Beranda Pariwara Optimisme Menuju Aceh Hebat

Optimisme Menuju Aceh Hebat

BERBAGI
Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. (Foto/Ist)
Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. (Foto/Ist)

Banda Aceh – Aceh sudah lama dikenal sebagai negeri yang kaya dan jaya. Bila merunut ke belakang, kehadiran orang-orang Eropa, Arab , China dan pendatang asing lainnya ke daratan Aceh, jelas karena tergiur dengan kekayaan alam Aceh.

Aceh juga dikenal dengan kekayaan hasil buminya, berupa minyak dan gas bumi. Daerah operasi minyak dan gas di bagian utara dan timur meliputi daratan seluas 8.225,19 km² dan dilepas pantai Selat Malaka 38.122,68 km².

Beberapa perusahaan migas mengeksploitasi tambang berdasarkan kontrak bagi hasil (production sharing). Beberapa perusahaan itu diantaranya, Pertamina, Mobil Oil (Exxon Mobil) dan LNG Arun. Malah saat ini Medco juga sudah mulai beroperasi di kawasan Aceh Utara.

Selain minyak dan gas, negeri yang menjalankan hukum Syariat Islam ini juga dikenal menyimpan potensi tambang mineral yang cukup besar, termasuk logam mulia (emas). Emas banyak ditemukan di sekitar aliran sungai, mulai dari Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya hingga Aceh Selatan dan Subussalam. Belum lagi kandungan lainnya, seperti mineral, besi, batubara, tembaga, timah hitam, seng dan lainnya.

Data dari Dinas Pertambangan dan Energi Aceh mencatat, ada beberapa jenis potensi logam dan energi di provinsi itu yang sudah jelas keberadaan sumber dayanya. Selain emas, logam, tembaga, timah hitam dan mineral, Aceh juga memiliki potensi energi yang cukup besar dari keberadaan alamnya.

Merupakan modal yang cukup besar, karena ternyata Aceh memiliki banyak potensi sumber energi untuk pembangkit tenaga listrik. Sumber energi itu antara lain, dari potensi air, panas bumi dan batubara. Untuk potensi batubara, Aceh dapat mengembangkan potensi batubara sebesar 1.300 juta ton.

Sedangkan potensi sumber tenaga air di Aceh, diperkirakan mencapai 2.626 MW yang tersebar di 15 lokasi di wilayah Aceh. Salah satu dari potensi tersebut adalah PLTA Peusangan, yang kini sedang dibangun, dengan daya sebesar 89 MW. Sedang di daerah Jambo Aye diperkirakan mencapai 471 MW, Lawe Alas sebesar 268 MW dan Tampur sebesar 126 MW.

Salah satu proyek raksasa pembangkit listrik tenaga air, yaitu PLTU Peusangan, di Aceh Tengah, yang akan memberikan dukungan energi listrik ke industri strategis di Aceh, khsusnya KEK Arun - Lhokseumawe. (Foto/Dok.Waspadaaceh.com)
Salah satu proyek raksasa pembangkit listrik tenaga air, yaitu PLTU Peusangan, di Aceh Tengah, yang akan memberikan dukungan energi listrik ke industri strategis di Aceh, khsusnya KEK Arun – Lhokseumawe. (Foto/Dok.Waspadaaceh.com)

Untuk potensi panas bumi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Aceh mencatat, Aceh memiliki 17 titik panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Sumber panas bumi ini (geothermal) dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, seperti halnya pemanfaatan sungai untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTU).

Pertanian untuk Ekonomi Aceh

Dari sektor pertanian dan perkebunan, Aceh memang sudah cukup dikenal. Hamparan lahan perkebunan sawit, membentang luas mulai dari kawasan pantai timur hingga kawasan pantai barat Aceh.

Begitu juga lahan tanaman pangan dan palawija. Sementara dari kawasan Tanah Gayo, Aceh cukup dikenal di dunia karena produk kopi Gayo, yang memiliki cita rasa khas. Begitu juga kakao (coklat) Aceh, yang cukup dikenal masyarakat Eropa, karena kualitasnya.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, ketika membuka Jambore Penyuluh Pertanian Ke-2 di Meulaboh, belum lama ini, meminta stakeholder terkait, baik di tingkat provinsi mau pun di kabupaten/kota, untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sektor pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan.

Menurut Nova, majunya sektor pertanian dan perkebunan tersebut akan mendukung dan memberikan kontribusi ekonomi cukup signifikan bagi Provinsi Aceh dan secara nasional.

“Pertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan merupakan salah satu andalan bagi pendapatan daerah dan nasional. Karena itu, Pemerintah Aceh dalam lima tahun ke depan tetap menjadikan  sektor ini sebagai salah satu program prioritas,” kata Nova Iriansyah.

Nova mengatakan, salah satu misi Pemerintah Aceh adalah Aceh Meugoe dan Aceh Troe, sebagaimana tertuang dalam program Aceh Hebat. Misi itu adalah untuk mendukung sektor pertanian dan perkebunan. Sebab 30 persen dari luas daratan Aceh adalah lahan pertanian dan perkebunan. Di samping itu, dari sekitar 5,2 juta penduduk Aceh, 70 persen di antaranya tinggal di pedesaan dan 70 persen dari mereka bekerja sebagai  petani.

“Aceh memiliki tanah atau lahan yang luas dan subur, sehingga memungkinkan dilakukan pengembangan berbagai komoditi unggulan pada sektor pertanian, hortikultura  dan perkebunan,” kata Nova.

Plt Gubernur Aceh juga mencanangkan, Aceh mandiri benih padi di tahun 2019 dan surplus pagi di tahun 2020. Nova mengatakan, tahun 2017 lalu, realisasi produksi padi Aceh mencapai 2,49 juta ton. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2016 lalu sebesar 13,13% (289.621 ton).

“Dinas Pertanian dan Perkebunan harus dapat meningkatkan produksi pertanian, terutama tanaman padi. Dari capaian produksi tahun 2017 sebesar 2.4 juta ton GKP menjadi 2,5 juta ton pada tahun 2018. Serta 2,6 Juta ton target capaian tahun 2019,” kata Nova.

Keberhasilan itu, kata Nova, tidak terlepas dari kerja keras penyuluh pertanian dalam melakukan pengawalan dan pendampingan kepada para petani. Mengutip angka kontribusi sektor ekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh pada kuartal II, sektor pertanian memang memberikan andil 1,32 persen.

Lahan pertanian padi terbentang luas di hampir semua kabupaten di Aceh, seperti di Pidie Jaya ini. (Foto/Dok Waspadaaceh.com)
Lahan pertanian padi terbentang luas di hampir semua kabupaten di Aceh, seperti di Pidie Jaya ini. (Foto/Dok Waspadaaceh.com)

Optimisme Aceh Hebat

Potensi pertambangan, pertanian dan perkebunan Aceh merupakan suatu modal yang sangat besar untuk mendukung pelaksanaan pembangunan di Aceh, menuju Aceh Sejahtera melalui program Aceh Hebat. Namun semua itu akan sulit terwujud tanpa kerjasama yang solit antara para pihak untuk membangun Aceh dalam satu semangat yang sama.

Suatu yang menggembirakan, sebagaimana diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Zainal Arifin Lubis, laju pertumbuhan ekonomi Aceh selama kuartal II tahun 2018, mencapai 5,74 persen. Angka ini berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Pencapaian itu merupakan angka pertumbuhan tertinggi yang pernah dicapai Aceh selama kurang lebih lima tahun. Selain itu, dengan pencapaian tersebut, Aceh berada di urutan kedua pertumbuhan ekonomi di Sumatera setelah Sumatera Selatan (Sumsel).

Tentu angka pertumbuhan itu memberikan sinyal positif bagi pembangunan ekonomi Provinsi Aceh ke depan, di bawah kepemimpinan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Apalagi bila nantinya, industri-industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun – Lhokseumawe, sudah mulai beroperasi.

Sementara di sektor pariwisata, nama Aceh sudah semakin dikenal luas. Beberapa destinasi wisata yang sudah cukup dikenal dunia adalah Sabang dan Sabang. Sedangkan untuk wisata religi, Kota Banda Aceh kini semakin banyak dikunjungi wisatawan. Jadi semua sektor akan memberikan kontribusi ekonomi bagi Provinsi Aceh.

Ditambah lagi nanti, dengan keberadaan beberapa perusahaan tambang emas dan mineral di beberapa kabupaten di Aceh, tentu akan memberi kontribusi ekonomi yang besar dan menyediakan lapangan kerja yang luas bagi Provinsi Aceh.

Untuk KEK Arun saja, Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memperkirakan akan mampu menyediakan lapangan kerja untuk sekitar 40 ribu orang. Belum lagi di sektor pertambangan emas dan mineral, sektor industri, perikanan serta di sektor perkebunan dan pertanian.

Melihat kenyataan itu, masyarakat Aceh memang selayaknya optimis bahwa Aceh bakal menjadi provinsi yang berkembang ekonominya, bahkan mampu melampaui provinsi tetangganya. Aceh akan kembali bangkit meraih nama besarnya, seperti Aceh di masa lampau. Optimisme ekonomi Aceh akan bangkit kembali bersama bangkitnya semangat masyarakat di negeri Syariat Islam ini. (Adv)

Berlanjut: Membangun Ekonomi Aceh dengan Kemudahan Investasi

Baja Juga: Plt Gubernur Dorong Penurunan Angka Kemiskinan di Aceh

BERBAGI