Beranda Tulisan Feature Meski Gagal Bertanding, Miftah Pahlawan bagi Muslimah Aceh

Meski Gagal Bertanding, Miftah Pahlawan bagi Muslimah Aceh

BERBAGI
Miftahul Jannah dengan Yayan Zamzami,host di acara penutupan Kejurnas Catur 47/2018 di Hall Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Senin (15/10/2018. (Foto/Ist)
Miftahul Jannah dengan Yayan Zamzami,host di acara penutupan Kejurnas Catur 47/2018 di Hall Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Senin (15/10/2018. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) –  Hari masih pagi saat Miftahul Jannah tiba di Aceh. Gadis berhijab yang datang dengan rombongan kecil, disambut bak pahlawan di lobi kedatangan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Aceh Besar.

Istri Plt Gubernur Aceh dan beberapa pejabat SKPA menyambut Miftahul Jannah dengan kalungan bunga. Masyarakat berebut melihat Miftah, panggilan wanita yang mendapat diskriminasi dan didiskualifikasi lantaran enggan menanggalkan jilbab pada pertandingan judo di event Asean Para Games 2018 di Jakarta tersebut.

Miftahul Jannah adalah pejudo paralimpik Indonesia dari Aceh. Dia menjadi bagian atlet yang semula akan bertanding di arena Asean Para Games 2018 di Jakarta.

Namun kisah heroiknya baru-baru ini menghentak publik olahraga tanah air. Dia mencoba mendobrak aturan dengan tetap mempertahankan prinsip atas keyakinan agamanya, meski gagal menjadi juara karena didiskualifikasi. Masalahnya sederhana. Atlet asal Susoh, Aceh Barat Daya itu, dilarang bertanding setelah dia enggan melepas jilbab.

“Walau pun tidak bertanding, Miftah sudah menang. Pertandingan sebenarnya adalah melawan diri sendiri,” kata Istri Plt Gubernur, Dyah Erti Idawati, Senin medio Oktober 2018.

Keputusan Miftah mempertahankan hijab, kata Dyah, telah membawa kabar baik bagi Aceh yang menerapkan syariat Islam. Di usia belia, Miftah telah menjadi duta yang menyampaikan keislamannya ke dunia internasional. “Miftah menjadi pahlawan syariat Islam untuk Aceh.”

“InsyaAllah Miftah akan menerima hadiah yang jauh lebih inggi dari hadiah dunia,” kata Dyah.

Keputusan Miftah tersebut membuat Dyah jatuh hati. Dia mencoba menawarkan perhatian pada Miftah layaknya anak sendiri. Miftah dia dampingi hingga ke ruang tunggu, dan Dyah menawarkan sebungkus nasi gurih kepada Miftah.

“Saya masih kenyang,” Miftah menolak halus. “Nanti nggak kuat lho tenaganya. Ayo, ibu suapin kalau nggak mau makan sendiri.” Miftah tersipu. Dyah mencoba menggodanya. Dia kemudian menuangkan segelas air dari botol mineral. Miftah meminumnya.

Dyah menyebutkan, komite olahraga beladiri harus mengupayakan peraturan yang membolehkan atlet wanita Muslim untuk tetap bisa mempertahankan keyakinan agama mereka dengan tetap bertanding tanpa harus menanggalkan hijab.

Syariat Islam, kata Dyah, mewajibkan semua muslimah menutup aurat meski dalam kondisi apa pun. Karena itu, keputusan Miftah mempertahankan hijabnya bukan hanya mewakili daerah Aceh semata melainkan unguk seluruh wanita Muslim dunia.

“Perjuangkan hingga ke tingkat internasional. Muslim di dunia ini sangat banyak jadi tidak mungkin tidak diakomodir hingga ke tingkat internasional,” kata Dyah, meminta Dispora dan KONI mengupayakan melobi untuk mengubah regulasi itu.

“Jangan ada lagi Miftah lain yang mengalami hal serupa. Menjadi korban aturan yang mengesampingkan keyakinan wanita Muslim.”

Dyah meminta Miftah tetap melanjutkan karirnya sebagai atlet judo sembari meneruskan pendidikan hingga sarjana. “Tidak usah rendah diri. Anandalah pemenang di hati kami, rakyat Aceh dan seluruh wanita Muslim di dunia.”

Berhijab Sejak Belia

Salimin, sang ayah, masih ingat, sehari jelang bertanding, Miftah meminta dirinya berdoa, “besok tanding, tapi kayaknya ngak boleh pakai jilbab.”

Dia yang baru tiba dari Aceh membesarkan hati Miftah. Malamnya pun Miftah juga menghungi Ibundanya, Darwiyah, di Susoh Abdya. Salimin menyerahkan keputusan penuh pada buah hatinya itu. Dia yakin, Miftah yang sudah dewasa bisa mengambil keputusan terbaik dan bijak.

“Saya sangat yakin dia tidak akan buka jilbab. Dia punya prinsip, sejak usia TK dia sudah pakai jilbab,” kata Salimin. Terbukti, esoknya Miftah lebih memilih keluar dari arena daripada harus bertanding tanpa jilbab.

Jauh sebelum terlibat sebagai atlet paralimpik Indonesia, Miftah sudah terlebih dahulu meminta izin ayahnya untuk berlatih beladiri. Sebelum judo, Miftah muda berlatih Taekwondo. Salimin mendukung sepenuhnya jenis olahraga pilihan Miftah, putri tersayang.

“Dia hidup di rantau dan harus bisa mempertahankan diri. Jadi ketika dia minta latihan beladiri saya sangat setuju,” kata Salimin. Saat ini, Miftah adalah pemegang Sabuk Hitam Dan 1 Judo.

Sulton Arifsyah dari Koordinator Olahraga Mahasiswa (KOM) Universitas Pasundan, tempat Miftahul Jannah bernaung dalam olahraga beladiri, mengatakan keputusan Miftah atas dasar keyakinan pribadi tanpa paksaan.

Bahkan ketika tim pelatih dan official meminta dia membuka hijab sementara, Miftah menolak. Pihak KOM yang mendampingi Miftah mulai dari Pelatda dan saat akan bertanding di Jakarta hingga kemudian mengantarkannya pulang ke Aceh, memang sedih karena Miftah urung bertanding.

“10 tahun dipersiapan Pelatda untuk ikut Asean Para Games. Kita sedih dia tak jadi bertanding, tapi kita salut dengan pilihan Miftah,” kata Sulton.

“Sampai ke titik itu kami di KOM bilang ke Miftah: we are the winner,” ujar Sulton.

Melinda Gustina, pengurus KOM yang juga ikut datang ke Aceh, mengisahkan, Miftah bergabung di KOM lebih setahun lalu. Saat itu dia bergabung di olahraga catur. Namun belakangan dia mulai beralih ke Judo yang mengantarkannya hingga ke Pelatnas Para Games Judo.

Sebelum berangkat ke Jakarta, kata Melinda, Miftah tak tahu jika nanti dia bakal dilarang bertanding dengan mengenakan jilbab. Hal tersebut membuat dia terus berlatih hingga 10 bulan lamanya di Solo, dengan pendampingan KOM. Baru kemudian, dia diberi tahu pelatih tentang peraturan itu. Namun Miftah kekeuh tak membuka jilbab, keputusan yang disayangkan oleh sebagian orang, tapi juga dibanggakan banyak wanita Muslimah.

“Dia telanjur ikut pelatda dan berlatih hingga tangannya remuk,” kata Melinda. Meski demikian organisasi KOM dan keluarga besar Universitas Pasundan merasa bangga dengan keputusan Miftah. Pihak rektorat dilaporkan sedang membicarakan perihal pemberian beasiswa pada Miftah.

Darah atlet memang kadung mengalir pada diri Miftah. Usai gagal bermain di arena Judo, dia akan mencoba peruntungan di olahraga lain, olahraga yang tak terikat dengan peraturan, yang terkait boleh tidaknya memakai jilbab. Dia akan beralih (kembali) ke meja catur, olahraga yang dia tekuni saat bergabung di KOM. Pada November nanti, Miftah akan membawa bendera Unpas di Pra Porda Jawa Barat.

Miftahhul Jannah menghabiskan masa belia di kampung halaman, Susoh, Aceh Barat Daya. Menginjak usai remaja, dia melanjutkan sekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Jantho, Aceh Besar. Terdidik mandiri sejak kecil, Miftah meminta izin orang tuanya melanjutkan sekolah ke pulau Jawa. Meski dengan berat hati, Salimin dan Darwiyah mengizinkan Miftah melanjutkan kuliah di Universitas Pasundan Jawa Barat.

Usai kasus pelarangan bermain — karena terbentur peraturan judo internasional–, ragam pujian dan penghargaan diberikan pada Miftah. Mulai dari hadiah umroh hingga beasiswa berkelanjutan dari Pemerintah Aceh.

“Terima kasih atas apresiasi semua pihak pada perjuangan Miftah selama ini,” kata gadis, sang pahlawan bagi Muslimah Aceh ini. (Ria)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here