Beranda Opini Belajar dari Misi Penyelamatan 12 Remaja dalam Gua di Thailand

Belajar dari Misi Penyelamatan 12 Remaja dalam Gua di Thailand

BERBAGI
Tim SAR bersiap-siap berlayar ke perairan Danau Toba, untuk mencari para korban KM Sinar Bangun. (Foto/muhamamd al-farizi)
Tim SAR bersiap-siap berlayar ke perairan Danau Toba, untuk mencari para korban KM Sinar Bangun. (Foto/muhamamd al-farizi)

Mungkin penulis menjadi salah seorang dari banyak orang yang merasa kecewa dengan misi penyelamatan korban tenggelamnya KM Sinar Bangun, yang terjadi di Danau Toba, Sumatera Utara, 18 Juni 2018.

Sebagai seorang jurnalis, penulis sering mendapat tugas liputan peristiwa kecelakaan, bencana alam dan meliput konflik. Untuk tragedi di Danau Toba, penulis memperoleh informasi tenggelamnya KM Sinar Bangun itu, hanya beberapa menit setelah kejadian. Setahu penulis, dalam suatu insiden yang melibatkan nyawa manusia, masalah kecepatan dan ketepatan tim penolong adalah kunci utama dalam menyelamatkan para korban.

Ketika itu sebuah laporan menyebutkan, sekitar pukul 17.30 Wib, sebuah kapal kayu KM.Sinar Bangun, tenggelam di Danau Toba bersama 80 orang penumpangnya. Kapal ini berlayar dari Simanindo, Samosir, menuju Tigaras, Simalungun. Kecelakaan itu terjadi  setelah kapal dihantam gelombang disertai angin kencang.

Tapi kemudian, kenyataannya kapal kayu ini bukan hanya membawa 80 penumpang. Aparat berwenang bahkan merilis laporan, penumpang yang dinyatakan hilang jauh lebih besar jumlahnya. Hingga 25 Juni, dilaporkan jumlah korban yang ditemukan selamat 18 orang, 3 tewas dan 180 dinyatakan hilang. Tentu ini bukan jumlah yang sedikit.

Beberapa jam setelah kejadian, semua tentu berharap, tim penyelamat (tim SAR), segera turun ke lapangan untuk misi penyelamatan para korban. Apalagi beberapa menit setelah kejadian, sebuah video memperlihatkan para korban KM Sinar Bangun, mengapung di Danau Toba, bertarung nyama berjuang untuk menyelamatkan dirinya.

Tapi betapa kecewanya penulis, ketika beberapa jam kemudian, aparat berwenang menghentikan upaya penyelamatan para korban dengan alasan cuaca di Danau Toba memburuk. Keputusan itu dikeluarkan hanya beberapa jam setelah kejadian.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin bisa memutuskan untuk menghentikan misi penyelamatan itu? Padahal ratusan korban masih mengapung bergelut dengan dinginnya air danau, menunggu tim penyelamat datang. Mereka pastinya sudah kelelahan berenang selama berjam-jam.

“Bukan kah Tim SAR itu seharusnya sudah terlatih dalam segala kondisi cuaca?” Masuk akal bila larangan itu hanya ditujukan kepada relawan sipil (masyarakat biasa), yang belum terlatih sebagai regu penolong. Karena tindakan orang biasa, walau sangat ingin membantu menyelamatkan sesama, justeru bisa membahayakan jiwa mereka sendiri.

Tapi berbeda dengan Tim SAR, tentu saja terdiri dari orang-orang yang sudah terlatih di medan yang berat dan semestinya juga terlatih di segala cuaca. Tim penyelamat ini biasanya juga dibiayai oleh negara. Lantas apakah keputusan untuk menghentikan kegiatan penyelamatan para korban bisa dimaklumi?

Penulis juga kecewa dengan nakhoda dan awak kapal fery, yang tampak bertindak kurang cekatan untuk menyelamatkan para korban. Padahal jelas terlihat, ratusan orang sedang mengapung, berenang berjuang untuk hidup.

Di sisi lain tampak oleh kita puluhan unit mobil di dalam fery. Mungkin mobil-mobil ini menjadi beban dan halangan bagi fery untuk bisa bergerak lebih leluasa. Mobil-mobil ini sebenarnya bisa “dikorbankan” (dibuang)  ke danau, sehingga kapasitas fery bisa lebih luas dan fery bisa lebih leluasa untuk bergerak atau bermanuver. Tentu upaya menolong para korban bisa lebih dimaksimalkan. Sebab nyawa manusia jauh lebih berharga dari harta apa pun. Apalagi dibandingkan dengan mobil.

Para pejabat penting di negeri ini pun, beberapa hari kemudian baru berkunjung ke kawasan Danau Toba. Terkesan, pemerintah pusat kurang berempati atas insiden yang menelan korban ratusan orang tersebut.

Penulis bukan hendak menggali kembali kenangan kelam itu, tapi hanya ingin mengajak semua pihak untuk inrospeksi. Ada baiknya kita belajar dari negara-negara lain dalam menjalankan misi penyelamatan para korban. Seperti yang dicontohkan negeri jiran kita, Thailand, yang melakukan apa pun untuk menyelamatkan 12 remaja dan seorang pelatih, yang terperangkap di dalam sebuah gua.

Belajar dari Misi Penyelamatan 12 Remaja di Thailand

Tampak sebagian tim penyelamat yang terdiri dari para penyelam handal bekerja tanpa lelah. (Foto/BBC/EPA)
Tampak sebagian tim penyelamat yang terdiri dari para penyelam handal bekerja tanpa lelah. (Foto/www.bbc.com/EPA)

Mengikuti laporan-laporan tentang misi penyelamatan 12 remaja anggota tim sepak bola Wild Boar, Thailand, bersama seorang pelatihnya, yang terjebak di dalam lorong gua sempit, mengundang kekaguman. “Beginilah semestinya misi penyelamatan nyawa manusia,” ujar seorang jurnalis, T.Bobby Lesmana, yang gemar traveling.

Para remaja ini berusia antara 11 – 17 tahun. Mereka memasuki Gua Tham Luang bersama pelatih mereka Ekkapol Chantawong, yang biasa disapa Ake pada 23 Juni. Belum diketahui apa motif dari petualangan masuk ke dalam gua tersebut. Apakah itu keinginan pelatih atau keinginan para remaja itu sendiri sebagai anak didiknya.

Sebagaimana dikutip dari BBC, pada hari mereka masuk ke gua, mereka dijadwalkan turun bertanding, namun laga ini dibatalkan, kata pelatih kepala Nopparat Kanthawong. Karena pertandingan dibatalkan, klub meminta para remaja ini mengikuti sesi latihan.

Tim sepak bola ini diketahui keberadaanya di dalam gua pada hari kesembilan sejak dinyatakan hilang pada Sabtu 23 Juni. Sejak itu, upaya penyelamatan tak henti-hentinya dilakukan. Baik oleh tim penyelamat lokal, pemerintah mau pun tim penyelamat profesional, yang tergerak untuk datang beberapa hari kemudian.

Semua Terlibat dalam Misi Penyelamatan

Para relawan dapur umum yang terdiri dari para ibu, tampak bergembira setelah mendengar seluruh korban berhasil dievakuasi dari gua dalam kondisi selamat. (Foto/www.bbc.com/Reuters)
Para relawan untuk dapur umum yang terdiri dari para ibu, tampak bergembira setelah mendengar seluruh korban berhasil dievakuasi dari gua dalam kondisi selamat. (Foto/www.bbc.com/Reuters)

Operasi penyelamatan 12 remaja Thailand dan pelatih sepak bola dari dalam gua tempat mereka terperangkap selama 17 hari ini, dianggap sebagai mukjizat.

Anggota tim SAR menggambarkannya sebagai misi mustahil yang akhirnya bisa diselesaikan dengan sukses, tulis BBC dalam laporannya.

Memang kenyataannya, sejak diketahui bahwa 12 remaja dan seorang pelatihnya terjebak dalam gua, masyarakat di sekitar kemudian berusaha membantu menyelamatkan para korban. Mereka bahu membahu untuk ikut terlibat dalam misi kemanusiaan itu.

Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha mengunjungi tempat 12 remaja laki-laki dan pelatih sepak bola mereka yang hilang di dalam gua, Jumat (29/6/2018). Dia memberikan dorongan kepada para penyelamat dan menghibur keluarga korban.

Wartawan BBC, Haryo Wirawan, yang meliput di tempat kejadian selama dua pekan menceritakan bagaimana semua orang terlibat menjadi relawan dengan caranya masing-masing. Petani mengorbankan sawahnya untuk dibanjiri air yang dipompa dari dalam gua.

“Panen bisa ditunda, tapi nyawa manusia tidak bisa,” begitu ungkapan petani yang lahannya di dekat gua tersebut. Sedang orang-orang yang memiliki mesin pompa air, tanpa diminta sudah membawa pompa mereka ke lokasi secara sukarela.

Semua warga berpartisipasi. Ada yang menyediakan makanan untuk para relawan. Bahkan seseorang datang dan mengatakan tidak punya uang untuk membantu, tapi dia bisa membantu dengan tenaganya. Dia menawarkan diri untuk mencuci pakaian para relawan dan membersihkan alat-alat selam yang kotor, demi bisa berpartisipasi menolong para korban.

Ibu-ibu sibuk memasak dan menyediakan dapur umum. Bahkan beberapa relawan muslim, sengaja datang untuk membuka dapur umum. Mereka ini menyediakan makanan halal bagi relawan muslim yang juga banyak terlibat dalam misi penyelamatan itu.

Bahkan pemerintah setempat menyediakan tenda khusus untuk para jurnalis agar bisa berteduh dan bekerja.

Upaya penyelamatan 12 remaja dan seorang pelatihnya di Thailand ini tidak lepas dari jasa tim penyelam, tentara dan para petugas dari berbagai bangsa. Sebagaimana laporan BBC, para penyelam datang dari berbagai negara, seperti Inggris, Finladia, Cina dan lain-lain.

Para penyelamat itu bukan penyelam biasa. Mereka adalah yang terbaik di dunia. Mereka datang dengan peralatan profesional, melakukan pekerjaannya dengan seaman mungkin. Menyelam di gua tidak semudah menyelam di laut karena airnya keruh, gelap dan oksigen pun tipis.

“Mereka selalu ganti shift tepat waktu karena mengutamakan keamanan,” kata Haryo Wirawan, dalam laporannya untuk BBC.

Nama penting yang tercatat dalam misi penyelamatan ini adalah John Volanthen dan dua rekannya sesama warga Inggris, Richard Stanton dan Robert Harper. Mereka diminta aparat Thailand untuk membantu upaya penyelamatan.

Mereka telah berpartisipasi dalam sejumlah operasi penyelamatan dalam gua, termasuk di Norwegia, Prancis, dan Meksiko.

Ada juga Erik Brown, Mikko Paasi dan Claus Rasmussen. Brown berasal dari Vancouver, Kanada, dan berprofesi sebagai instruktur teknik menyelam. Dia mulai menyelam lebih dari 10 tahun lalu dan turut mendirikan Team Blue Immersion, sebuah kursus teknik menyelam di Mesir.

Dalam misi penyelamatan ini, seorang mantan anggota Thai Navy Seal gugur ketika merintis jalan ke dalam goa sambil membawakan tabung oksigen. Dia sudah pensiun, tapi terpanggil untuk menjadi relawan membantu para korban.

Saman Gunan, pria berusia 38 tahun ini adalah penyelam purnawirawan AL Thailand yang sukarela berpartisipasi dalam upaya penyelamatan. Saat akan keluar dari Gua Tham Luang, setelah mengantarkan tabung-tabung udara untuk para korban, dia kehilangan kesadaran dan meninggal dunia.

Misi penyelamatan 12 remaja dan seorang pelatihnya berjalan sukses. Setelah korban terakhir keluar dari gua dan dibawa dengan ambulans, 10 Juli 2018, suasana kegembiraan tak bisa dibendung.

“Waktu misi selesai, semua yang keluar dari area gua selalu ceria, semuanya bertepuk tangan, saling memuji. Tentara, penyelam, disambut dengan meriah, mereka diangkut naik pick up dengan gembira dan melambaikan tangan dengan senang sekali di depan lensa kami,” kata Haryo melaporkan untuk BBC.

Warga menyambut ambulans dengan bertepuk tangan di jalan-jalan sampai ke rumah sakit. Para korban masih perlu waktu untuk pemulihan, tapi kerja keras berbagai pihak demi penyelamatan mereka telah menghangatkan hati banyak orang di seluruh dunia.

Berbagai kesatuan elite militer Thailand ambil bagian dalam upaya penyelamatan di gua. Salah satu personelnya adalah seorang dokter yang dikenal bernama Pak Loharnshoon, tulis BBC. Empat personel SEAL tampak menjadi orang terakhir yang meninggalkan gua pada Selasa malam (10/7/2018).

Misi penyelamatan ini adalah pelajaran berharga bagi semua orang di dunia. Dalam situasi dan kondisi krisis, semua orang harus kompak, saling membantu, solider, optimis dan berani. Tidak ada politisi yang mencari panggung untuk keuntungan pribadinya. Para jurnalis pun tahu diri untuk menjaga privasi para korban dan keluarganya.

(Maskur Abdullah)

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here