamin (kiri). Sementara para petani pala lainnya sedang merawat tanaman bibit pala. (Foto/Faisal)

“Kita mengharapkan tidak adanya permaianan harga buah pala di pasaran. Kita juga berharap pemerintah daerah ikut membantu mengawasi harga pala di tingkat petani.”

Secara terpisah, Sekretaris Kelompok Lubuk Arang, Bakri, yang juga pengusaha pala, mengatakan, para petani di Gampong Air Pinang, Kecamatan Tapaktuan, mampu memproduksi minyak pala (atsiri), sekitar 350 -500 Kg per panen, dari luas lahan sekitar 100 hektare.

Tapi dia mengeluhkan harga jual minyak pala saat ini masih lemah, yaitu sekitar Rp610.000 hingga Rp 615.000/Kg di tingkat petani. Sedangkan kalau menjualnya langsung ke Medan bisa mencapai harga Rp655.000/Kg hingga Rp657.000/Kg.

“Harga minyak pala kita turun sejak tahun 2017. Ini terjadi akibat sepinya pembeli di Medan. Kita berharap pemerintah daerah dan pengusaha lokal dapat menampung dan menstabilkan harga,” tandas Bakri.

Penyulingan minyak pala (atsiri) milik petani di Tapaktuan, yang masih cukup sederhana. 20 Tahun lalu kondisinya tetap seperti ini, belum menggunakan peralatan yang lebih modern. (Foto/Faisal)
Penyulingan minyak pala (atsiri) milik petani di Tapaktuan, yang masih cukup sederhana. 20 Tahun lalu kondisinya tetap seperti ini, belum menggunakan peralatan yang lebih modern. (Foto/Faisal)

Petani Pala Harus Mendapat Proteksi

Tanaman pala di Aceh Selatan merupakan primadona yang sudah cukup dikenal hingga ke manca negara. Bahkan di masa lalu, Portugis masuk ke Aceh karena tergiur dengan komoditi  hasil buminya, termasuk pala.

Namun saat ini harga minyak pala masih tergolong lemah, itu diduga akibat adanya permainan pasar. Padahal, pala di Aceh Selatan mempunyai kualitas yang sangat bagus. Selama 20 tahun terakhir, minyak pala dibeli oleh perusahaan di luar Aceh dengan harga yang masih rendah.

“Pemerintah Aceh Selatan dan pemerintah provinsi bisa memproteksi petani, agar tidak menjual lagi minyak pala ke pengusaha luar Aceh. Jadi Pemerintah Aceh harus mendorong dan memfasilitasi pengusaha lokal untuk menampung pala atau minyak pala dari petani dengan harga sesuai,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizal, SP, MM, kepada Waspadaaceh.com, Rabu (7/11/2018).

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizal, SP, MM. (Foto/Faisal)
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizal, SP, MM. (Foto/Faisal)

Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh harus berani mengambil sikap untuk menahan minyak pala agar tetap dijual ke perusahaan di Aceh. Jika itu dilakukan, maka pengusaha luar Aceh bakal kalang kabut, tidak berani lagi mempermainkan harga. Sebab minyak pala sangat dibutuhkan berbagai industri obat dan kecantikan.

“Kita harapkan pemerintah berani mengambil sikap bahwa minyak pala harus bisa dibeli oleh pengusaha Aceh atau pemerintah sendiri melalui BUMD. Karena ini peluang investasi besar,” tuturnya. (Faisal)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here